Kepada Rintik Gerimis Maupun Derasnya Hujan yang Malam Ini tak Kunjung Datang
Malam ini kembali kurebahkan diriku dalam pelukan bumi, bukan untuk menetap, hanya sekedar untuk menikmati harumnya bau tanah sembari melantunkan harap yang kubiarkan saja melangit
Lalu, sayup lantunan suara angin menyapu lembut mukaku, menyapaku, seolah mengajakku untuk tinggal sejenak dalam pelukan sang bumi malam ini. Aku, sama seperti yang lain, jika katanya, kalau lagi rindu bakalan tumbuh jerawat, sayangnya mukaku tetap mulus tak berjerawat, hanya saja jiwakulah yang hanyut terombang ambing dalam lautan rindu. Lautan yang membawaku menyelam semakin dalam tanpa pernah ingin terapung di permukaan
Seketika setelah sang angin malam menyapa, sejenak ku pejamkan mataku serta lirih kujawab sapaannya
“Apakah malam ini dia akan datang?”
Dan tiba-tiba suasana menjadi pengap
Pertanda jika sang angin malam pergi, seolah memberi jawaban jelas malam ini tak bersahabat denganku
Dia, sosok yang aku rindukan, sepertinya tak akan datang
Padahal, dalam segala harap yang ku biarkan saja melangit, selalu saja ada dia yang kuinginkan datang bersama hembusan angin malam yang selalu menyapa setiap malam
Kabarnya saja bahkan tak terdengar, seolah bumi telah melahapnya dalam-dalam karena tak ingin aku mendua atas dirinya
Bagiku, sekarang bumi tak lagi sama. Harum tanahnya tak lagi semerbak. Gersang, panas dan entah akan seperti apa nantinya, terlebih lagi tanpa kedatangannya. Baik pagi dan sang fajar. Siang dan surya. Sore dan sang senja. Malam dan sang bintang. Bumi tetap gersang, dan tugas angin kini hanyalah menjadi penyejuk bagi insan-insan lelap yang kepanasan.
Mungkin, engkau bertanya, sebenarnya siapa yang sedang aku tunggu kedatangannya malam ini. Jika aku tak menjawab, coba saja bertanya pada angin yang berhembus
“Kenapa bau tanah tak seharum kemarin?”
Atau cobalah bertanya pada bintang-bintang yang gemerlap indah menghiasi langit malam ini. Siapa tahu kau akan menemukan jawabannya. Siapa yang sedang aku rindukan bahkan aku tunggu kedatangannya
Memeluk erat terlelap bersama sang bumi