Rekonstruksi Sejarah Lanun dalam Kerangka Sastra Novel Lanun Alang Tiga: Catatan Windi Syahrian (Bagian-3)

Melalui novel ini, sesungguhnya Rida mencoba untuk mengurai benang kusut antara mitos dan juga fakta terkait suku Iranun yang menjadi lanun. Ia mencoba memisahkan antara mitos-mitos yang dilatari oleh stigma negatif, meski pada beberapa kesempatan, ia juga mengamini beberapa stigma tersebut melalui penceritaan yang apik. Tak lupa, agar berimbang, Rida kemudian menyajikan data-data yang dikemas dalam bahasa-bahasa deskriptif dan naratif. Maka, secara garis besar, tampaklah bahwa di samping segala berita buruk yang beredar mengenai mereka, suku Iranun sendiri memiliki peran dalam menjaga keutuhan kerajaan dan juga berjasa dalam mengusir penjajah.
Pada plot tentang pergerakan lanun di masa lalu, Rida membangun suasana demikian epik. Semisal ketika ia menceritakan bagaimana mencekamnya suasana ketika Sultan Mahmud Riayat Syah menunggu kabar kedatangan Raja Ismail guna menyerbu Belanda. Pembaca dijejalkan peristiwa demi peristiwa demi peristiwa seakan-akan menyaksikan perubahan scene demi scene pada tayangan film. Memang salah satu kelebihan Rida adalah bagaimana cara ia bertutur kisah yang membuat pembaca seakan-akan menyaksikan kisah itu secara visual.
Kita juga seakan dibawa pada abad ke-17 di mana penggunaan bahasa Melayu masih demikian murni dan tentunya juga puitis menjadi pengucapan sehari-hari dengan istilah-istilah yang barangkali cukup asing didengar pada masa sekarang, seperti; patik, beta, hamba, dan lain sebagainya. Hanya saja, penggunaan bahasa Melayu di sini bukan hanya terjadi pada percakapan antar tokoh saja, melainkan juga pada untuk penghantaran secara hampir keseluruhan, sehingga akan menyulitkan penutur non-Melayu untuk membaca ini dan mengesankan segmentasi pembacanya terbatas hanya untuk kalangan Melayu saja. Selain itu, dengan berbagai kelebihan nya, bukan berarti novel Lanun Alang Tiga ini bebas dari cacat dan plot hole. Dengan sedikit menyesal, saya terpaksa mengatakan bahwa Rida agak kehilangan fokus dalam meneruskan premis cerita.
Betapa tidak, premis ceritanya berfokus dan berkutat tentang Nadin, seorang wartawan dari Sabah yang ditugaskan atasannya, Datuk Rahman, untuk menelusuri jejak suku Iranun yang bermigrasi dari Tempasuk ke pesisir Riau. Sepanjang pencarian itu, Nadin ditemani oleh wartawan lokal yang bernama Mustam, dan seorang pakar sejarah Melayu yang bernama Prof. Kazai.
Padahal, tujuan Rida menulis cerita Lanun Alang Tiga ini tak lain adalah ingin memperlihatkan sisi manusiawi seorang panglima lanun seperti Tuk Lukus yang berhasil mempersunting Tengku Maimunah. Ia ingin menampik sosok lanun sebagai persona yang ditakuti dan dibenci kalangan orang. Bagaimana mungkin seorang yang kejam dan dibenci orang lain bisa mempersunting seorang putri raja tanpa paksaan. Kalaupun Tengku Yahya terikat utang budi, seharusnya, lanun sebagaimana pemberitaan dari Belanda—yang dianggap sebagai perompak gila harta—cukuplah saja dibayar menggunakan harta atau jabatan belaka, bukan dengan menikahkan putri semata wayangnya. Andaikata dikatakan pernikahan politik pun, secara akal sehat, tentulah Tengku Yahya lebih memilih pangeran Terengganu yang lebih bermartabat.
Kemudian cerita beringsut kepada kisah keturunannya, Panglima Sulong, pimpinan lanun yang kemudian dianugerahi gelar pahlawan, semacam antitesis dari konsep pemberontak sebagaimana stereotip yang diembuskan.
Namun demikian, sungguh disayangkan porsi cerita dari Tok Lukus dan Panglima Sulong sebagai sosok lanun Alang Tiga yang ingin diangkat Rida sangat sedikit, sehingga tidak begitu menggambarkan bagaimana lanun Alang Tiga itu hidup sebagaimana manusia kebanyakan. Ia bisa jatuh cinta, beranak-pinak, dan meninggal layaknya manusia biasa. Sehingga, pemberian tajuk Lanun Alang Tiga ini kurang begitu tepat.
