Puisi Arab pernah melahirkan seorang penyair asal Libanon yang bernama Iliya Abu Madi. Ia dilahir di Lebanon tahun 1889. Kehidupannya diawali sebagai penjual rokok di warung-warung kota Iskandariah, dan malam hari belajar ilmu Nahu dan ilmu Syaraf. Dia menetap di Iskandariah selama sebelas tahun dan salah satu antologi puisinya berjudul ‘Divan al-Thidhkar al-Madi berbicara tentang tanah air terutama lanskap alam sbagai puisi metafora yang kuta menyampaikan pesan kepada pembaca.
Pada tahun 1912 penyair Abu Madi beremigrasi ke Amerika Serikat (1912) dan berkesempatan menimba ilmu pengetahuan dan berpeluang meneliti kesusastraan. Barat dengan tidak melupakan sastra Arab. Ia telah menghasilkan tiga buah antologi dan yang menonjol adalah “Divan Iliya Abi Mahdi (1918).
Puisi-puisinya tidak hanya berbicara dalam ikatan syair akan tetapi secara bebas telah menyuarakan peristiwa alam untuk menyampaikan nasihat dan sindiran tajam tanpa merasa gentar dan takut. Puisinya dalam antologi kedua Diwan al-Jadawil memiliki keistimewaan dengan menyuarakan rasa kemanusiaan dengan gaya bahasa yang lembut serta didukung imajinasi yang indah. Kita tutrunkan beberapa bait pilihan dari puisinya bertajuk:
Falsafah Hidup
Kawan, apakah yang kaurintihkan
Di lembah deritamu
Bagaimana kau hidup di udara pagi
Mengirimkan kepedihan?
Apabila kau bangkit
Bersama kepedihan?
Di dunia ini
Yang paling pengecut
Adalah orang yang kecewa
Sebelum mencoba
…
Dalam hidup ini
Orang yang paling bijak
Orang yang dilingkari kepedihan
Lalu di memperbaikinya
Puisi Abu Madi meramu panorama margasatwa dan alam sebagai alat untuk menyampaikan nasihatnya kepada pembaca. Kita turunkan beberapa bait puisinya di bawah ini:
Tidakkah kau lihat
Burung-burung itu
Biarpun kebun itu
Bukan miliknya
Ia jadikan tempat bermain
Tempat berteduh
Hasil ciptaan yang ditulis penyair Abu Madi diilhami syair-syair zaman Dinasti Abbasyiah di dunia Arabi dan dikombinasikan dengan pengaruh puisi Khalil Gibran yang terhimpun dalam syair Wihdatul Wujud karya Khalil Gibran. Sebagai pembicaraan yang singkat ini, para kritikus tidak lagi meragukan kepiawaiannya sebagai penyair terkemuka Arabi
Banyak puisinya yang bermutu telah dihasilkan di kota Damaskus. Hal ini menjadikan namanya sejajar dengan penyair Ahmad Syauqi dan penyair Arabi yang lain. Seorang rahib bernama Anastas al-Karmali pernah menyatakan: Tokoh syair Arab yang terkemuka ada empat orang. Di Mesir kita akan mengenal Ahmad Syauqi, di Irak kita mengenal Sidqi al-Zahawi. Kemudian Basyasyarah al-Khuri terdapat di Libanon dan penyair musafir Iliya Abu Madi sudah tentu menjadi jagoannya.”
(Sumber bacaan: Muhammad Hasan Abd al-Ghani, Kaherah, 1962 dan Buchari Lubis, Pujangga Arab, 1982)
Oman, 7 September 2023