Pengantar Pendek – Apresiasi Kumpulan Cerpen Cerobong Tua Terus Mendera Karya Raudal Tanjung Banua – Untuk Cakak Yang Lebih Pajang: oleh Olyrinson

Tulisan singkat ini saya mulai dari tulisan Raudal sendiri.
“… sebelum benar-benar lupa, saya sempat menggabungkannya dengan sejumlah cerpen yang saya anggap memiliki kesamaan, yakni sama-sama khas ‘majala’ atau ‘jurnal’, dengan watak ‘berkisah’ dan formatnya relatif panjang.

Sihir Cerpen (format long story) Masa lalu

Di zaman kita kini, mungkin kita sudah agak jarang membaca kutipan cerpen yang seperti ini :
Marno mulai memasang rokok lalu pergi berdiri di dekat jendela. Langit bersih malam itu, ketjuali di sekitar bulan. Beberapa awan menggerombol di sekeliling bulan, hingga tjahaja bulan djadi suram karenanja. Dilongokkanja kepalanja kebawah dan satu belantara pentjakar langit tertidur di bawahnja. Sinar bulan jang lembut itu membuat seakan-akan bangunan-bangunan itu tertidur dalam kedinginan. Rasa senjap dan kosong tiba-tiba terasa merangkak ke-dalam tubuhnja (seribu kunang-kunang di Manhattan. Majalah Horison 1966-1967)

Atau Cuplikan cerpen Wildam Yatim “Jalur membenam”- Penerbit Litera 1974.
Ada bunyi genta kerbau sedang memamah dan suara bercakap. Sayup-sayup terdengar orang bersenandung lagu pesisir. Sekejap ia ingat sedang berbaring di kamarnya di Bandung, dan jika nanti ia meraba-raba akan sentuh tubuh isterinya, dan anak-anaknya tidur di dipan sendiri dan ia harus bangkit memperbaiki selimut mereka. Tapi kemudian ingat lagi, tak ada bunyi seperti itu di bandung. Rupanya kini ia sedang dalam perjalanan yang panjang, menggelisahkan, dan menyakitkan. Dalam kesuraman kini ia memandang isi kamar. Pakaiannya yang kusam bergelantungan di paku, koper-koper yang bersusun dan bau dekil serta apak asap, yang membawanya kepada suasana kampung

Mungkin kita sudah jarang membaca -meminjam istilah Raudal- watak berkisah yang seperti itu. Suatu diksi yang longgar, bebas dan mengalir dengan deras tanpa ada yang menahannya. Dalam ruang panjang yang sedemikian penulis bebas mengeksploitasi diksi, dan kedalaman narasi tanpa takut dihukum oleh batasan karakter atau halaman sebuah koran.

Dalam dunia sastra, cerita pendek terus berkembang, mengikuti perubahan zaman dan budaya. Cerpen koran adalah sebuah keniscayaan. Kita dipaksa untuk ber”pendek ria” tanpa harus kehilangan eksistensi dari cerpen itu sendiri. Maka lahirlah cerpen-cerpen yang “cenderung singkat’ dalam struktur. Terkadang menggunakan alur yang tidak linear, penceritaan yang fragmentaris, dan simbolisme yang dalam, atau didalam-dalamkan.

Kabar baiknya banyaknya muncul cerpen-cerpen yang ringkas (singkat – padat) dengan tema yang lebih kompleks, dan pendekatan baru terhadap realitas, psikologi, serta isu-isu sosial. Cerpen koran menjadi medium yang dinamis untuk mengekspresikan ide-ide segar dan terbarukan. Kabar lainnya sebagian kita menjadi “agak takut’ untuk sedikit mengekploitasi kata sehingga kadang cerpen-cerpen kita menjadi terperangkap dalam ‘penjara’ yang ghaib

