Refleksi Kisah Khalifah Harun Ar Rasyid dan Ahli Sufi Bahloul: Catatan Hendrizon

Puncak kejayaan Bani Abbasiyah terlihat saat kerajaan pada masa itu dipimpin oleh seorang Khalifah bernama Harun Ar Rasyid atau Harun bin al Mahdi sang penguasa ke-5 Kekhalifahan Abbasiyah sejak tahun 766 M – 809 M. Pada masa kepemimpinan Khalifah Harun Al Rasyid ini merupakan Puncak kejayaan Bani Abbasiyah di berbagai bidang, mulai dari perkembangan dan inovasi ilmu pengetahuan, militer dan lain sebagainya. Pada masa Khalifah Harun Al Rasyid ini juga terdapat satu kisah menarik yang dapat dijadikan pelajaran pada masa sekarang.

Kisah itu dinukilkan di dalam kitab عقلاء ﺍﻟﻤﺠﺎﻧﻴﻦ “Orang-orang Gila yang Berakal” penerbit Darulfunun, menceritakan pernah terjadi dialog diantara Khalifah Harun Al Rasyid dengan Syiech Bahloul seorang Sufi mengatakan bahwa Khalifah Harun Ar-rasyid pernah meminta nasehat kepada dirinya. Menariknya Syiech Bahloul ketika itu dianggap sebagai orang gila oleh penduduk Abbasiyah.

Pernah suatu ketika Khalifah Harun Al Rasyid sedang melakukan perjalanan dan kebetulan melintasi pemakaman atau kuburan dan dilihatnya Syiech Bahloul sedang duduk di sana.

Berkata Harun Ar-Rasyid kepadanya : “Wahai Bahloul, bilakah kamu akan berakal (sembuh dari gila)?”
Mendengar itu Bahloul beranjak dari tempatnya dan naik ke atas pohon, lalu dia memanggil Harun Al-Rasyid dengan sekuat suaranya dari atas pohon : “Wahai Harun yang gila, bilakah engkau akan sadar?”
Seketika Harun Al-Rasyid pun menghampiri Syiech Bahloul dengan menunggangi kudanya lalu berkata : “Siapa yang gila, aku atau engkau yang selalu duduk di kuburan?”
Bahloul berkata : “Aku berakal dan engkau yang gila.”
Harun : “Bagaimana itu terjadi?”Bahloul : “Karena aku tahu bahwa istanamu akan hancur dan kuburan ini akan tetap ada. Maka aku memakmurkan kubur sebelum istana, dan sebaliknya engkau memakmurkan istanamu sampai-sampai engkau takut untuk dipindahkan dari istanamu ke kuburanmu, padahal engkau tahu bahwa kamu pasti akan masuk ke dalam kubur. Maka katakan wahai Harun siapa yang gila di antara kita?”

Bergetarlah hati Harun Al Rasyid, lalu menangis dengan tangisan yang sampai membasahi jenggotnya. Lalu Harun Al Rasyid berkata : “Demi ALLAH engkau yang benar, tambahkan nasihatmu untukku wahai Bahloul”.

Bahlul : “Cukup bagimu Al-Qur’an maka jadikanlah pedoman”.
Harun : “Apa engkau memiliki permintaan wahai Bahloul? Aku akan penuhi”.
Bahloul : “Iya aku punya 3 permintaan. Jika engkau penuhi aku akan berterima kasih padamu”.
Harun : “Mintalah”
Bahloul : 1. “Tambahkan umurku”.
Harun : “Aku tidak mampu.”
Bahloul: 2. “Jaga aku dari Malaikat maut”.
Harun : “Aku tidak mampu.”
Bahloul: 3. “Masukkan aku ke dalam surga dan jauhkan aku dari api Neraka”.
Harun : “Aku tidak mampu”.
Bahloul : “Maka ketahuilah bahwa engkau dimiliki (sebagai seorang hamba) dan bukan pemilik (Tuhan), maka aku tidak perlu padamu”.

Dari kisah di atas dapat diambil beberapa pelajaran diantaranya; Pertama, Janganlah melihat seseorang dari segi penampilan, karena penampilan selalu menipu pandangan orang lain. Kedua, singgahsana yang megah, tahta dan segala bentuk kemewahan dunia, ujung-ujungnya semua itu akan ditinggalkan dan tak dapat dibawa masuk bersama saat dikuburkan (kematian), hanya amal shalehlah yang akan setia menemani dab sebagai penolong bagi kita saat di kuburan nanti sampai pada hari kebangkitan.

Ketiga, Berjiwa besar bagi seorang pemimpin walaupun sedang diposisi yang paling tinggi tetap saja diperlukan, seperti mau menerima nasehat terlebih dari para ulama, karena ulama adalah pewaris para nabi yang akan membimbing ke jalan yang benar (lurus). Keempat, sehebat apapun keilmuan, jabatan dan kedudukan yang kita miliki sesungguhnya masih ada yang melebihinya, maka sadarlah dan pergunakanlah semuanya itu ke jalan kebaikan, sesungguhnya semua itu hanyalah titipan belaka. Apabila Allah SWT menghendaki untuk mengambilnya, maka dalam waktu sekejap saja semua itu pasti akan sirna. Pada akhirnya kepada Allah SWT lah tempat kita mengadukan segala sesuatu dan tempat kita dikembalikan. Wallahu’alam

Bengkalis, 25 Mei 2025

Hendrizon Lahir di Bengkalis 17 Juli 1979. Bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil bagian Kehumasan pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bengkalis. Pada 24 Februari 2024 resmi dilantik sebagai anggota Perkumpulan Rumas Seni Asrizal Nur (PERRUAS) Riau sebagai Koordinator untuk Kabupaten Bengkalis Masa Bhakti (2024 -2026). Mulai Aktif menulis sejak tahun 2021.No.Hp/WA 0813 6561 9584

Comments (0)
Add Comment