Puisi-Puisi Suseno

Engkau Kunci Surga di Bumi: Untuk Istri Tercinta

Bukan pada emas yang berkilauan di tepian samudera
Bukan pada zabarjad yang tersimpan di peti cendana berukir
Bahagiaku tak berlabuh pada harta yang lekang dimakan zaman
Tetapi tertambat erat pada senyummu nan suci
Bagaikan rembulan merapat ke dada langit yang rindu
Bagaikan embun pulang ke pangkuan bumi yang menanti

Engkau cahaya yang dikirim dari pintu rahmat Ilahi
Bagaikan fajar menyingsing di ufuk yang lama kelam
Menghapus gulita yang melilit malamku
Menjadikan rumah ini taman beraroma cendana dan kesturi
Setiap langkahmu jejak yang diberkati
Setiap do’amu sayap yang mengangkat jiwaku
Setiap bisikmu zikir lembut yang menenangkan resah kalbuku

Engkau bidara mekar di taman sanubariku
Bayu sepoi menyapa tatkala daun berguguran
Perisai teguh tatkala badai menghempas dinding hari
Teman setia yang tak luntur meski musim berganti seribu kali
Kita ibarat dua juzuk dari satu raga yang dicipta
Dua dawai kecapi berdenting dalam satu irama
Dipintal kasih menjadi tali sutra tak terputus
Dipautkan Allah dalam ikatan suci, luhur, nan abadi

Tak kubutuhkan kerajaan bertembok emas
Tak kuinginkan bintang jatuh ke telapak tanganku
Sampai rambut memutih bagai kapas musim kemarau
Sampai tulang belulang merapuh dan langkah melambat pulang
Kita kembali ke pangkuan-Nya
Sepasang kekasih yang diridai sepanjang masa

Karena bahagia bukan nun jauh di seberang samudera
Bukan di neraca yang menakar harga harta
Namun di setiap sujud yang kita panjatkan berdua
Di setiap napas yang bernama kita
Di setiap do’a yang berakhir dengan namamu, istriku tercinta

Engkaulah kunci surga yang dititahkan Sang Khalik ke bumantara
Dan bersamamu surga kugenggam sedari awal pertemuan kita
Hingga sukma kita berpisah di ujung masa.

Bengkalis, 22 September 2026

 

Kepak Enggang di Langit Borneo

Di langit Borneo,
enggang mengepak perlahan,
membelah bumantara,
membawa hikayat rimba
dari zaman ke zaman.

Pada kepakmu
tersimpan marwah belantara;
pada kepakmu
terdengar bisik pepohonan
yang kian kehilangan mahligainya.

Engkau mengajarkan manusia:
terbang bukan sekadar meninggi,
melainkan mengenal
dari mana akar berasal
dan ke mana langkah kembali.

Namun, bila rimba rebah,
ke mana kepakmu bernaung?
Bila pohon-pohon menjadi arang,
di manakah engkau menitipkan
telur-telur kehidupan?

Wahai enggang,
terbanglah selagi Borneo masih hijau.
Sebab, ketika rimba menjadi kenangan,
yang hilang bukan sekadar rumahmu,
melainkan wajah
dari jiwa manusia.

Jagalah rimba,
sebelum langit
kehilangan kepaknya.

Bengkalis, 30 September 2026

Comments (0)
Add Comment