Momok Itu Bernama 1000 s/d 3000 Kata

Dengan 3000 atau 5 s/d 6 halaman kuarto penulis cerpen dipaksa untuk memilik diksi yang benar-benar pas, pendek, dan membumi ke inti cerpen itu sendiri. Tidak ada ruang untuk berbasa basi atau memberikan keleluasaan untuk banyak kata sifat dan kata keterangan yang menurut Virginia Woolf adalah pembunuh cerpen. Apa lagi untuk Jargon, metafora yang agak berlebihan, kata klise dan lain sebagainya. Pendeknya kita harus memenuhi 3000 kata – kalau tidak mau disebut singkat– agar nama kita dapat muncul di koran minggu, dan menjadi terkenal sekitar seminggu. Setelah itu? Stres lagi, pusing lagi, menggali gaya penceritaan, struktur, dan tema yang lebih eksperimental lagi dan kompleks, dengan tetap bersahabat dengan momok yang bernama 8000 karakter yang jika tidak hati-hati, seperti kata Maman S Mahayana, kita bisa tergelincir pada tuntutan menulis cerpen hanya ‘sebagai kerja produksi.’.

Raudal, Pengarang Yang Dapat Menginjak Kaki di Dua Gunung

Dari pada Ribut untuk dua soal di atas, sebaiknya kita fokus saja kepada cerpen Raudal. Cerpen Cerobong Tua Terus Mendera, saya baca pertama kali di majalah Horison tahun 2004. Menurut cuplikan puisi saya, 21 tahun bukanlah waktu yang lama, hanya sejauh kata menemukan makna. Ceritanya tetap saya ingat sampai hari di mana saya diberikan lagi buku ini, pada suatu pagi mendung yang nyaris bersalju di tahun 2025. Dulu waktu membacanya pertama kali saya sudah bisa menebak cerpen ini adalah pemenang dari lomba menulis cerpen majalah Horison, suatu ajang paling bergensi yang agak susah dicari lagi tanndingannya hari ini. Cerpen ini panjang. Bayangkan saja untuk majalah horizon dia hampir mengambil 10 halaman. Bandingkan dengan kolom koran yang sangat’mahal’ itu. Seperti kata Raudal, bahwa karena cerpen ini adalah khas majalah, kita dapat bernostagia dengan ‘Cerpen masa lalu” yang saya sebutkan di atas itu.

Bayangkan! Untuk satu aline (dalam cerpen Cerobong Tua Terus Mendera) Raudal nyaris menghabiskan seperlima dari jatah 1000 kata itu. Kata-kata seperti : Suara itu lagi, tepat pukul dua menjelang sore hari, mengaung nyaring dan panjang, lalu berhenti seperti disentakkan. Seketika, seorang buruh penebang tebu terhuyung, susah payah mencari tempat berpegang, kalau perlu, tempat berlindung! Sudah berapa hari ini ia berusaha seperti itu, mencoba tidak menyerah pada dera suara yang pecah ganjil di udara. Bila suara itu bergema pada saat ia bekerja, ia akan berpeganggangan erat-erat ke batang tebu, atau ke tiang-tiang bedeng, sekedar menahan getar tubuh, agar tak jatuh. Bila bergema pagi hari, Ketika ia masih dikali, ia akan berusaha menjaga keseimbangan agar tak oleng ke pusar arus. Dan bila malam hari Ketika ia berbaring di dalam bedeng, di mana suara itu terdengar lebih nyaring dan panjang, susah payah ia menyuruk ke balik selimut, seperti menyurukkan diri dari dari maut.

Satu Alinea ini sudah menghabiskan 128 kata. Dan ini adalah alinea pembuka. Tapi diksinya memukau!!! Lihat juga iramanya. Hal serupa kita temukan juga dalam cerpen “Matinya seorang Guru Mengaji. Cerpen Ke kota, Di Kota, Dia Duduk Di Muka. Cerpen Keluarga Ampuntuan, dan beberapa cerpen lainnya.

