Pucuk Kata : Puisi 1. Tangisku, 2. Cerpen Judul : Tragelodrama

Pengasuh : Bambang Karyawan, YS, M.Pd

Puisi Karya : Zahwa Khonsa Syaidina

Biodata :

Zahwa Khonsa Syaidina, siswa MAN 3 Pekanbaru. 
Saat SD pernah membuat cerpen dan puisi dan 
diterbitkan di salah satu koran di Pekanbaru. 
Saat SMP, pernah menjuarai lomba menulis cerpen 
dan aktif di bidang musikalisasi puisi.

Tangisku

Sewindu lamanya tidak merasakan hangat pelukan mu 
Bermain bersama goresan tinta 
Di kertas itu tanganku menjadi saksi  
Harapan untuk membawanya kembali
Pada sisi hangat jiwa
 
Kulepaskan luka yang terikat erat
Melenyapkan kesedihan tak berujung 
Tuk membendung ribuan rasa takut 
Bersama gigihnya jiwaku 
Bersaing, bersaing sana sini
Bekerja rodi untuk diri sendiri
Terang hingga gelap 

Aku berhadapan dengan lembaran kertas
Pertanyaan berbuah jawaban
Berisikan jutaan tulisan 
Dari jelas hingga buram melihatnya
Ingin menyerah dengan rasa lelah
Di bawah sinaran bintang
Melihat langit tersenyum kepadaku
Seakan berkata  Dia akan bangga padamu
Memang tak banyak nilai seratus
Namun aku berhasil bangkit dari kegagalanku

Tibalah aku
Di panggung megah itu
Indahnya lampu sorot mengelilingiku
Bersama medali emas 
Megahnya sorakan orang- orang 
Langkah kaki mendekat syahdu
Telapak tangan yang mulai mengerut 
Mengelus lembut kepalaku 
Tatapan penuh cinta
Bapak 
Kepada malaikat kecilnya
Menyatukan air mataku dan bapak 
Membuat rasa haru itu nyata
Terasa dekat tuk merasakan bahagia bersama

Judul : Tragelodrama
Karya : Ehud Julian

       Kehilangan. Satu kata yang lahir dari perjalanan irama, nada yang sumbang, dan keputusan yang terus berlabuh setiap sore di pelabuhan hati. Perasaan itu akan terus datang dan menagih utang jiwa. Setiap insan harus mempersiapkan diri mereka, karena waktu akan terus berusaha untuk bermain dan menari dalam tipu muslihatnya. Banyak manusia yang tidak siap akan perasaan itu, dan berakhir sebagai bahan tertawaan waktu. Banyak yang berpikir bahwa hanya maut yang dapat memusnahkan manusia. Namun kenyataannya, banyak yang musnah karena tenggelam dalam lautan perasaannya sendiri. Mereka tidak pernah sadar, bahwa waktu adalah hal yang paling jahat dalam perjalanan irama. Detik selalu bernyanyi dengan nada yang sama, tapi ia membuat kedua mata kita terus merasakan hal yang berbeda setiap harinya. Namun, apapun yang terjadi, manusia adalah makhluk yang tersesat dan terus merasa tersesat. Mereka terus memanggil dan berteriak, tapi tidak ada yang datang. Kenapa? Karena tidak ada seorang pun yang dapat keluar dari jeratan tipu muslihat waktu. Mereka terus mencari dan mencari, melupakan yang telah tampak di hadapan mereka. Mereka terjebak dalam ruang waktu mereka sendiri dan parahnya, mereka menyukai jeratan itu. Tidak ada awal dan akhir dalam sebuah konsep waktu, karena waktu terus bergerak dan kembali ke titik nyanyiannya. Waktu akan terus menatap dan mengawasi kita sampai dia menemukan waktu yang tepat untuk menerkam kita secara diam-diam. Tapi ingat, waktu tidak pernah melukai manusia secara fisik. Perasaan tidak akan muncul jika tidak ada waktu. Pengalaman tidak akan menjadi sesuatu yang dikenang jika tidak ada bunyi detik. Janji tidak akan menjadi tagihan yang harus ditepati jika tidak ada ancaman waktu. 