Andai boleh mengusulkan, untuk tajuk novelnya bisa ditambah dengan sebuah kata kerja di depannya menjadi “Mencari Jejak Lanun Alang Tiga”. Namun demikian, tentulah Rida yang paling berhak memutuskannya.
Sepertinya Rida berusaha untuk membangun latar peristiwa melalui penjabaran sesuai fakta untuk menepis anggapan rekonstruksi palsu kisah pada masa silam (pesudohistoris), alih-alih menghidupkan tokoh utama dalam cerita utuh. Beberapa kali Rida, melalui Prof. Kazai memaparkan kajian ilmiah yang dikutip dari sumber pakar sejarah maritim Indonesia, Adrian B. Lapian. Maka tak berlebihan jika novel ini sangat membantu kita untuk merangkum apa yang disampaikan Adrian dalam narasi yang sedikit lebih ringan ketimbang membaca buku Orang Laut Bajak Laut Raja Laut yang cukup berat.
Rida mengakui sendiri keinginannya mendobrak gap antara generasinya dengan generasi muda agar generasi muda tertarik membaca sejarah. sehingga, agar tujuan tersebut tercapai, ia harus rela keluar dari zona nyamannya sebagai pencerita Sejarah Melayu. Hingga ia menemukan sebuah formulasi untuk mencapai tujuan tersebut dengan cara menggunakan tokoh asli yang hidup di masa kini dan berperan sebagai jembatan penghantar antara dimensi (masa kini dengan masa lalu). Implikasinya adalah, Rida menjadi terlalu fokus dengan cerita masa kini dan melupakan kekuatannya sebagai pencerita handal dalam narasi Melayu kuno.
Dalam naskah ini juga terdapat beberapa salah pengetikan (typo) yang terdapat di dalam buku ini. Yang paling parah terdapat pada halaman 58 di mana terdapat paragraf yang menggantung dan tidak ada kelanjutannya, seperti berikut; Perjalanan menelusuri jejak dan peranan orang Iranun di. Paragraf tersebut berhenti di situ saja tanpa ada tanda baca seperti elipsis, koma, maupun titik. Ini menunjukkan bahwa seorang Rida K. Liamsi sekalipun bisa khilaf, dan editornya pun luput dalam pemeriksaan naskah.
Selain itu, ada beberapa inkonsistensi pada penulisan nama, seperti Panglima Sulong, yang pada beberapa bagian ditulis Panglima Sulung, tanpa ada penjelasan mengenai perbedaan penyebutan tersebut apakah dikarenakan faktor perbedaan dialek atau bagaimana.
Galat lainnya adalah kemunculan Rida K Liamsi sendiri sebagai cameo, padahal persona dari Rida sudah diwakilkan pada sosok Datuk Ismail, pengusaha media di Pekanbaru sekaligus atasan dari Mustam. Anggapan itu berangkat dari deduksi yang muncul berdasarkan serpihan informasi yang dimunculkan Rida dan mengarahkan pembaca untuk—mau tidak mau—berpikir bahwa itu Datuk Ismail itu tak lain adalah Rida sendiri. Entah ini merupakan strategi yang disengaja dengan menyisipkan teka-teki atau murni kelalaian Rida.
Hal ini tentu akan membingungkan pembaca, setidaknya yang mengenal atau cukup mengetahui mengenai Rida. Apalagi Rida meminjam nama-nama tokoh yang sebenar-benarnya di dunia nyata, seperti; Prof. Kazai dari Kazaini KS, Mustam dari Musthamir Thalib, Nadin dari Abd. Naddin Shaiddin, Haini dari Haini Karno, Julia dari Julia Jalut, dan Alwi dari Awi Anjung. Bahkan Rida menyematkan satu halaman khusus ucapan terima kasih untuk orang-orang ini, seperti memberikan petunjuk kepada pembaca agar secara tidak langsung berpikir bahwa kisah ini memang diambil dari kisah nyata. Saya pribadi bahkan sempat beranggapan bahwa kisah novel ini merupakan kisah nyata perjalanan Abd. Naddin Shaiddin setelah melihat liputannya pada laman blog-nya yang bercerita tentang lawatannya ke Indragiri Hilir menelusuri jejak suku Iranun di sana. Meskipun ia berlindung pada kredo sebagai berikut:
Novel ini sebuah karya fiksi. Jika ada nama atau peristiwa dalam buku ini yang sama atau bersamaan dengan nama dan peristiwa lain, terutama dalam peristiwa kesejarahan di kawasan ini, maka semua itu adalah sebuah kebetulan sahaja…
Rida sangat cerdik mempermainkan pembaca dengan cara menggunakan tokoh-tokoh nyata tersebut, seperti halnya Dan Brown yang berhasil membuat pembacanya bertanya-tanya mengenai kebenaran di balik novel The Da Vinci Code. Terlebih ia kemudian menjelaskan:
…Menulis sebuah novel sejarah, pada hakikatnya adalah menulis kisah baru dengan memungut dan merajut serpihan-sepihan peristiwa masa lalu, dan menginikannya dengan menafsir dan menulis ulang semua kisah itu menurut visi dan misi ideal pengarangnya agar menjadi sesuatu yang berguna …
Sungguh disayangkan keputusan Rida lebih mengangkat tokoh Nadin ketimbang mengangkat kisah Sultan Mahmud Riayat Syah, Tengku Yahya, Tuk Lukus, dan Panglima Sulong. Padahal, kekuatan novel ini justru pada pengisahan masa lampau mendekati sempurna oleh seorang yang memang memahami bagaimana sejarah dan budaya Melayu seperti Rida. Tidak berlebihan jika kita ibaratkan Rida adalah Eiji Yoshikawa -nya Kesusasastraan Melayu.
