Jika hendak mengenal orang berbangsa
Lihat kepada budi dan bahasa
(Gurindam Dua Belas pasal lima, Raja Ali Haji)
Riau dengan julukan negeri sahibul kitab dicatat dalam sejarah sebagai negeri yang sangat produktif dalam menghasilkan karya literasi. Kita dapat menilik karya-karya sastrawan Riau mulai era Raja Ali Haji hingga karya-karya sastra pada era kecakapan abad 21 ini. Produksi karya berupa buku tak pernah berhenti termasuk karya-karya sastra. Sehingga layaklah Riau disebut dengan gelaran negeri sahibul kitab sebagai tamannya para penulis (Bustanul Khatibin).
Indeks Literasi Digital
Gemilang masa perkembangan karya sastra saat ini terusik ketika diumumkan hasil pengukuran indeks literasi digital untuk Riau. Survei yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika dan Katadata Insight Center (KIC) pada 2021 menunjukkan indeks literasi digital Indonesia berada di angka 3,49. Angka tersebut menempatkan Indonesia dalam kategori sedang, dengan skor indeks 0 sampai 5. Dari survei tersebut Riau Negeri Sahibul Kitab berada pada peringkat kedua dari bawah dengan ukuran 3,35 dan masih di bawah rata-rata nasional.
Kenyataan di lapangan menunjukkan beberapa lembaga seperti perpustakaan, kampus perguruan tinggi, dan sekolah telah memanfaatkan digitalisasi dalam pengembangan literasinya. Kita dapat mengunjungi Perpustakaan Soeman HS telah memiliki pelayanan buku digital secara online berupa layanan “iRiau”, Perpustakaan Kota Pekanbaru memiliki aplikasi “ipekanbaru”, kampus perguruan tinggi dan sekolah di Riau telah menjadikan perpustakaannya berbasis digital. Terlepas dari kondisi pergerakan ke arah digital telah dilakukan namun kondisi memprihatikan ini menjadi tantangan bagi kita untuk mengangkat muruah dengan cara yang bijak untuk membangun peradaban negeri melalui cara dan pendekatan digital.
Platform Digital
Dunia terus bergerak menuju perkembangan tanpa batas. Pada era digital, kita “dipaksa” untuk menggunakan teknologi dalam memenuhi kebutuhan hidup dan beradaptasi terhadap perubahan lingkungannya. Memasuki era digital dan keterbukaan informasi, perkembangan teknologi berdampak besar pada kehidupan manusia. Jarak dan waktu tidak lagi membatasi seseorang dalam menyampaikan maupun mendapatkan informasi. Saat ini capaian informasi dapat diakses dalam genggaman melalui android.
Lembaga atau organisasi atau bahkan individu yang berpikir ke depan dengan merangkul kecakapan abad 21 akan berupaya bagaimana yang dilakukan saat ini bermanfaat untuk masa depan berikutnya. Istilah rekam jejak digital telah menjadi pemakluman akan pentingnya untuk merawat peradaban melalui segala hal yang berbau digital. Salah satunya hadir platform digital yang telah banyak dimanfaatkan untuk merekamkan jejak digital segala hal yang berkaitan data. Tak lepas pula informasi perkembangan sastra Riau bila tidak dipikirkan masuk dalam platform digital maka perjalanan sastra Riau hanya akan tinggal sejarah.
Secara sederhana platform dapat diartikan sebagai sebuah wadah yang dapat dipakai untuk menjalankan sebuah sistem sesuai dengan rencana program yang telah dibuat. Sedangkan platform digital sebagai sekumpulan perangkat lunak yang membentuk suatu sistem tertentu. Penggunaan platform digital terus meningkat penggunaannya seiring berkembangnya teknologi informasi dan kebutuhan masyarakat. Salah satunya dalam dunia pendidikan seperti dilansir situs resmi www.belajar.id terdapat 46 (empat puluh enam) platform digital di antaranya Rumah Belajar, Google Classroom, Ruang Guru, dan sejenis lainnya. Peluang serupa dapat diadaptasi untuk merawat perjalanan sastra di Riau dengan menghadirkan platform digital sastra Riau.
Konten dan Pengelolaan
Konten dalam platform digital sastra Riau dapat ditampilkan secara representatif untuk dinikmati berbagai lintas generasi. Mengingat ragam karya sastra mulai dari sastra anak, remaja, dan dewasa perlu dinikmati dari berbagai kalangan usia. Kunjungan dan kemanfaatan pada platform digital yang diberikan akan mempengaruhi spirit dan keberlanjutan platform digital ini.
Platform digital sastra Riau memuat periodisasi perjalanan sastra di Riau. Periodisasi dapat dipilah menurut penggalan waktu atau menurut penokohan utama pada periode waktu tersebut. Seperti periodisasi sastra Riau yang pernah disusun oleh budayawan Riau UU Hamidy berupa Generasi Raja Ali Haji 1850-an – 1880-an, Generasi Rusyidiah 1890-an – 1920-an, Generasi Tuan Guru Abdul Rahman Siddik, 1920-an – 1930-an, Generasi Soeman Hs, 1920-an – 1940-an, Generasi Yong Dolah, 1950-an – 1960-an, Generasi Ibrahim Sattah, 1960-an – 1970-an, Generasi Dasri al Mubary 1980-an. Periodisasi ini tentu berlanjut dengan kesepakatan waktu dan penokohan utama berikutnya. Penataan periode waktu beserta konten lainnya dapat disepakati setelah melalui proses diskusi bersama sastrawan-sastrawan senior Riau.
