Mendampingi Anak Berliterasi Digital, Seberapa Mampu Kita?
Mengeluhkan anak-anak kita bermain gawai setiap hari adalah hal begitu akrab di telinga kita saat ini. Anak saya begini, anak saya begitu, bahkan tak jarang orang tua yang tak peduli lagi kapan anak memegang gawai.
Namun, mirisnya tingginya angka penggunaan gawai oleh anak di Riau ini tidak berdampak pada perbaikan angka literasi digital di Riau sendiri.
Baru-baru ini Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bekerjasama dengan Katadata Insight Center (KIC) merilis data mengejutkan tentang Indeks Literasi Digital Indonesia. Tercatat sepanjang tahun 2021, Provinsi Riau berada di posisi 33 dari 34 provinsi yang ada. Indeks Literasi Digital untuk Provinsi Riau hanya sebesar 3,35.
Angka ini lebih rendah dibandingkan indeks rata-rata nasional yang mencapai angka 3,49. Secara nasional Riau berada di posisi nomor dua paling bawah, sedangkan di Pulau Sumatra, Provinsi Riau berada di posisi paling bawah.
Artinya apa? Data dari Kemkominfo di atas menunjukkan bahwa penggunaan gawai di tangan anak-anak kita masyarakat Riau saat ini, lebih banyak pemanfataannya untuk hal-hal yang negatif ketimbang berliterasi digital secara positif.
Ketika Anak Kita Gagal Berliterasi Digital
Belum lama ini dalam sebuah tayangan berita video viral di akun Instagram Tribunnews.com, dipublikasikan sebuah berita tentang anak-anak usia SD yang bermain-main di tengah Jembatan Siak IV dalam kondisi lalu lintas yang padat dan ramai. Aksi ini konon mengikuti konten viral anak-anak di aplikasi TikTok yang melakukan hal serupa dan berujung dengan maut.
Sebuah fakta nyata yang menunjukkan kegagalan orang tua dalam memberikan pendampingan literasi digital kepada anak, atau bahkan memang tanpa pendampingan sama sekali.
Orang tua mungkin akan mengeluh, bagaimana bisa melakukan pendampingan teknologi kepada anak-anak, sedangkan orang tua sendiri merasa dirinya kurang dalam hal tersebut, bahkan merasa anaknya lebih memahami.
Di sinilah tantangan untuk orang tua yang tak boleh berhenti belajar. Mengasuh adalah belajar. Orang tua tak harus bisa bermain TikTok untuk bisa mengajarkan hal-hal yang benar kepada anaknya untuk bermain TikTok, cukup dengan membuat aturan yang disepakati. Walaupun jika orang tua menguasainya, ia akan lebih mudah mengarahkan anak-anak.
Namun, penting dicatat oleh siapapun. Hakikat dari kehadiran teknologi untuk memudahkan. Seperti ungkapan seorang Jacques Ellil, ia mengatakan bahwa teknologi adalah keseluruhan dari metode yang secara rasional mengarahkan pada efisiensi dalam setiap kegiatan manusia.
Jadi, kehadiran apapun jenis teknologi saat ini, setiap kita perlu mengambil manfaatnya. Orang tua bisa mengambil manfaat teknologi untuk perkembangan anak. Anak pun bisa belajar banyak hal dari teknologi. Orang tua perlu jeli melihat, apakah kehadiran teknologi ini berdampak baik untuk anak-anak atau sebaliknya.
Kesalahan orang tua adalah tidak peduli, bahkan membiarkan dampak buruk itu terjadi begitu saja pada anak-anak. Orang tua baru akan mengeluh jika melihat dampak kesehatan yang terjadi, tetapi dampak moral seringkali diabaikan.
Seberapa Siap Kita Mendampingi Anak-Anak?
Siap tidak siap anak-anak kita akan menghadapi literasi digital yang terus berkembang. Jika secara individu kita masih gagal, lalu bagaimana dengan anak-anak kita, akankah juga kita biarkan begitu saja mendapatkan dampak buruk adanya literasi digital?
Paling tidak, orang tua perlu melakukan beberapa hal kepada anaknya, apa saja?
Menguatkan Literasi Baca Tulis
Jika anak memiliki kemampuan membaca yang baik, ia akan mengerti banyak hal terhadap apa yang ia lihat dan ia coba. Ajarkan anak memahami setiap teks bacaan dengan baik, maknanya dan manfaatnya. Cara ini akan membuat anak-anak lebih arif dalam bertindak dan mengambil keputusan. Sebab kita tidak bisa 24 jam mendampingi anak kita, maka bekal ilmu dan pemahamanlah yang bisa kita tinggalkan.
Membuat Aturan
Aturan akan membuat anak-anak bisa bersikap proporsional dan tidak berlebihan. Aturan ini yang dapat mencegah anak dari ketergantungan. Sepakati aturan secara bersama dan buatlah konsekuensinya jika ada pelanggaran aturan. Buat juga reward atas tantangan keberhasilan yang dicapai anak dari penggunaan perangkat digital.
Peduli dengan Kondisi
Peduli adalah hal penting yang harus kita bangun. Ketika kita tak lagi peduli dengan kondisi anak, maka pada kondisi itulah anak-anak bisa mengambil keputusan bebas sesuai dengan apa yang ia pahami. Di sinilah sering terjadi hal-hal buruk, sebab tak ada lagi arahan dan kepedulian dari orang tua. Termasuk pada pemanfaatan gawai. Ketika orang tua tak lagi peduli, maka anak bisa saja melakukan hal-hal buruk sesuai yang ia pahami.
Seberapa siap kita mendampingi anak dalam berliterasi digital, tentu saja terpulang dari bagaimana upaya yang kita lakukan. Di masa depan anak-anak akan semakin dekat berinteraksi dengan teknologi, maka sejak sekarang mempelajarinya adalah sebuah kondisi yang penting dilakukan.
Nafi’ah al-Ma’rab, Ketua Deputi Kajian Perempuan Anak dan Keluarga, RKI Riau.