Dengan penokohan dan alur yang berkisah pada dua linimasa yang berbeda ini menjadi pisau bermata dua bagi Rida, sebab kedua alur tersebut berdiri sendiri dan tidak saling berhubungan satu sama lain. Kisah yang berkisar pada masa lalu cerita ini bukanlah flashback dari tokoh utama (Nadin), atau juga bukan merupakan penceritaan yang diperoleh Nadin dari referensi lain (baik buku, maupun orang). Sehingganya, kisah ini, meskipun merupakan intisari dari cerita tentang lanun, namun tidak memiliki kesatuan koheren dengan kisah Nadin yang melakukan penelusuran.
Hal ini tentu tidak terjadi andaikata Rida fokus pada satu penceritaan saja. Bahkan saya sendiri malah sepakat andaikata novel ini dipecah dua versi yang tidak terhubung satu sama lain, atau bisa juga menjadi dwilogi.
Satu novel berkisah dari sudut pandang masa lalu secara keseluruhan, dan satu novel lagi dari sudut pandang masa kini. Tentu lebih baik dan bisa menonjolkan kekuatan masing-masing cerita. Kalaupun ingin menggunakan tokoh sanggam, barangkali bisa diambil dari tokoh rekayasa yang berada pada dimensi cerita yang sama dengan linimasa masing-masing.
Misal, satu cerita berkisah tentang bagaimana lanun di masa lalu dengan segala kehidupannya, semisal cerita Brama Kumbara, Kaca Benggala, dan lain sebagainya. Lalu satu cerita lagi hanya berkisah tentang Nadin, si tokoh utama, yang bertugas sebagai seorang wartawan dari Suara Borneo. Premis kisahnya berkaitan dengan upayanya dalam penelusuran setiap detil dari kisah kebesaran masa lalu lanun Alang Tiga melalui penggalian informasi ke situs bersejarah Benteng Panglima Sulong. Ia merayau (menjelajah) ke pelosok-pelosok Riau mencari jejak Iranun yang tertinggal. Kisah perjalanan kemudian Nadin tertumbuk pada daerah di sudut Indragiri Hilir, tepatnya Desa Kuala Patah Parang, Kecamatan Reteh. Di Reteh ini, Nadin berhasil menemui salah seorang keturunan dari keturunan suku Iranun bernama Ami Mat dan keluarganya. Bahkan Nadin sempat jatuh cinta kepada Raja Julia, anak gadis Ami Mat. Sambil mencari perhatian Julia—barangkali untuk mengusir kerinduannya terhadap kekasihnya, Haini, yang berwajah mirip Julia—Nadin menelusuri jejak sejarah dari lanun Alang Tiga.
Untuk pembangunan konfliknya, tidak perlu diubah dari yang sudah ada, seperti konflik yang Rida berupaya tonjolkan, seperti budaya patriarki melalui kisah cinta Julia. Kalaupun ingin mengaitkan dengan bagaimana pernikahan politik antara Tuk Lukus dengan Tengku Maimunah, bisa saja, namun hanya sebagai pembanding tanpa bermaksud saling meningkahi satu dan lainnya. Ya, tentu tidak banyak yang menyadari bahwa pernikahan politik pada Tuk Lukus dan Tengku Maimunah adalah suatu peristiwa langka, yang mana selain daripada untuk mengikat persaudaraan dengan tujuan politik di belakangnya, Tuk Lukus dan Tengku Maimunah digambarkan juga saling mencintai. Namun, tidak dengan anak keturunannya, Julia.
