Pergi Haji
Sebut saja namanya Pak Suryo. Lelaki berusia 60 tahun yang hidup sebatangkara. Setiap harinya ia berjualan bakpao menggunakan sepeda motor butut. Pak Suryo adalah muazin di kampung kami. Hampir 15 tahun ia ditinggalkan istri dan anak-anaknya karena kemiskinan yang melanda. Karena lelah miskin, istrinya bermain serong dengan lelaki lain yang jauh lebih kaya dibanding dirinya. Sama dengan istrinya, anak-anaknya tak tahan dengan kemiskinan. Lelaki selingkuhan ibunya selalu membelanjakan dan memberi apa pun yang mereka minta. Pak Suryo bekerja sangat keras demi membahagiakan keluarga terutama anak-anaknya namun mereka malah memilih meninggalkan Pak Suryo karena tak mau hidup susah. Rumah tangganya tak bisa dipertahankan dan akhirnya gugatan perpisahan dilayangkan.
Semenjak peristiwa itu, Pak Suryo terlihat rajin pergi ke masjid. Ia selalu membersihkan semua ruangan dan lantai masjid. Jika ditanya alasan melakukan semua itu, keinginannya hanyalah merawat masjid agar orang-orang yang beribadah di dalamnya merasa nyaman. Aku sering melihatnya menata sandal para jamaah. Batinku terharu melihat perbuatannya. Seolah tidak tertarik dengan kehidupan dunia karena lebih memilih mengabdikan hidupnya untuk masjid. Karena Pak Suryo, masjid menjadi bersih dan nyaman untuk ibadah. Di sebelah sudut masjid, terdapat satu ruangan seperti kamar tanpa kasur. Hanya ada tikar sebagai alas dan meja kecil di samping tembok. Sering sekali beberapa jamaah menjumpai Pak Suryo menginap di ruangan itu agar ia lebih mudah merawat masjid. Mungkin inilah yang dinamakan darma wisata babak kehidupan. Tuhan memberi ujian kepada pak Suryo agar ia jauh lebih dekat dan selalu bergantung kepada-Nya.
Baca Juga
Pola Fir’aun : Catatan Cak AT
Disidang Konflik PT SSL dengan Warga, Hakim PN Pekanbaru Singgung Bupati Siak Harus Adil
Sore itu, langit terlihat agak kelabu. Desau angin yang berembus membuatku merasakan hawa dingin. Terdengar suara kumandang adzan yang dilantunkan Pak Suryo. Suara adzan yang menurutku sedikit berbeda dari biasanya. Suara Pak Suryo terdengar jauh lebih merdu. Mungkin itu hanya perasaanku saja. Aku menepis pikiranku lalu bergegas menuju masjid melaksanakan sholat Ashar berjamaah. Aku bertemu dengannya saat menata sandal para jamaah.
“Nuhun ya pak, sandalnya sudah ditata dengan baik.”
“Iya sama-sama nak, biar orang-orang tidak kesusahan mencari sandal mereka.”
“Sepertinya bapak terlihat senang saat ini. Ada apa ya?”
“Oh itu, sebentar lagi saya akan pergi haji.”
Ia menyunggingkan senyum lalu pergi, meninggalkanku karena mendengar suara iqamah. Aku masih mencerna kata-kata Pak Suryo dan bergegas memasuki shaf yang masih kosong. Setelah iqamah, imam segera memasuki posisinya untuk memimpin sholat. Imam mengangkat kedua tangan lalu mengucap takbir. Beberapa menit kemudian, imam mengucapkan salam dengan suara lirih pertanda sholat berakhir. Sontak aku melihat para jamaah berkerumun di shaf depan. Aku melangkah mendekati kerumunan itu. Aku tersentak melihat Pak Suryo tergeletak di atas sajadah. Para jamaah mengelilinginya. Salah satu jamaah memeriksa denyut nadi Pak Suryo. Tak disangka, ia sudah tiada. Semua jamaah merasa sedih sekaligus takjub melihat kematian Pak Suryo yang sangat mulia. Aku tidak begitu mengenalnya namun tanpa alasan yang jelas mataku meneteskan air mata menyaksikan hal tersebut. Hatiku bergetar. Perasaanku tak bisa diungkapkan. Membuatku mengerti mengapa Pak Suryo terlihat bahagia dan mengatakan akan pergi haji. Ternyata ia akan menuju rumah-Nya untuk selama-lamanya.
Lusi Hanasari, seorang gadis pemimpi yang memiliki hobi menulis, membaca dan berkhayal. Berdomisili di kota Lamongan, Jawa Timur. Sampai saat ini masih tergabung dalam komunitas menulis anggota COMPETER (Community Pena Terbang) dan Tirastimes.com. Karya penulis juga tergabung dalam beberapa buku antologi puisi diantaranya manusia lilin, diafragma perjalanan malam, dan jarak (penerbit sabana pustaka, 2016). Ia juga masih aktif menjadi author di redaksi IB.Times.id.
Untuk pemuatan karya sastra (Puisi, Cerpen, Pentigraf, Esai, Pantun, Kritik, Resensi, Peristiwa Budaya, dan tulisan sastra lainnya) silakan dikirim melalui surel:
redaksi.tirastimes@gmail.com