Nyoto: Menyusuri Kata di Riak Riau
Oleh Musa Ismail
Bismillah,
Setiap penyair memiliki jalan pengembaraan sendiri. Ada yang menjadikan puisi sebagai ruang menyimpan kenangan, menyuarakan kegelisahan, atau menemukan keindahan dalam peristiwa sederhana. Nyoto merupakan salah seorang sastrawan yang turut mewarnai perjalanan sastra Indonesia dari Riau. Meski namanya belum sepopuler sejumlah sastrawan besar di tanah Melayu, jejak kreativitasnya menjadi bagian dari mozaik kesusastraan Riau yang patut dikenang.
Nyoto lahir pada 10 Oktober 1968 di Citaman Jernih, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara. Ia berasal dari keluarga berlatar belakang etnis Tionghoa. Perjalanan hidupnya memperlihatkan bahwa sastra merupakan ruang terbuka bagi siapa saja, tanpa dibatasi asal-usul, etnis, maupun lingkungan sosial. Dalam dunia kepengarangan, yang utama bukanlah dari mana seseorang berasal, melainkan bagaimana pengalaman hidup diolah menjadi karya yang bermakna.
Ketertarikan Nyoto terhadap dunia tulis-menulis tumbuh sejak usia muda. Ia mulai menulis sekitar 1982, ketika masih berusia belasan tahun. Pada masa remaja, menulis menjadi bentangan jalan untuk mengenali diri, memahami lingkungan, dan mengungkapkan berbagai hal yang sulit disampaikan melalui percakapan sehari-hari. Di sisi lain, rupanya Nyoto pernah bercita-cita menjadi dokter. Namun, keterbatasan biaya membuat cita-cita tersebut tidak terwujud. Perjalanan hidup memang tidak selalu sejalan dengan rencana. Nyoto bagai berdiri di persimpangan dan dia harus memilih. Ada kalanya, keadaan menghadirkan persimpangan yang mengharuskan seseorang memilih jalan berbeda. Akan tetapi, keterbatasan tidak semestinya mematikan harapan dan kreativitas. Bagi seorang penulis, pengalaman hidup justru dapat menjadi sumber perenungan yang memperkaya pandangan terhadap dunia.
Perenungan tersebut melahirkan karya sastra. Sastra menjadi ruang untuk merawat harapan. Melalui kata-kata, Nyoto dapat menafsirkan kembali pengalaman, menyusun kegelisahan, dan menemukan kemungkinan baru. Ketekunan Nyoto menulis sejak muda menjadi bagian penting dari perjalanan kreativitasnya, baik secara antologi puisi pribadi maupun antologi bersama.
Antologi puisi memiliki arti tersendiri bagi seorang penyair seperti Nyoto. Di dalamnya, karya-karya yang lahir dari ruang kreativitas pribadi bertemu dengan pengalaman dan pemikiran penyair lain. Setiap penyair membawa karakter, kegelisahan, dan cara pengucapan yang berbeda. Pertemuan tersebut memperkaya khazanah sastra sekaligus memperlihatkan keberagaman suara dalam satu lingkungan kebudayaan.
Meskipun informasi mengenai judul-judul puisi Nyoto masih terbatas, keberadaannya dalam antologi penting dicatat. Dokumentasi karya merupakan upaya merawat ingatan sastra agar perjalanan seorang penyair dapat dipelajari oleh generasi berikutnya.
Nama Nyoto tercatat dalam Lima Wajah: Antologi Puisi Lima Orang Penyair (Unri Press, 2004). Antologi ini mempertemukan karya lima penyair, yaitu Husnu Abadi, Erwin Hartono, Nofiandri, Nyoto, dan Syafruddin Saleh. Kehadirannya dalam buku tersebut menjadi penanda keterlibatannya dalam kehidupan sastra Indonesia di Riau. Selain itu, beberapa karya sastra Nyoto yang lain di antaranya cerpen Kurap (dimuat dalam catatan karya sastra pilihan Riau Pos), cerpen Jenazah Ayah (termuat dalam antologi Jenazah Ayah, Yayasan Sagang, 2007), cerpen Muntik (termuat dalam antologi Kolase Hujan, Yayasan Sagang, 2009), dan antologi puisi Burung-Burung Kertas.
Riau memiliki perjalanan kesusastraan yang Panjang. Dalam bentangan perjalanan tersebut, Nyoto turut memperlihatkan keberagaman latar belakang para penulis Riau. Sastra bukanlah ruang yang tertutup oleh satu identitas budaya. Perjumpaan berbagai masyarakat, pengalaman, dan tradisi memungkinkan lahirnya karya yang memperkaya khazanah sastra Indonesia. Ketekunan menulis sejak muda menjadi salah satu bekal penting dalam perjalanan kepengarangan Nyoto.
Nyoto merupakan bagian dari perjalanan sastra kita. Kehadirannya dalam Lima Wajah dan karya yang lain menjadi jejak tertulis yang dapat digunakan untuk menelusuri lebih jauh perjalanan kepenyairannya. Penelitian, pengumpulan naskah, wawancara, dan pengarsipan masih diperlukan agar gambaran mengenai kehidupan serta karakteristik karya-karyanya menjadi lebih utuh. Bagi generasi muda, perjalanan Nyoto dapat menjadi pengingat bahwa kreativitas tidak harus menunggu kehidupan yang sempurna. Menulis dapat dimulai dari hal sederhana: mengamati lingkungan, mencatat pengalaman, menyimak percakapan, dan merawat kepekaan terhadap kehidupan. Dari kebiasaan kecil itulah, perjalanan kepengarangan dapat tumbuh.
Nyoto, dengan perjalanan kreativitasnya, mengingatkan kita bahwa setiap penyair memiliki riak dan arus pengembaraan sendiri. Tidak semua perjalanan harus berakhir dengan kemasyhuran. Ada nilai yang lebih panjang usianya, yakni ketekunan merawat kata dan kesediaan meninggalkan jejak pemikiran bagi kehidupan. Dalam bentangan sastra Riau, jejak Nyoto layak ditelusuri kembali agar suara yang pernah tumbuh tidak hilang ditelan waktu dan kekayaan sastra Melayu terus menemukan wajah-wajah baru.
Alhamdulillah.
Bengkalis, Jumat,20 Rabiul Akhir 1448 H / 02 Oktober 2026
—-
Daftar Rujukan
Balai Bahasa Provinsi Riau. 2011. Ensiklopedi Sastra Riau. Pekanbaru: Balai Bahasa Provinsi Riau, Kementerian Pendidikan Nasional.
Abadi, Husnu, Erwin Hartono, Nofiandri, Nyoto, dan Syafruddin Saleh. 2004. Lima Wajah: Antologi Puisi Lima Orang Penyair. Pekanbaru: Unri Press.
Angraini, Riva. 2018–2019. Sastrawan-Sastrawan Melayu Riau. Tugas Budaya Melayu Riau, SMK Negeri 1 Pasir Penyu.