PENTINGNYA KESADARAN TERHADAP BAHASA DAERAH
Seketika saya terenyuh, saat membaca berita tentang 10 Bahasa Daerah yang Terancam Punah. Akan terjadi penurunan nilai bagi Indonesia jika bahasa-bahasa tersebut suatu saat benar-benar punah, sebab bangsa ini terlanjur dikenal oleh keanekaragaman, budaya, dan adat-istiadatnya. Mungkin sebagian dari kita sudah tau bahkan memahami penyebab dari ancaman ini, selain karena migrasi masyarakat juga disebabkan oleh tidak adanya lagi penutur bahasa tersebut, perkawinan beda etnis, dan banyak faktor lainnya.
Saya sempat membayangkan, di balik keberhasilan Indonesia di tahun emasnya yang digadang-gadang jatuh pada 2045 mendatang, ada satu minus yang sangat besar yaitu kepunahan bahasa daerahnya yang menjadi bagian dari aset bangsa. Perlu diingat bahwa hal itu tidak menutup kemungkinan untuk terjadi, pada tahun 1950 saja lebih dari 230 bahasa daerah telah punah di Indonesia. Maka kita bisa bayangkan saat ini, migrasi masyarakat semakin signifikan, begitu pun faktor-faktor lain yang menyebabkan ancaman tadi.
Bukan tidak ada upaya, rasanya gerakan pelestarian bahasa masih menggeliat sampai hari ini, namun sayang dirasa masih kurang efektif untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya bahasa. Gerakan-gerakan tersebut hanya terkesan protokoler dan sebagai bentuk formalitas saja, belum sampai pada titik penyadaran kolektifitas. Seperti pada momen Hari Bahasa Ibu Internasional yang rutin diperingati setiap tanggal 21 Februari, pada momen ini banyak sekali pihak yang turut memperingati di setiap tahunnya dengan menggelar suatu event atau perlombaan misalnya, namun hanya sampai di situ saja, setelah tanggal 21 Februari berlalu semuanya pun selesai, tidak ada efek domino yang benar-benar tertanam. Maka memperingati pentingnya sebuah bahasa dalam setahun sekali sangatlah tidak cukup.
Terutama bagi pegiat literasi, penting rasanya sebuah komitmen terhadap bahasa daerah ini dibangun baik secara individu maupun komunitas. Seperti yang terus konsisten mempertahankan bahasa daerahnya melalui gerakan sastra, di Jawa Barat misalnya, saya menilai bahasa Sunda hari ini masih dalam posisi yang baik-baik saja, di samping masyarakatnya yang tetap menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa sehari-hari, ditambah lagi banyaknya pelestari bahasa Sunda, baik lewat karya sastra maupun gerakan kesenian. Sampai hari ini masih banyak sastrawan Sunda yang tetap konsisten di bidangnya.
Selain pegiat literasi, para budayawan dan seniman pun dirasa harus mengambil andil dalam hal ini. Sudah saatnya bahasa-bahasa daerah menyentuh berbagai lini, bagaimana pun caranya. Tanpa kita sadari hal-hal yang sifatnya dianggap kecil justru lebih penting, seperti menyelipkan suatu kata berbahasa daerah dalam suatu forum, misalnya mengucapkan salam dalam bahasa daerah tersebut. Sebetulnya hal-hal demikianlah yang menjadi gerakan nyata dalam pelestarian bahasa daerah.
Selain itu, pribadi kita sebagai pewaris dan pemilik sah bahasa daerah juga sangat dituntut untuk terus melestarikannya. Minimal dengan tetap menggunakan bahasa daerah dalam keseharian, hal itu akan sangat berpengaruh terhadap lestarinya sebuah bahasa. Sebab bahasa merupakan identitas terpenting sebuah bangsa juga sebagai ciri sebuah bangsa yang besar.
Cevi Whiesa Manunggaling Hurip lahir dan tinggal di Kota Tasikmalaya. Menulis puisi, cerpen, essai, naskah drama, dan skenario film. Tulisannya telah dimuat di berbagai media online, antologi puisi pertamanya berjudul Setia Ialah Farhatun terbit pada tahun 2020 juga tergabung dalam beberapa antologi bersama. Selain menulis, ia aktif sebagai dalang wayang golek, penyiar radio, mengajar kesenian, dan mengurus sanggar seni. Whatsapp: 085875687313