        Walaupun begitu, waktu adalah nyanyian yang adil. Ketika kita diiringi dengan notasi-notasi yang sulit dan tersusun kacau, waktu akan memberi kita kesempatan yang dibalut dalam harmoni. Waktu akan membungkus kita dalam payung gemanya. Lalu, apa itu rasa kehilangan yang sebenarnya? Apakah rasa kehilangan itu hanyalah sebuah dongeng dari waktu? Apakah rasa kehilangan itu hanya imajinasi yang detail, sehingga setiap insan menganggapnya sebagai kenyataan? Apakah rasa kehilangan itu adalah jawaban dari sebuah pertanyaan tentang hidup? Apakah rasa kehilangan itu adalah akhir dari sebuah lagu? Apakah rasa kehilangan itu adalah awal dari cerita hidup baru? Apakah kehilangan itu palsu? Apakah perasaan itu nyata? Sampai sekarang belum ada yang dapat memberi segenggam jawaban, karena manusia masih bersenang-senang dalam jeratan waktu tadi. Manusia akan terus bertanya dan memunculkan pertanyaan-pertanyaan baru. Mereka mulai mengenal mana yang sudah mereka lihat dan yang belum mereka lihat. Mereka mulai mengetahui mana yang sudah mereka catat dan yang belum mereka catat. Apakah manusia bersahabat dengan waktu? Apakah manusia akan sadar bahwa mereka terjebak? Apakah konsep waktu itu selalu benar? Selamat datang di lembaran yang berisi kata-kata dan melodi yang berkesinambungan. Setiap lagu dimulai dengan ketenangan dan nada yang segar seperti mata air, tetapi tidak ada yang dapat menebak bagaimana rasa pahit dan sakit yang disampaikan melalui deretan nada jika manusia tidak mendengar lagu itu sampai akhir. Setiap lagu dapat saja berakhir dengan jeritan yang tragis, dan juga dapat berakhir dengan tangisan kebahagiaan. Dalam cerita dan lagu ini, kita akan bernyanyi dalam mantra, merasakan sesuatu yang belum pernah kita pelajari, dan hilang untuk yang kedua kalinya. 


        Rembulan memberi senyuman untuk menyertai suatu malam. Ya, malam ini adalah malam yang berbeda karena lelahnya tubuh dari atas rambut sampai ujung jari kaki. Kesunyian berpegangan tangan dengan kegelapan, sehingga malam ini termasuk malam yang sepi. Dunia seakan bisu dan berusaha menidurkan manusia-manusia di seluruh dunia. Mungkin seluruh manusia di dunia ini sudah tidur kecuali aku. Panggil saja aku Kano. Aku bisa dikatakan hampir tidak mempunyai teman ataupun sahabat, karena kita semua pasti tahu kalau orang-orang pasti akan datang dan pergi. Sahabatku hanya ada tiga, yaitu jiwaku, ragaku, dan pikiranku. Aku akan memperkenalkan sahabat-sahabatku satu per satu. Yang pertama, jiwaku. Jiwaku senang terkurung dalam nyanyian. Dia senang bernyanyi, merasakan manis-pahitnya sebuah lagu, bahkan rela tersakiti oleh nada yang tak biasa. Satu hal yang dibenci oleh jiwaku adalah nada yang sumbang dan tidak memberikan sentuhan halus bagi pendengarannya. Yang kedua, ragaku. Ragaku adalah pecinta kata-kata dan selalu melampiaskan perasaannya dengan majas. Ia akan berkata-kata dalam majas, baik saat dia sedih, bahagia, ataupun saat ia tidak mengerti apa yang sedang dirasakannya. Ia sangat istimewa. Hujan dapat diubahnya menjadi sebuah kisah, Keramaian dapat diubahnya menjadi sebuah puisi, Kecemburuan dapat diubahnya menjadi sebuah drama. Dan yang terakhir adalah pikiranku. Dia adalah penyelamatku di beberapa situasi. Pikiranku dapat memberi peringatan padaku jika akan terjadi sesuatu yang berbahaya. Pikiranku dapat memberi bantuan ketika aku dibebani oleh perasaan curiga, bersalah, dan bergumul. Kami semua selalu bersama-sama. Kemana saja aku pergi, aku selalu membawa mereka. Hanya mereka yang dapat mengerti setiap curahan hatiku. 


