Permainan Puisi di Atas Lapangan: Catatan Firman Wally

Pertandingan laga kedua Liga Champion Rabu, 07 Mei 2025. Pertadingan yang mempertemukan pasukan perang Inter yang menjamu dengan muka sangar Barca lawannya di Sansiro, Milan (Italia). Sebelumnya mereka telah beradu tajam bola di kaki pada laga pertama dengan skor 3-3 di Camp Nou Barcelona (Spanyol) .

Pertemuan ini semacam dua pasukan antara bapak-bapak dan anak laki bujangan di pesta rakyat. Permainan Barca yang agresif dan kepanasan bagai anak remaja yang menyentuh tangan setir sepeda motor ini dinasehati oleh tingka inter yang terlihat bapak-bapak yang menghimpit rokok pakai jari telunjuk dan jari manisnya. Permainan yang begitu puisi di tangan pujangga. Terjadilah pembantaian di babak pertama dengan skor 2-0 yang dimenangkan oleh Inter Milan. Barca keluar lapangan dengan muka lesuh memeluk doa dalam keringat.

Malam Rabu sungguh bergemuruh di markas Inter Milan (Sansiro) ketika wasit meniup peluit panjang jalannya babak kedua. Begitulah orang yang punya hutang dengan kesadaran, meskipun terlihat miskin bukan berarti hutang harus dibawa mati. Mamasuki menit 50an sampai 60an dua bola bersarang di gawang inter. Skor menjadi 2-2. Tidak sampai di situ, hutang lunas bukan berarti tidak punya uang lebih untuk tanggungan hidup. Barca kembali merobek jaring gawang Inter, skor menjadi 2-3 untuk kemenangan sementara Barca. Tapi begitulah bapak-bapak meskipun rokok diisap pelan-pulan tatap saja menyisakan abu lebih di asbak. Inter kembali menyamakan keunggulan di menit-menit akhir. Skor menjadi 3-3. Inilah yang paling menegangkan dan kehujanan drama untuk sepak bola, ketika bola berputar berpindah kaki di menit menit akhir semacam mahasiswa yang ngebut wisuda sementara waktu tinggal tersisah tiga hari saja. Skor 3-3 berakhir hingga wasit meniup peluit panjang babak kedua. Arloji semakin bertambah angkanya. Menuju tambahan babak, 30 menit.

Pada tambahan babak, waktu mamsuki 100 menit Inter menambah angka di papan skor. Skor pun menjadi 4-3. Agregat menjadi 7-6, kemenangan sementara di kantong Inter. Barca semakin ketakutan semacam nasabah yang jatuh tempo. Kepanasan iya, menyerah kagak. Keringat bercucuran di lapangan hijau. Inter berlari dibayang-bayangi oleh senyum si kuping besar, sementara Barca dihantui oleh rival abadi, yakni Real Madrid. Barca yang terus menekan tak mampu menghancurkan tabako yang ada di saku bapak-bapak lanjut usia. Skor 4-3 bertahan hingga wasit meniup peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan di Rabu yang menyeramkan untuk Barca. Inter lanjut ke Final Liga Champion, sementara Barca terkurung dalam kamar dengan biji cili padi di bola mata.

Comments (0)
Add Comment