Generasi cerpen masa lalu yang mau tidak mau mengikuti cerpen gaya 3000 kata (Dengan berbagai alasan mulai dari ekonomi sampai alasan yang lebih rohani), semisal Hamsat rangkuti, Motinggo Busye, Gerson Poyk, Umar Kayam… Budi Darma… Danarto… (hanya mencontohkan beberapa nama), mereka ini ‘terkesan’ melakoni praktik literer yang menempuh jalan lain dengan gaya lama, bahkan sepertinya ingin menyempal atau mempertahankan tradisi jaman ‘majalah kisah’ dari generasi sebelumnya. Di sinilah posisi Raudal yang saya katakan dapat berpijak di dua gunung. Dengan keterbatasan 3000 kata tadi, Raudal tidak kehilangan eksistensi dari keindahan cerpen dengan ‘gaya lama’ itu. Dengan kata lain, pendek tapi kita seperti membaca cerpen-cerpen dengan gaya cerpen majalah. Lihat saja dalam cerpen Toko Wong yang terbit di koran Kompas minggu tanggal 3 Oktober 2021. Cerpen ini mengikuti gaya ‘cerpen koran’ tapi tidak kehilangan kekuatan narasi panjangnya.

Lihatlah narasinya yang berani :

Bangunan itu masih tegak sebagaimana sejak pertama aku melihatnya. Berdiri tugur di seruas jalan kota kabupaten ujung pulau. Apapun warna langit, ia tetap seperti itu; langit kemarau terik dan teramat biru, langit masih kelabu, atau langit makin mendung, sama saja. Tak ada yang berubah. Meski terkesan menyendiri, tapi ia tak hendak menyurukkan wajah buramnya. Jalan itu sendiri terkesan ditinggalkan dari yang semula adalah pusat geliat kota, kini ibarat sungai di sebelahnya yang arusnya susut pudar-bersama pudarnya cerita tentang buaya-buaya yang menggelepar.

Dalam cerpen Sapu Tangan Dari Kayeli, saya seperti membaca sebuah novel. Cerpen ini singat, tapi dia bisa berbicara sangat anjang seperti novel. Membaca ini kita bisa melompat dalam banyak momen dan pusaran waktu. Raudal tahu benar bahwa ruang untuk cerpennya ini santa terbatas, tapi dia tidak tergesa-gesa, dia dengan sangat sabar membuka pelan-pelan kisah hidup para tokohnya, sehingga dalam satu atau dua halaman, hati kita diharu biru melihat begitu tragis nasib gadis-gadis yang ditipu tentara jepang. Membaca cerpen Raudal yang dalam satu dua halaman ini, sama seperti saya membaca gadis-gadis yang disandera jepang dalam Novel Eka Kurniawan “cantik itu luka” yang di tulis dalam halaman yang lebih panjang. Raudal tahu benar bagaimana bercerita dengan pendek, tanpa kehilangan estetikanya. Sangat hebat menurut saya. Kalau kita membahas lagi cerpen : Kepala Siluman, Ular-Ular Gelondongan, Dan Naga Sisisk Hitam, Ibrahim dari Barus, atau Sri Tanjung-Jaya Prana, Aida Kreaol atau Lebaran Di Laut, tentu tulisan ini menjadi sangat panjang dan sudah lari dari judulnya yaitu “Pengantar Pendek Teman-teman pun jadi malas membacanya karena sudah terbiasa membaca cerpen-cerpen pendek yang 1000 s/d 3000 kata itu.

Jadi akhirnya, karena ‘bacakak’ tidak mungkin seorang diri, saya akhiri tulisan ini dan menunggu tanggapan kawan-kawan membahas ini lebih dalam lewat diskusi terhormat dalam ruang sidang yang sangat ‘sakral’ di ruang Suku Seni ini.

Pekanbaru, 3 Oktober 2025, 15.15

Comments (0)
Add Comment