        Kembali lagi ke cerita awal. Aku benar-benar tidak bisa memejamkan mataku. Aku tahu aku lelah, namun perasaan ini tak biasa. Akhirnya aku bangkit dari tempat tidur dan mencoba membaca sebuah buku. Aku lupa bilang, aku sangat suka membaca buku, mungkin hobi ini menular ke diriku karena terlalu dekat dengan ragaku, si pecinta kata-kata tadi. Buku ini belum pernah habis kubaca. Menurutku buku ini sangat menarik karena aroma ceritanya sangat nyata dan belum pernah ada penulis lain yang membuat buku dengan cerita ini. Judul buku ini adalah Tragelodrama. Setelah aku cari tahu, ternyata kata Tragelodrama merupakan gabungan dari dua kata, yaitu tragedi dan melodrama. Kemudian aku menemukan hal yang mengejutkan, tokoh utama dalam buku ini memiliki karakteristik dan sifat yang benar-benar mirip denganku. Bahkan kisah hidupnya sangat persis dengan jalan hidupku. Kemudian rasa penasaran muncul dalam benakku, kenapa buku ini diberi judul Tragelodrama? Aku terus bertanya-tanya dan termenung lama. Beberapa menit kemudian, aku tertidur pulas karena mataku semakin lelah akibat membaca buku itu. 


        Timur kembali melepaskan genggaman tanganya dengan matahari, sehingga terbitlah matahari dari arah itu. Cuaca menyentuh permukaan bumi dengan sangat cerah dan baik. Tidak ada tanda-tanda awan hujan dan badai. Pagi ini aku mempunyai rencana untuk pergi ke taman yang lumayan jauh dari rumahku. Taman itu menyimpan banyak kenangan dalam kehidupanku. Setiap minggu aku pasti menyempatkan waktuku untuk pergi ke tempat seribu memori itu. Sebelum pergi, aku bersiap-siap dengan perasaan yang baik dan juga positif. Namun, hal aneh terjadi saat aku hendak melangkahkan kakiku keluar dari pintu rumah. Pikiranku mulai memberikan peringatan padaku. Aku mulai kebingungan dan tak tahu ingin melanjutkan langkah atau tidak. Pikiranku terus berkata,”365 hari yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa untuk kehidupan manusia adalah hari-hari yang baik dan harum, namun hari ini waktu sedang menjadi seorang penipu. Janganlah kau melangkahkan kakimu, Nato. Waktu tidak pernah bersahabat dengan manusia.” Aku sama sekali tidak mengerti dengan cara dia memberi peringatan kepadaku. Entah kenapa, hari ini dia memberikan peringatan dengan cara yang puitis serta menggunakan kata-kata yang tidak biasa dipakai dalam percakapan di kehidupan sehari-hari. Karena aku tidak mengerti dengan peringatan tadi, aku tetap saja melanjutkan langkahku menuju taman. Setelah 12 langkah, pikiranku kembali memberi peringatan kepadaku. Namun kali ini, dia tidak memberikan peringatan dalam bentuk kata-kata yang puitis, melainkan dengan nyanyian singkat. Beginilah nyanyian peringatan itu: 
“Waktu tidak akan pernah memberikanmu tanda,apakah akan turun hujan atau tidak.Apakah matahari akan terus tampil dengan tubuhnya yang terang.Apakah penyesalan akan duduk menunggu di ujung malam.Waktu tidak akan pernah menyediakan tempat,Dimanakah kau akan menangis untuk yang terakhir kalinya.Dimanakah kau akan bertemu orang yang tepat untukmu.Dimanakah kau akan melihat matahari terbit dari barat.Waktu tidak akan pernah memberimu sepucuk jadwal,Kapankah maut akan menari di sekitarmu.Kapankah sebuah kisah akan menjadi misteri akhir.Kapankah sebuah peringatan akan berakhir.


