Momen Ramadan 1446H ini Forum Lingkar Pena (FLP) Pekanbaru menggelar “Buka Bersama & Bedah Karya” bertempat di Zyan Cafe Pekanbaru, Minggu (16/2025). Hadir pada kesempatan itu para pengurus FLP; Bambang Kariyawan, Nafiah Al Ma’rab dan para anggota muda dan madya.
Acara yang dimulai pukul 16.30 WIB sembari menunggu masuknya waktu berbuka puasa tersebut dimoderatori Nurhikmah (anggota madya FLP) pemenang sayembara kepenulisan cerita anak Dwi Bahasa.
Adapun karya yang dibedah kali ini, yakni buku kumpulan cerpen (kumcer) memoar berjudul “Tikar Pandan” karya Yuzelma. Hadir sebagai pemantik, Rio Rozalmi, penulis FLP Riau yang karyanya beberapa kali memenangi sayembara kepenulisan serta baru saja meluncurkan buku kumpulan cerpen (kumcer) “Senja yang Marun” beberapa waktu lalu.
Rio menyampaikan, lewat “Tikar Pandan” sang penulis mencoba memberikan makna kepada pembaca sejatinya masa dewasa merupakan siluet masa kecil.
Ia menyinggung Teori Perkembangan Psikoanalisis yang dikemukakan Sigmund Fread, bahwa peran alam bawah sadar mempengaruhi perilaku manusia serta pengalaman masa kecil turut memberi sumbangsih yang tak bisa dipandang sebelah mata dalam mengemas kepribadian dan dinamika psikologi seseorang.
“Dalam buku “Tikar Pandan” ini sangat jelas sang penulis mendapatkan banyak pengalaman pada masa kecilnya. Sebut saja ketika makan malam di tikar pandan, orangtua sang penulis mengajarkan banyak hal tentang etika dan estetika dalam jamuan makan,” tuturnya.
Lebih jauh, dipaparkan “Tikar Pandan” menceritakan masa kecil anak 80-an yang begitu indah dan menantang. Bermain bebas serta berinteraksi langsung bersama alam seperti permainan sepak tekong, badia balantak, dan lainnya.
“Seperti yang kita ketahui bersama, permainan ini memberikan manfaat luar biasa dalam membangun sikap atau karakter seperti kekompakan, kerjasama, kejujuran, menjaga sebuah kepercayaan, hingga berpikir kritis. Jika kita menilik pada dunia pendidikan dewasa ini, kurikulum seakan-akan mengarahkan anak-anak untuk kembali ke anak 80-an. Seperti adanya Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) yang salah satunya adalah mengusung permainan tradisional,” urainya.
Di tempat sama, Bambang Kariyawan yang akrab disapa BK (pengurus pusat FLP) yang juga dikenal sebagai sastrawan Riau, memberikan apresiasi luar biasa kepada penulis yang sudah berhasil melahirkan karya bermakna.
“Luar biasa, Yuzelma berhasil menuliskan karya ini dan kita bedah bersama-sama. Ini kegiatan yang harus dijaga dan dilanjut ke depannya. Teruslah berkarya, lakukan hal yang baik, tulis yang baik-baik. Insya Allah akan kembali kepada kita yang baik-baik,” ajaknya.
Kegiatan berlangsung meriah dan interaktif. Hal ini nampak dari masing-masing yang hadir aktif tanya jawab. Di samping menyampaikan saran, masukan atau kritikan membangun.
Acara ditutup dengan agenda buka bersama dan shalat Magrib berjamaah. Untuk diketahui, bedah karya seperti diskusi buku ataupun program literasi lainnya sudah menjadi agenda dan program rutin FLP Pekanbaru. (Hikmah)