Wajah Bumi yang Berubah
Dulu musim tahu kapan harus menyapa
Hujan membasuh bumi hijau
Angin berhembus membisikkan kabar
Bumi bernafas tenang, semesta berjalan teratur
Kini langit tak lagi biru
Padi pun tak lagi menguning
Hujan mengamuk membanjiri daratan
Panas membakar, tanah kering meronta
Es di ujung dunia meleleh menangis
Air laut naik menelan bibir bumi
Bunga-bunga layu belum sempat menari
Hutan terbuka telanjang
Bumi tak lagi sama seperti kemarin
Mulai lelah menahan beban
Terlihat pucat, lusuh
Seakan enggan menyisakan jejak
Mari merajut kembali harmoni retak
Bumi rumah tempat kita berpijak
Lumajang, 7 Juni 2026
Jejak Rasa yang Tak Berhak
Di sudut hati terselip nama, tak boleh kusebut
Bukan karena lupa, bukan tak ingin ingat
Dinding tinggi membatasi dua hati
Anomali di antara batas
Masih sama tatapan itu, hangat dan sederhana
Namun hati sudah berlabuh di dermaga lain
Kau punya rumah singgah, aku punya cerita sendiri
Cinta lama bersemi, tak boleh disentuh lagi
Rindu datang tanpa diminta
Seperti bunga tumbuh di tebing curam
Indah dipandang, berbahaya disentuh
Cukup dilihat dari jauh, tak boleh dipetik
Maafkan hati tak bisa memerintah
Masih menyimpan rasa tak berhak dimiliki
Ada simpul harus dijaga
Setia pada yang ada, lupakan yang tak mungkin ada
Biarlah jejak rasa ini hilang perlahan
Terhapus waktu, terbuang bersama angin
Kau tetap kenangan sopan dan tenang
Sebagai doa tak berani kusebutkan
Lumajang, 7 Juni 2026
Tri Rahmawati, seorang Pegawai Negeri Sipil yang berkecimpung di bidang Teknik Lingkungan. Ia telah mentamatkan S1 dan S2 Teknik Lingkungan di Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya. Kecintaan pada dunia literasi membawanya aktif menulis disela-sela kesibukannya. Perjalanan menulisnya mulai dari Buku Antologi, Cerpen, Puisi, dan Esai. Saat ini menetap di Lumajang serta dapat dihubungi melalui email three.enviro@gmail.com dan Instagram @tri32871. Ia juga sedang mengikuti Kelas Puisi Jadi Cuan, Sekolah Kepenulisan Kosana Publisher @kosanapublisher bersama @intanhafidahnh sebagai mentor kelas.