       Nyanyian itu terdengar sangat mencekam. Setiap kalimat dalam nyanyian itu terasa aneh dan berada di luar nalarku. Itu pertama kalinya aku mendengar pikiranku bernyanyi. Lalu, aku mengambil sebuah keputusan, aku akan terus melangkahkan kakiku ke taman. Aku terus melangkah dan melihat burung-burung berkicau dengan riang, orang-orang yang berpapasan denganku tersenyum padaku dan menyapa diriku dengan salam yang hangat. Sapaan dari orang-orang tadi menyelimuti segala perasaanku, hingga perasaanku ini menjadi tenang dan segar. Kemudian, setelah 12 langkah lagi aku berjalan, pikiranku kembali menyanyikan sebuah nyanyian singkat. Seperti inilah bunyi nyanyian itu: 
“Waktu tidak akan pernah memberikan sebuah penjelasan,Bagaimanakah awan hitam terbentuk.Bagaimanakah jeratan waktu melukai dirimu.Bagaimanakah melodi mengiringi sebuah tragedi.Waktu tidak akan pernah memberikan sebuah alasan,Mengapa kesedihan itu terjadi.Mengapa kesendirian itu terasa menyedihkan dan menyenangkan dalam satu waktu yang sama.Mengapa sebuah peringatan diciptakan.Waktu tidak akan pernah memberitahu,Siapakah dalang di balik mautmu,Siapakah yang dapat bebas dari jebakan waktu,Siapakah yang akan mendapat sial dari sikap bebalnya sendiri.


       Nyanyian pikiranku terdengar semakin aneh dan tidak logis, aku semakin kebingungan dengan bentuk bahasa yang digunakannya untuk memperingatkanku. Aku tetap saja melanjutkan langkahku dan berusaha untuk tidak menganggap perkataan tadi sebagai hal yang penting atau darurat. Lagi dan lagi, setelah aku berjalan 12 langkah, pikiranku kembali bernyanyi dengan lirik yang sama dengan nyanyian sebelumnya. Seperti biasa, aku tetap meneruskan langkahku. Akhirnya, setelah melangkah sebanyak 12 langkah untuk kesekian kalinya, aku tersadar, bahwa selama perjalananku dari rumah ke taman, yang berbicara hanya pikiranku saja. Aku mulai bertanya-tanya,Dimana jiwaku dan ragaku? Saat sampai di taman, aku merasa baik-baik saja, tidak ada barang yang tertinggal di rumah, aku tidak dijambret, dan barang-barangku tidak ada yang hilang ketika berjalan. 


