Sebuah Momen Hari Keluarga Nasional 29 Juni
Pekanbaru kembali menjadi trending menjadi isu perbincangan di media sosial. Bukan soal flexing pejabat atau tangkap tangan korupsi, belakangan muncul isu baru yang tak kalah menariknya yakni LGBT. Setelah pada Minggu 28 Mei 2023 lalu terjaring puluhan pasangan muda pelaku LGBT di Wisma Yani, Pekanbaru, belakangan masyarakat Pekanbaru dihebohkan dengan ditemukannya grup Whastapp anak SD yang diduga merupakan grup LGBT.
Menanggapi hal tersebut, Pemerintah Kota Pekanbaru sontak bereaksi. Salah satu program yang bakal segera digesa oleh Pemerintah Kota terkait penanganan masalah LGBT tersebut adalah dengan dibahasnya rencana muatan lokal di sekolah-sekolah sebagai upaya pencegahan dan edukasi kepada anak-anak terkait LGBT.
Berdasarkan data dari Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Pekanbaru, sedikitnya pada awal 2023 lalu pelaku LGBT di Pekanbaru telah tercatat sebanyak 3000 orang. Parahnya lagi, dikabarkan ketua LGBT Indonesia adalah orang Riau. Hal tersebut disampaikan oleh Gubernur Riau Syamsuar dalam berita yang dirilis Riau Pos pada 20 November 2022 lalu. Beliau mengaku kesal dan malu dengan informasi bahwa ketua organisasi LGBT tersebut merupakan orang Riau.
Pekanbaru hanya sebagai sample. Masalah LGBT tentu saja menjadi fenomena umum di banyak tempat di Indonesia yang semakin hari semakin dekat dengan lingkungan kita. LGBT sudah begitu dekat dengan kita, maka perlu memandang dan mencegah masalah ini dengan serius. Momen hari keluarga 29 Juni menjadi waktu yang tepat untuk memulainya.
Komunikasi Keluarga dan Pencegahan LGBT
Keluarga merupakan wadah pertama tempat tumbuh kembangnya seorang anak. Clark dan Shidels (1997) dalam bukunya berjudul Psikologi Keluarga menyebutkan, bahwa bukti bahwa komunikasi keluarga telah berjalan secara efektif adalah dengan rendahnya perilaku anak terlibat dalam kenakalan. Dalam konteks ini, komunikasi keluarga menjadi hal yang signifikan kaitannya dengan bentuk keterlibatan anak-anak dengan perilaku LGBT.
Karakteristik komunikasi keluarga yang efektif mencakup dua aspek, yakni pertama komunikasi tersebut merupakan bentuk kontrol yang mempertegas otoritas orang tua terhadap anak dalam perspektif mengontrol perilaku anak.
Aspek kedua adalah bagaimana komunikasi keluarga memberikan dukungan terhadap upaya kebaikan, membesarkan hati, pemberian bantuan, dan upaya kerjasama dari pihak orang tua terhadap anak.
Dua hal di atas merupakan bentuk komunikasi keluarga yang bisa diintensifkan oleh orang tua untuk memastikan anak-anak bisa terbebas dari masalah sosial dan kesehatan, LGBT.
Orang tua perlu membangun komunikasi dengan anak. Bertanya kegiatan, aktivitas di dunia maya, pertemanan, akses media sosial, jaringan, dan hal-hal apa saja yang menjadi rutinitas anak.
Berikan edukasi terkait bahaya penyimpangan perilaku LGBT melalui pola komunikasi keluarga yang efektif. Tidak adanya komunikasi yang ‘segera’ dari orang tua alias membiarkan dan menganggap remeh akan berdampak pada kasus jangka panjang dan sulit dihentikan.
Keterbukaan dan Empati dalam Komunikasi Keluarga
Kualitas komunikasi keluarga dapat diukur dengan beberapa indikator penting yakni, keterbukaan, empati, sikap mendukung, kesetaraan, dan sikap positif.
Dalam perspektif ini jika kita analogikan dengan pencegahan LGBT dalam keluarga, orang tua bisa memulai komunikasi dengan anak berdasarkan indikator tersebut.
Keterbukaan adalah langkah pertama orang tua dalam menggali masalah pada anak. Apa yang menjadi masalah, apa yang menjadi pemicu sehingga terjadi kecenderungan pada masalah tersebut. Jika keterbukaan sudah terbangun, maka langsung komunikasi selanjutnya bisa lebih mudah.
Setelah terjalin keterbukaan, maka orang tua bisa melakukan tahapan berikutnya berupa empati. Sebelum mengambil sikap positif sebagai solusi, maka orang tua perlu menunjukkan sikap empati lebih dulu. Anak mungkin saja dalam kondisi yang serba salah, dalam kondisi tertekan sehingga akhirnya terlibat dalam pergaulan yang negatif.
Pada tahapan ini jangan menggurui anak secara dominan, lakukan secara empati. Selanjutnya setelah anak merasa nyaman dengan sikap empati, maka orang tua menunjukkan sikap dukungan agar anak bisa terbebas dari masalah yang dihadapinya. Tunjukkan keseteraan bahwa orang tua juga sama sulitnya, sama menghadapi masalah yang buruk sehingga anak merasa senasib untuk bersama-sama mencari solusi.
Langkah terakhir adalah mengambil sikap positif apa yang konkret untuk membantu masalah anak. Keluar dari satu kelompok pertemanan tertentu, memutuskan komunikasi dengan pertemanan yang negatif, dan lainnya. Orang tua bisa terlibat langsung sebagai tindakan mendukung anak untuk hal yang positif.
Sebab LGBT Bukan Semata-mata Persoalan HAM
Tak mudah memutus rantai kenakalan anak-anak di era sekarang. Namun, jangan pernah menganggap remeh dengan masalah anak yang ada. Orang tua harus cepat sadar, bangkit, dan melihat secara konkret masalahnya. Lalu turun tangan mengambil tindakan.
Perilaku LGBT bukan soal Hak Asasi Manusia atau kesetaraan terhadap perbedaan, tetapi masalah tersebut adalah masalah kesehatan yang serius. LGBT adalah awal dari masalah kesehatan HIV dan Aids, awal dari putusnya keturunan organisasi. Maka semua pihak perlu bijak dalam hal ini. Jika pemerintah membuat kebijakan, maka masyarakat dan keluarga bisa memainkan peran melalui komunikasi.
(Nafi’ah al-Ma’rab adalah nama pena dari Sugiarti. Tercatat sebagai penggiat literasi di Forum Lingkar Pena. Ketua Deputi Kajian Perempuan Anak dan Keluarga Rumah Keluarga Indonesia Provinsi Riau. Saat ini sedang menjalani studi Magister Ilmu Komunikasi di Universitas Riau).