“Refleksi Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H” Menghidupkan Kembali Nilai-nilai Kenabian dalam Diri Manusia: oleh Hendrizon Bin (Alm) Nashruddin Zakaria

Empat sifat nabi Muhammad SAW yang diberikan oleh Allah SWT adalah modal utama dalam merubah alam jahiliah ke alam ilmiah. Empat sifat (Siddiq, Amanah, Tabligh dan Fathonah) itu menjadi contoh dan suri tauladan bagi manusia sepanjang zaman. Dengan empat sifat yang dimikili oleh beliau, menjadi dasar sebagai penyempurna akhlak (makarimal akhlaq) (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad No. 273).

Sebagai suri tauladan yang baik, nabi Muhammad SAW bisa dicontoh dari segala aspek. Baik sebagai negarawan, atasan, pedagang, pengembala, petani, seorang ayah, dan sebagainya. Hal ini karena beliau adalah seorang manusia biasa dan memang patut menjadi contoh. Q.S Al-Kahfi: 110

أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ

Artinya: Katakanlah Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa).

Berkenaan dengan hal tersebut di atas, maka kita sebagai pengikutnya, sudah seyogyanya menghidupkan kembali nilai-nilai itu dalam kehidupan kita. Bukankah perilaku jujur, adil, dan merakyat sudah dipraktikkan oleh baginda nabi Muhammad SAW dan generasi setelahnya.

Menurut pakar hukum, sekarang ini praktik hukum di Indonesia telah banyak disalahgunakan dan ditafsirkan demi kepentingan. Padahal hukum dibuat untuk mengatur dan menuntun kehidupan manusia agar mampu berjalan dengan semestinya demi terciptanya kehidupan yang berkeadilan dan kesejahteraan bersama. (Baca media tribun di :https://trends.tribunnews.com/news/122827/janji-merdeka-terhambat-korupsi-lemahnya-hukum-mahfud-md-sindir-gaya-hedon-elit-orang-atas-kebal).

Di momen peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H, saat yang tepat untuk menghidupkan kembali nilai-nilai itu dalam kehidupan kita. Nilai-nilai itu seperti saling menghormati, menghargai, berkasih sayang, tegas terhadap kemaksiatan dan kekufuran serta lain sebagainya. Bukan sebaliknya dengan menonjolkan perilaku yang jauh tidak bermoral dan berakhlak. Bukankah misi kenabian itu antara lain untuk menyempurnakan akhlak (Makarimal Akhlak) manusia dan itu sifatnya berkelanjutan.

Coba kita lihat sejenak ke belakang perilaku generasi setelah nabi seperti para Sahabat, Tabi’, Tabi’in, Tabi’ tabi’n, Ulama, tokoh agama dan seterusnya. Mereka bisa mempersatukan umat yang beragam dalam kerangka keagamaan. Bahkan puncak kejayaan Islam di zaman dinasti Abbasyah adalah bukti nyata atas semua itu dalam membentuk manusia beradab menuju suatu peradaban.

Maka sikap saling memberi bukan mencuri, perilaku ramah bukan pemarah, menuntun bukan menonton, mengkoreksi bukan ego diri, bersyukur bukan kufur, memberi contoh bukan menokoh, merakyat bukan penjilat, merangkul bukan memukul, jadi teladan bukan saling menekan, berlaku adil bukan degil, jujur bukan menghancur, memberi solusi buka kolusi, displin bukan plan-plin, aksi nyata bukan sekedar cerita dan semua perilaku terpuji lainnya sudah harus kita praktikkan.

Namun jika kita gagal menghidupkan nilai-nilai tersebut di atas, maka kemungkinan yang akan terjadi adalah merajalelanya tindakan maksiat, kebodohan dimana-mana, bahkan dan bisa berbalik ke belakang ke zaman kehidupan jahiliah.

Sebagai penutup mari kita renungkan pesan terakhir dari Nabi Muhammad SAW dari Imam Malik dalam Kitab Al-Muwaththa’ mengatakan bahwa Rosulullah bersabda:
أَنَّ رسولَ الله صلى الله عليه وسلم قال تَركْتُ فيكُمْ أَمْرَيْنِ مَا إِنْ تَمسَّكْتُمْ بِهِمَا لنْ تَضِلُّوا أَبَدًا: كِتَابَ اللهِ، وَسُنَّةَ رَسُوْلِهِ
Artinya: “Rasulullah saw bersabda, ‘Aku meninggalkan dua hal di tengah kalian; selama berpegang pada keduanya, kalian tidak akan tersesat selamanya: yaitu kitab Allah dan sunah rasul-Nya,’” (HR Imam Malik). Wallahu ‘alam.

Bengkalis, 20 Agustus 2026

Hendrizon, Lahir di Bengkalis 17 Juli 1979. Bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil bagian Kehumasan pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bengkalis. Pada 24 Februari 2024 resmi dilantik sebagai anggota Perkumpulan Rumas Seni Asrizal Nur (PERRUAS) Riau sebagai Koordinator untuk Kabupaten Bengkalis Masa Bhakti (2024-2026). Mulai Aktif menulis sejak tahun 2021. No. Hp/WA 0813 1533 2965.

 

Comments (0)
Add Comment