Pemindahan Idiom Sejarah ke Pola Kata-Kata yang Unik, “Hindia, Sebentang Peta Kumal”: Catatan Joni Hendri

Kalau kita berhenti mengklasifikasikan puisi berdasarkan isi dan temanya, dan mulai menanyakan jenis wacananya; kalau kita berhenti menguraikan puisi dalam bentuk prosa dan mulai mempelajari “makna” puisi dari keseluruhan strukturnya yang kompleks, berarti kita mulai berhadapan dengan inti struktur puitis: citra, metafor, simbol dan mitos. (Rene Wellek & Austin Warren).”

Sejarah adalah masa lalu yang harus dibicarakan sebagai bahan untuk menuju masa depan. Dari sejarahlah manusia tahu asal usulnya. Sejarah dalam puisi lebih mengacu kepada evolusi bentuk dan isi dari kata-kata yang disusun oleh penyair, menjadi catatan atau gambaran peristiwa sejarah dari eksplorasi sang penyair. Menggabungkan unsur-unsur estetik atau musik dan lukisan, serta membedakan dengan filsafat serta ilmu pengetahuan. Kemudian berbicara peta, tentu kita berbicara tempat tinggal atau geografis dengan tujuan-tujuan yang akan dilalui oleh pejalan sejarah.

Dalam Kredo Puisi Sutardji Calzoum Bachri, “Kata-kata harus bebas dari penjajahan pengertian, dari beban idea. Kata-kata harus bebas menentukan dirinya sendiri.” Artinya, mesti kita pahami dalam kerangka berbagai makna, namun puisi akan menenukan pemaknaan yang begitu lebar dan luas. Bukan berati tidak bermakna.

Maka kata demi kata pada kumpulan puisi “Hindia, Sebentang Peta Kumal” karya Boy Riza Utama yang berisi 61 judul. Kita akan menemukan tempat-tempat yang selama ini mungkin pernah kita jejaki. Namun kita tak menemukan peta sejarahnya. Sesuai dengan pemaknaan seseorang yang membaca peta kumal tersebut. Walaupun terkadang terombang-ambing dalam mengurai sejarah, tapi setidaknya “Hindia, Sebentang Peta Kumal,” telah memberi ruang yang tidak sempit dalam memaknai sejarah walaupun padat dalam menguraikan persitistiwa.

Peserta Bincang Buku “Hindia Sebentang Peta Kumal”

Boy lahir di Bukit Tinggi, Sumatra Barat dan memulai remajanya di Pekanbaru sesuai dengan sikapnya pada pengantar buku. “Saya lahir di Bukit Tinggi, tetapi memulai masa remaja di Pekanbaru. Dua kota ini jelas punya perbedaan budaya: bahasa, adat-istiadat, dan tidak-tanduk serta karakteristik masyarakatnya. Buat saya, itu menjadi “asupan” yang baik buat menyair,” (HSPK hal III).

Dua tempat itu terlukis dalam peta kumal yang ia ramu menjadi serangkain kata beserta bahasa yang unik dari bahan-bahan sejarah yang kusut dari dua tempat tersebut. Tidak hanya dua tempat tersebut, Boy juga membahas sejarah, tempat di mana ia kunjungi. Atau sejarah yang ia baca pada satu tempat tertentu.

Tentu saja Boy membawa kita menemui tempat-tempat sejarah yang kita lupa membacanya. Aroma sejarah yang cukup kental dalam puisi-puisi Boy. Mulai dari narasi Padri, Pacu Jalur, Siak sampai kepada Kolonialisme Belanda, tidak hanya pengguna diksi, potongan cerita dan tokoh-tokoh juga hadir dalam beberapa puisi. Namun kita harus menggaris bawahi, bahwa puisi bukanlah fakta sejarah. Melainkan sebuah kesadaran pembaca bahwa pentingnya menafsir kembali sesuai pemahaman masing-masing. Maka kumpulan puisi HSPK berbau sejarah. Hanya sekedar bau, yang harus kita kembangkan. Bau sejarah itu bukan sekedar sesuatu yang dirancang, namun hal yang dirasakan sesuai apa yang tumbuh di dalam imajinasi, perasaan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagaimana persitiwa-peristiwa dan tokoh-tokoh yang dialami dalam kumpulan puisi HSPK itu. Kita sebagai pembaca ikut merasakan atau berempati di ruang puisi tersebut.

Puisi yang berbicara atau menyuarakan sejarah sudah hadir sejak lama. Misalnya zaman Yunani Kuno awalnya puisi berbentuk lisan, seperti epos yang menggambarkan kisah-kisah heroik dan persitiwa sejarah. Namun sejarah dan puisi mempunyai rumah yang berbeda. Antara rumah fakta dan rumah fiksi. Rumah tersebut harus disesuaikan dengan kebiasaan masing-masing pembaca. Sejarah sebagai objek, sedangkan puisi memberi tanda yang tidak dapat diduga oleh sistem di luar puisi.