        Perjalanan tadi sudah berlalu, aku berusaha untuk tidak membawa energi negatif dalam pikiranku. Aku sampai di taman pada jam 12 siang, artinya, satu hari ini angka 12 selalu mengiringi kehidupanku. Aku berjalan di sekitaran taman dan melihat banyak pedagang kaki lima di pinggiran taman, aku melihat anak-anak berlarian, aku melihat pasangan yang sedang bermesraan. Saat melihat hal-hal itu, aku seakan-akan lepas dari tragedi yang menjadi salah satu beban dalam kehidupanku. Di taman ini, aku menyaksikan sebuah bukti sukacita, kebahagiaan, dan cinta. Aku tahu aku sudah beberapa kali singgah ke taman ini, namun hari ini suasana taman ini sangat berbeda dan hampir terasa asing. Anak-anak yang berlarian tadi tersenyum dan tertawa ketika mereka melewatiku, matahari memberi kehangatan yang tepat dan tidak berlebihan, awan menari-nari di atas langit membentuk pola yang indah. Setitik air mata menetes dari mataku. Aku tidak percaya, tempat yang selama ini sering aku kunjungi terasa seperti tempat yang baru. Kakiku melangkah ke kursi taman yang dekat dengan sebatang pohon, lalu membuka buku “Tragelodrama” yang hampir selesai kubaca sampai habis. Sebuah misteri kembali berulah dalam aktivitasku, ternyata jumlah halaman yang belum kubaca adalah 12 halaman lagi. “Ini pasti kebetulan, ini pasti hanya sebuah kebetulan!, ucapku. 12 halaman terakhir itu bercerita tentang nasib malang seseorang yang tewas akibat tertabrak oleh sepeda motor yang sedang mengebut. Cerita akhir itu memanglah terdengar sangat menyedihkan, apalagi si korban tabrakan itu tidak bersalah sama sekali. Aku lanjut membaca cerita itu, dan cerita sedih ini kemudian berubah menjadi cerita yang mengejutkan. Korban tabrakan dalam buku ini, ternyata tertabrak saat ingin pergi ke sebuah taman yang selalu ramai di kotanya. Aku terdiam dan tak berani untuk berpikir lagi. Kemudian, aku menutup buku itu dan berbicara pada diriku sendiri. “Apapun hal-hal tak biasa yang terjadi hari ini, anggaplah itu sebagai sebuah kebetulan, ”ucapku. Hari ini tersusun seperti sebuah pola, kehidupan tokoh dalam buku itu sangat mirip dengan kehidupanku. Keseharianku di taman sudah selesai, aku akhirnya bergegas untuk pulang. Saat kakiku melangkah keluar dari taman, pikiranku mulai bernyanyi dalam bisikan. Nyanyian itu berbunyi seperti ini: 

Waktu akan terus mengintaimu,Waktu akan terus mengelilingimu,Waktu akan terus berusaha untuk membuka telingamu,Waktu tidak pernah bermain dengan maut yang dibuatnya,Waktu akan terus berjalan dan kembali ke titik awalnya,Waktu akan terus menghitung setiap langkahmu,Waktu tidak akan peduli dengan sebuah penyesalan,Waktu telah mengawasimu.


       Nyanyian-nyanyian yang disampaikan oleh pikiranku semakin membuatku merasa tidak nyaman. Pikiranku terus berbisik, sampai aku tiba di rumah pun, dia tidak berhenti berbisik dan bernyanyi. Ketika aku sampai di rumah dengan kondisi yang baik, aku menganggap perkataan-perkataan pikiranku sepanjang hari ini adalah candaan semata. Aku mengganti pakaianku dan menonton televisi sejenak. Aku berusaha menjauhkan buku Tragelodrama tadi dari diriku, karena cerita dalam buku itu semakin lama terasa aneh dan menyedihkan. Rasa lelah mengikat seluruh tubuhku, akhirnya aku tertidur lelap di atas sofa ruang tamuku. 


       Sejuknya pagi hari datang menyambut dunia, embun membasahi dedaunan, alarm menggelitik telingaku dan tubuhku untuk segera bangkit dari tempat tidur. Aku melihat ke luar dan tersenyum, karena cuaca hari ini lebih cerah daripada cuaca kemarin. Melihat cuaca yang cerah itu, aku berencana untuk pergi ke taman lagi. Aku mulai sarapan, menonton berita pagi, dan juga melakukan aktivitas pagi lainnya. Jam menunjukkan pukul 11.30 pagi, aku bersiap-siap untuk pergi lagi ke taman yang berbau sukacita dan kebahagiaan itu. Aku juga membawa buku “Tragelodrama” itu lagi ke taman. Ketika melangkah ke luar rumah, aku hanya mendengar pikiranku berkata,”Aku sudah mengingatkanmu melalui nyanyian waktu, tapi aku baru ingat kalau manusia suka jeratan waktu itu, nikmatilah langkah-langkahmu.” Setelah kalimat itu diucapkan oleh pikiranku, aku tidak mendengar lagi nyanyian-nyanyian dari pikiranku. Tentu saja hal ini membuatku merasa lebih baik dan nyaman. Namun kebahagiaan itu mencair seketika. Aku melihat seseorang yang tertabrak sepeda motor tepat pada jam 12 siang. Kejadian itu sangat persis dengan cerita dalam buku “Tragelodrama” yang telah kubaca itu. Saat korban itu tertabrak, sebuah buku keluar dari tas miliknya. Buku yang terjatuh itu berjudul “Tragelodrama” juga. Kejadian ini semakin misterius, ketika buku ini terjatuh, yang terbuka adalah halaman 12. Isi halaman 12 di buku itu adalah sebuah nyanyian yang diciptakan saat tokoh utama dalam cerita itu sedang mencari sahabat sejati yang dapat mengerti perasaan dia baik dalam suka maupun dalam pahitnya duka. Nyanyian itu berbunyi: 