Julia yang ketika itu terjebak perasaannya dengan Nadin dan dengan rumit mencoba meyakinkan dirinya untuk menjaga kesucian cintanya kepada Alwi, ditentang oleh ayahnya yang ingin anaknya menikah dengan keturunan Iranun juga. Julia yang memberontak berujung kepada konflik dengan ayahnya. Ia harus pergi membawa kehancuran hati akibat ego orang tua yang sangat dikasihinya, sekaligus menghancurkan hati orang tua yang sangat mengasihinya. Hubungan ironi ini sungguh memuakkan untuk dilanjutkan.
Pembangunan karakter Nadin sebagai laki-laki yang plin-plan dan tidak cepat mengambil sikap cukup membuat jengkel, namun di sinilah letak menariknya konflik kisah ini. Cukup mengherankan juga bagaimana Julia, tipe wanita alfa bisa tertarik kepada tipe laki-laki seperti Nadin ini.
Ditambah lagi, pembangunan chemistry antara Nadin dan Haini perlu diperdalam lagi. Sejauh ini, hubungan Nadin dan Haini kurang tergambarkan sebagai pasangan kekasih karena dialog antar keduanya belum terbangun baik dan tidak begitu mencerminkan bagaimana sepasang kekasih yang seharusnya mesra. Dialog mereka berdua begitu terbatas, kaku, dan kering, padahal interaksi antar keduanya seringkali membuat “basah”.
Selanjutnya, andaikan boleh meminjam istilah olahraga lari, pace novel ini terasa lambat di awal dan cenderung berat karena dijejali dengan diskusi kaku dan berat, sehingga jika orang yang membacanya tidak menyukai dan memahami sejarah, mungkin akan kesulitan untuk melanjutkannya. Namun pada pertengahan cerita, Rida mulai menggila dan memberikan hentakan-hentakan peristiwa dan kisah cinta segi empat antara Haini-Nadin-Julia-Alwi. Hubungan (nyaris) perselingkuhan ini cukup manis dan berhasil membuat saya tersenyum-senyum sendiri. Seakan saya diingatkan kembali masa-masa pedekate dengan para mantan kekasih dahulu.
Gilanya lagi, ending dari kisah ini begitu tak tertebak. Awalnya saya tidak berharap banyak dan beranggapan bahwa ending-nya akan seperti novel-novel picisan mengingat kebiasaan Rida yang tidak menyukai sad ending. Hingga Bab 19, dugaan terhadap ending yang klise belum terbantahkan, yang mana; Nadin menikahi Haini, Julia dinikahi Alwi. Ya, memang sangat biasa.
Ternyata anggapan itu sepenuhnya salah. Pada Bab 20, Rida menyelipkan peristiwa kecil yang berefek besar (plot twist). Selipan itu sangat sederhana. Hanya berupa percakapan antara Datuk Rahman dan Nadin dalam perjalanan menuju Tokong Alang Tiga. Ketika itu Nadin menjelaskan mengenai alasan batalnya Ami Mat ke Sabah karena kecewa terhadap Julia. Haini yang mendengarkan nama Julia disebut, mendelik cemburu ke arah Nadin dan berhasil membuat Nadin salah tingkah. Sederhana, bukan?
Tapi plot twist-nya justru dimulai di sini. Haini mengajak Nadin berswafoto di Alang Tiga dan kemudian mengirimkan kepada Julia. Tak berhenti di situ saja, Julia pun membalas pesan Haini dengan mengirimkan fotonya bersama Alwi di Bukit Bintang, Malaysia. Menarik. Sungguh menarik. Seakan mengiyakan quote Ali bin Abi Thalib yang berbunyi, “Wanita bisa memendam rasa cintanya hingga 40 tahun, tapi tak dapat menyembunyikan cemburunya barang sesaat.”
Melihat Haini yang seperti itu, saya hanya bisa kasihan. Ia seperti merasa memiliki tubuh Nadin, tapi tidak dengan hatinya, dan membuat rasa cemburu kembali menggebu ketika mendengar nama Julia diseru. Sungguh ironi.
Ironi selanjutnya juga disamarkan Rida dengan penggambaran akhir cerita. Julia yang orang Indonesia batal jadian dengan Nadin yang orang Malaysia, namun kemudian Julia menikah dengan kekasihnya dan tinggal di Malaysia. Nadin sendiri meski gagal mempersunting gadis Indonesia, namun kemudian ia seringkali bolak-balik Sabah-Riau dan juga bertemu dengan Ami Mat. Saya langsung geleng-geleng kepala dan berkata, “Gila.”