Pada puisi-puisi yang berjudul: “Prolog, Pulang ke Tengah Sawah, Histeria Perang Panjang, Dalam Loods, Turun di Luak Anyir, Sajak kepada Seorang Orang Tua yang Bertemu Syafruddin Prawiranegara, Onderdistik Tujuh, Menziarahi Tiku, Menjelang Sampai ke Agam, Mendiangin Mandi Api, Ekspatriat di Palolok, Sipisang, Di Air Manis, Rumah 77B Gulai Bancah, Di Lubuk Rangkayo, Hujan di Steba, Limpapeh dengan Fau, Ia Terus Meniup Pupuik Padi, Pitanggang Penurut Hati, Di Tepi Purus, Melintas Selatan Batu Sangkar, Kubue Kembar di Onrust, Pada Hari Kematian Bustami Tuanku Basa, dan Tentang Seekor Harimau yang Terus Mengasah Kukunya di Dalam Perutku.”

Dari puisi-puisi tersebut kita bisa meneroka bagaimana Boy membawa kita untuk membaca sejarah Bukit Tinggi dan sekitarnya. Baik itu peristiwa-peristiwa, tempat-tempat, serta tokoh-tokoh sejarah yang menjadi simbol yang unik. Boy membawa kita untuk mengurai masa lalu dengan menyeret kita untuk melihat kusutnya sejarah pada hari ini. Boy merekam sejarahnya sejak kecil, daerah tempat ia dilahirkan. Agaknya segala ingatan yang singgah dalam kepalanya ia ceritakan melalui puisi.

Cuplikan salah satu puisi HSPK yang berjudul “Prolog” halaman 1:
Di gelanggang itu, kenangan
Kuda-kuda bahasa, pedati sejarah
Yang dipertuan waktu
Bergerak ke selatan, kata-kata
berasal dari kubur orang merah
Tumbuh sepanjang jalan

Puisi pertama berjudul “Prolog” ini sebagai pembuka yang membawa kita untuk membaca tempat pacu kuda tertua di Sumatra Barat, yaitu Bukit Ambacang. Lapangan pacu kuda ini sudah ada sejak tahun 1889 zaman kolonial Belanda. Puisi pembuka itu membuat kita untuk membaca sejarah serta kerumunan orang-orang yang menyaksikan dan menyemangati kuda idola mereka serta memberi isyarat bahwa di sana juga banyak makam etnis Tionghoa. Pada kutipan puisi itu terdapat kata “orang merah” warna merah adalah warna kebesaran orang Tionghoa. Boy tidak hanya menyampaikan keindahan bahasa semata, tetapi ia memanggil kembali jejak persitiwa masa lalu. Barangkali sebagai arsip kultural yang merekam momen penting dalam sejarah.

Di puisi-puisi yang lain: “Pacu Jalur Kuantan, Logas, Ombak Tiris di Bengkalis, Benteng Huis Van Behauring Bengkalis, Depan Istana Siak, Toponimi Pekanbaru, Menuju Rumah Singgah Tuan Kadi 2015, Di Bandar Serai, Lokomotif C3322 Pekan Baroe Death Railway, Rumah Haven Meester Kampung Dalam, dan Toponimi Riau.” Kita akan mencium aroma sejarah Pekanbaru dan sekitarnya yang cukup kental pada puisi-puisi tersebut.Narasi-narasi yang cukup menguatkan sejarah. Boy memperlihatkan tapak tempat ia dewasa di Pekanbaru setelah meninggal tanah kelahirannya.

Salah satu puisi HSPK yang mengangkat sejarah Pekanbaru, “Lokomotif C3322, Pakan Baroe Death Railway” halaman 54:
Tenang dalam angin Sebuah lokomotif di Simpang Tiga Berdiri memarkir waktu
Sedang aku menunggu Muntahan mayat romusha Dari tubuhnya

Tentu sejarah yang Boy tulis, tidak seutuhnya ditulis hanya sebagai pengutipan sebuah persitiwa yang dipakai sesuai kebutuhan puisi. Tapi menuntut kita untuk menafsirkan kembali bagaimana peristiwa pedih romusha yang ada sekitar kita. Apakah kita hanya diam saja atau “tenang dalam angin,” tanpa mengatuhui sejarah. Membiarkan sejarah itu “memarkir” setidaknya puisi ini memberi wacana kegelisan dengan bahasa “metonimia” sebagai penyampain dengan pola abstraksi (seperti wacana ilmiah).

Boy juga mencoba membangkitkan kesadaran kolektif pembaca, untuk memberi kabar atau mengingatkan kembali kepada generasi hari ini akan pentingnya membaca kembali sejarah. Barangkali untuk menumbuhkan cinta tanah kelahiran dan kota-kota yang pernah ia dijejaki.

Puisi yang mengangkat sejarah bukan hal baru. Misalnya kita membaca penyair terkemuka dunia, Mahmoud Darwish puisinya juga menyurakan sejarah penderitaan Palestina dan identitas bangsa. Tergambar pada salah satu puisinya “Aku Milik Tempat Itu” yang menggambarkan perlawan asal-usul atau sejarah awal palestina. Sebelum diduduki Israel.