Waktu sebenarnya sangat baik,Waktu selalu memberi kita peringatan melalui tangan orang lain.Waktu sebenarnya sangat baik,Waktu selalu mengeringkan air mata yang meluncur dari pelampiasan rasa sakitmu.Waktu sebenarnya sangat baik,Waktu selalu kembali ke titik awalnya untuk memberi kita kesempatan.Waktu sebenarnya sangat baik,Waktu selalu memberi cuaca yang cerah untuk meringankan insan yang mempunyai seribu satu beban.Waktu sebenarnya sangat baik,Waktu selalu memberi bantuan tidak hanya sekali, namun berkali-kali.Waktu sebenarnya sangat baik,Waktu selalu bernyanyi untuk membuat telinga kita menari.Waktu sebenarnya sangat baik,Waktu selalu mengingatkan kita tentang sebuah kehilangan.Waktu sebenarnya sangat baik,Waktu selalu menjelaskan sebuah jalan cerita dengan penjelasan yang rinci.Waktu sebenarnya sangat baik,Waktu selalu memulai sebuah lagu dengan nada yang ceria.Waktu sebenarnya sangat baik,Namun tidak semua manusia sudi untuk membuka telinganya dan menjaga setiap langkahnya.Waktu sebenarnya sangat baik,Waktu menenangkan kita dengan nyanyian setelah kita ditimpa oleh tragedi


       Kecelakaan yang terjadi dalam buku itu sangat mirip dengan kecelakaan yang terjadi saat ini. Kecelakaan itu menjadi sebuah lambang atau simbol yang memiliki banyak arti. Kecelakaan itu dapat menjadi simbol tragedi, dapat menjadi simbol rasa sakit, dapat menjadi simbol maut, dapat menjadi simbol akhir sebuah lagu, dapat menjadi simbol jeratan dari waktu itu sendiri, dan dapat menjadi simbol sebuah kehilangan. Buku itu benar, Tidak hanya maut yang dapat membuat manusia musnah, namun perasaan, jiwa, raga, dan pikiran manusia itu sendiri yang dapat membuat mereka tenggelam dalam sebuah jeratan perasaan. Dari buku yang telah habis dibaca itu, aku dapat belajar bahwa selama ini, bukan waktu yang membuat jeratan itu, namun manusia itu sendiri. Buku itu adalah kumpulan halaman yang berisi nyanyian yang dibungkus oleh atmosfer kisah tragedi. Pada akhirnya, buku yang bercerita tentang tragedi itu jatuh dan menjadi kotor. Kecelakaan itu merupakan kecelakaan yang sangat mengerikan. Dan satu hal lagi yang ingin aku katakan, korban kecelakaan itu adalah diriku sendir

Ehud Julian, Siswa SMA Darma Yudha, pemenang 4  lomba cerpen se-Riau yang ditaja Balai Bahasa Provinsi Riau tahun 2020. Aktif berkegiatan di ekskul teater Darma Yudha.

Untuk pemuatan karya sastra (Puisi, Cerpen, Esai, Pantun, Kritik, Resensi, Peristiwa Budaya, dan tulisan sastra lainnya) silakan dikirim melalui surel:
redaksi.tirastimes@gmail.com

bambang kariyawanpucuk katasastra remaja
Comments (0)
Add Comment