Penokohan pada sastrawan-sastrawan besar yang memang layak ditempatkan pada posisi yang selayaknya. Konten ini akan memberikan motivasi bagi para pemula dan pencari data perkembangan sastra di Riau. Konten tersebut dapat memuat visual perjalanan berkarya sastra bagi sastrawan yang telah tiada dan wawancara langsung kepada sastrawan yang masih hidup untuk berbagi pengalaman dalam proses kreatif berkarya sastra. Konten ini tentunya meski dikemas dengan tampilan visual yang mengikuti standar yang menarik untuk disimak.
Semarak perjalanan komunitas sastra di Riau perlu diketahui khalayak agar pendar-pendar geliat sastra dapat dilihat dan dikembangkan. Kita dapat menyebut komunitas sastra yang tumbuh dan bertahan antara lain Komunitas Paragraf, Komunitas Seni Rumah Sunting, Forum Lingkar Pena, Suku Seni Riau, Competer dan komunitas yang sedang tumbuh untuk berkembang seperti Salmah Creative Writing (SCW), Komunitas Riau Sastra, dan banyak lagi yang bermunculan dalam bentuk komunitas sastra digital. Geliat komunitas sastra tersebut masih cenderung parsial sehingga perlu disatukan melalui platform digital sastra Riau ini. Ragam aktivitas sastra dan karya anggotanya dapat dimunculkan dalam bilik-bilik pada platform digital sastra Riau ini. Kondisi ini akan membuat kita tidak pernah habis untuk mengisi konten dalam platform digital tersebut.
Karya-karya tematik berupa puisi, cerpen, novel, esai, kajian, sastra lisan dan karya sastra lainnya mendapat ruang untuk direkamkan jejak digitalnya. Dengan penyediaan bilik-bilik tematik dalam jenis karya sastra pada platform digital membuka peluang untuk ramai dikunjungi. Dapat menjadi bahan hiburan dan dapat pula sebagai bahan kajian untuk kepentingan akademik. Platform pada bilik ini dapat menjalin kerjasama dengan Bilik Melayu dari Perpustakaan Soeman Hs. Mengingat tingkat kunjungan Bilik Melayu secara langsung termasuk yang ramai dikunjungi. Dengan jalinan kerjasama ini karya-karya dalam Bilik Melayu tersebut dapat dialihwahanakan menjadi e-book yang jangkauannya dapat dikunjungi berbagai kalangan dari belahan negeri.
Bilik lain yang dapat dikembangkan dalam platform digital sastra Riau berupa Bilik Belajar Sastra Bersama Sastrawan. Pada bilik ini para sastrawan secara digital memberikan berbagai cara dalam proses kreatif menghasilkan karya sastra. Bilik ini bila dikelola secara profesional akan menjadi rujukan tak henti dikunjungi. Mengingat keterampilan dalam kepenulisan kreatif ke depannya sebagai salah satu kebutuhan penting yang mendampingi kita memasuki era keterampilan abad 21.
Platform digital sastra Riau dapat dikelola oleh beberapa pihak antara lain dinas terkait dalam hal ini Dinas Kebudayaan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, Dinas Komunikasi dan Informasi serta Balai Bahasa. Lembaga-lembaga di bawah pemerintah tersebut berpeluang besar mewujudkan platform digital sastra Riau sebagai salah satu program unggulannya. Dalam pengelolaan teknisnya dapat mengikutsertakan jaringan perwakilan komunitas sastra yang telah teruji dedikasinya untuk mengembangkan rekam jejak digital karya sastra di Riau ini.
Tantangan dan Harapan
Tantangan dalam pengelolaan platform sastra Riau diprediksi berupa perimbangan terhadap percepatan teknologi informasi yang selalu maju. Hal ini membuat pengelola platform digital sastra Riau harus selalu beradaptasi terhadap segala percepatan yang terjadi.
Keberadaan platform sastra Riau membuka peluang akan rekam jejak digital yang berkelanjutan dan lintas zaman serta lintas generasi. Peluang ini akan membawa Riau kembali pada era kejayaan sastra sebagai negeri sahibul kitab.
Rujukan
Dea Nur Zuraidah dkk. “Menelisik Platform Digital dalam Teknologi Bahasa
Pemrograman”. Teknois. Volume 11 Number 2 November 2021 Page. 1-6.
Dwi Maya. 2022. Riau Darurat Literasi: Mimi harapkan masyarakat yang melek digital
dan anak – anak mampu menggunakan elektronik untuk kegiatan yang baik. Tersedia di https://dipersip.riau.go.id/post/. (Online). Diakses 15/11/2022.
UU Hamidy. 1994. Bahasa Melayu dan Kreativitas Sastra di Daerah Riau. Pekanbaru:
UNRI Press.