Goenawan Muhammad nama yang tidak asing lagi di dunia sastra. Begitu juga dalam puisinya juga menyuarakan sejarah. Salah satu puisinya “Di Maliboro” yang menciptakan ruang sejarah sebagai misteri, ketidakjelasan pada persitiwa 1965. Kerumitan hubungan manusia di Maliboro sebagai tempat wisata terkemuka di Yogyakarta.

Pada puisi Taufik Ikram Jamil juga menemukan puisi yang berangkat dari sejarah salah satu puisinya “Gurindam Bukit Siguntang” yang menggambarkan nostalgia dan refleksi sejarah atas kebesaran Melayu bermula. Puisi yang mengisahkan masa lalu yang megah, kejayaan Bukit Siguntang. Mulai dari huruf Palawa hingga sungai Musi.

Begitu juga pada puisi-puisi Marhalim Zaini yang juga mengangkat sejarah dengan puisi-puisi panjangnya. Salah satu puisi berjudul “Hikayat Orang Laut” yang menceritakan sejarah orang laut yang kerap disebut sebagai lanun. Mereka yang bermukim di pulau-pulau dan muara. Terutama di muara sungai Kepulauan Riau-Lingga. Puisi yang menyuarakan kekalahan orang laut terhadap peradaban oto-kritik atas orang Melayu sendiri.

Geografi Dialek

Geografi dialek mempelajari bahasa lebih terfokus pada dialek regional. Dialek regional lebih populer disebut dengan geografi dialek. Faktor geografis dapat digunakan sebagai salah satu dasar untuk menentukan dialek atau bahasa. Semakin dekat letak suatu daerah dengan daerah lain, maka semakin sedikit pula perbedaan yang terdapat di dalam bahasanya dan semakin jauh letak suatu daerah dengan daerah lainnya, maka semakin banyak pula perbedaan yang dimiliki oleh bahasa tersebut.

Misalnya pada salah satu puisi yang berjudul “Ia Terus Meniup Pupuik Padi” (hal-22) terdapat dialek atau bahasa “Pupuik Padi” yang artinya sebuah alat musik tiup yang bersal dari bahasa Sumatra Barat. Dan juga terdapat di beberapa puisi yang lain. Sebuah bahasa yang mungkin masih melekat pada diri Boy. Sebagai faktor geografi diaelek yang ia bawakan dalam puisi. Walaupun sudah tinggal di Pekanbaru.

Geografi dialek merupakan salah satu cabang dialektologi yang mempelajari terkait variasi bahasa. Keraf (1996:143) mengungkapkan bahwa geografi dialek adalah bagian lingustik historis yang mempelajari tentang variasi bahasa berdasarkan perbedaan lokal dalam suatu wilayah bahasa. Sementara itu tujuan dari geografi dialek ialah guna mengungkapkan fakta terkait ciri-ciri lungistik yang sekarang tercatat sebagai ciri-ciri dialek.
Oleh karena itu, dapat ditarik kesimpulan bawah Boy menuliskan beberapa puisi di dalam kumpulan puisi HSPK menggunakan dialek tersebut sebagai variasi bahasa, agar memudahkan pembaca untuk mengetahui seluk beluk atau asal mula ia lahir.

Penutup

Apa yang tertuang di dalam kumpulan puisi HSPK “apakah sebagai daur ulang sejarah?” sebagai isu klise dalam pemikiran Boy. Atau sebagai pertengkarannya terhadap sejarah dan puisi. Sebagaimana pertengkaran “filsafat dan puisi” yang sudah dimulai oleh Plato. Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin masih berkeliaran dalam kepala.

Paling intinya dari pembahasan HSPK adalah kumpulan puisi ini tidak lahir begitu saja, dengan khayalan-khayalan. Tidak memasak nasi goreng bagi orang yang belum pandai memasak. Tapi Boy telah menemukan dirinya dari idiom-idiom sejarah kemudian ia bentuk dengan kata-kata yang unik. Ia bongkar kembali sejarah itu, kemudian dipindahkan ke ruang lain yaitu puisi. Tanpa menggunakan bantuan instan resep makanan yang didapatkan dengan berkonsultasi dengan robot AI semacam ChatGPT. Tidak peduli bagaimana nanti hasinya, apa enak di mulut dan nyaman di perut yang peting nasi goreng jadi.

Mengutip ungkapan Zen Hae “Boy seorang penunggang kuda yang tahu kapan mengendorkan kapan pula menarik tali kekang.” Boy telah menunggang kuda yang bernama Hindia Sebentang Peta Kumal melewati jalan sejarah. Menghabiskan masa kecilnya, hingga dewasa dan akhirnya merantau.

Mengakhiri tulisan ini, tentu saya akan menghakimi bahwa banyak pembacaan yang luput untuk saya bicarakan. Banyak karya penyair yang lain yang tak saya sebutkan atau saya kesampingkan sebagai bahan bandingan. Bukan berarti tidak menarik, tidak penting. Tapi saya mencoba mempersingkat eksperimen dari ulasan kumpulan puisi HSPK.

Disampaikan pada Bincang Sastra 3 di Suku Seni Riau Jumat, 19 September 2025.

Comments (0)
Add Comment