Akhirnya, bisa disimpulkan bahwa novel ini secara umum sudah mampu menyampaikan maksud dan tujuan dari Rida sebagai penulisnya yang ingin meluruskan sesat paham mengenai lanun. Terlepas dari beberapa kesalahan, bisa diabaikan dan tidak menjadi faktor yang menjadikan novel ini tidak layak baca. Malah sebaliknya, ini menujukkan bagaimana seorang maestro seperti Rida menulis novel yang berkualitas yang tidak hanya dipandang sebagai suatu karya fiksi belaka, melainkan bisa dijadikan sebagai referensi tanpa menghilangkan aspek penghiburan sebagaimana karya fiksi lainnya. Perlu saya akui bahwa Rida memang maestro soal menulis.
Tak heran, mengingat pengalamannya berpuluh tahun bergelut dengan buku. Tentu penyematan gelar Datuk Seri Lela Budaya yang disematkan di depan namanya bukanlah gelar mencari muka dari sebuah lembaga adat, melainkan benar-benar sebentuk penghormatan atas dedikasinya terhadap kemajuan budaya Melayu. Pun pemberian gelar anggota kehormatan Masyarakat Sejarawan Indonesia juga membuktikan bahwa pemahaman Rida terhadap sejarah tidak main-main. Ia sudah melewati proses dan konsep berpikir kronologis, periodisasi, diakronik, dan sinkronik dalam menuliskan karya fiksi sejarah semudah bernapas tanpa berlepas pada drama yang menjadi ruh sastra. [*]

Daftar Rujukan

Sumber dari buku:
Amirell, S. E., Bruce B., dan Hans, H. 2021. Pendahuluan: Pembajakan dalam Sejarah Dunia dalam Pembajakan dalam Sejarah Dunia. Amsterdam: Pers Universitas Amsterdam.
Buchan, B. 2021. Semua di Laut: Tiran Locke dan Pembajakan Pemikiran Politik dalam Pembajakan dalam Sejarah Dunia. Amsterdam: Pers Universitas Amsterdam.
Damono, S. D. 1979. Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar Singkat. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
Ekadjati, E. D. 1983. Sumbangan Karya Sastra Sejarah Terhadap Sejarah Lokal di Indonesia. Dalam Seminar Sejarah Lokal. Sastra dan Sejarah Lokal. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
Fikri, R. R. 2011. Dinamika Perdagangan Bandar Malaka dari Masa Pemerintahan Sultan Mansyur Syah Hingga Masa Pemerintahan Porugis (1456-1641). Depok: Universitas Indonesia.
Heryati. 2017. Pengantar Ilmu Sejarah. Palembang; Program Studi Pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Palembang.
Kartodirdjo, S. 1982. Pemikiran dan Perkembangan Historiografi Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Kuntowijoyo. 2001. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Tiara Wacana.
Lapian, A. B. 2011. Orang Laut, Bajak Laut, Raja Laut, Sejarah Kawasan Laut Sulawesi Abad XIX. Depok: Komunitas Bambu.
Notosusanto, N. 1986. Mengerti sejarah /Louis Gottschalk. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press), ed. II Cetak V.
Pinto, P. J. d. S. 2012. The Portuguese and The Straits of Melaka 1575-1619, Power, Trade and Diplomacy. Singapore: National University of Singapore.
Reid, A. 2011b. Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga 1450-1680 Jilid 2.: Jaringan Perdagangan Global, Jakarta: Penerbit Obor.
Syamsudin, H dan Ismaun. 1996. Pengantar Ilmu Sejarah. Jakarta: Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Teeuw, A. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra. Jakarta; Pustaka Jaya.
Warren, J. F. 2002. Iranun and Balangingi:Globalization, Maritime Raiding and The Birth of Ethnicity. Singapore: National University of Singapore.
___________2007. A World of Water. Leiden: Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV) Press.

Sumber dari jurnal dan disertasi:
ARA, Account of Saijt Mashout, 4-9-1787/VOC 3812, ARA testimony of Sidem Pondaran, Singot Troeno, Praaije di Wangsa, Sijmon Tangera and Soitan Siech, 36-1787/VOC3812, dalam Algemeen Rijkarchief (ARA) Juli, September 1787, Dalam Reinout Vos,
Furnivall, J. S. 2001. Efficiency, welfare and commerce in South East Asia. in Paul H. Kratoska (ed). South East Asia colonial history. Volume III. High Imperialism (1890s-1930s). London and New York: Routledge.
Halimi, A. J. b. 1999. Perdagangan dan Perkapalan Melayu di Selat Melaka dari Abad ke-15 hingga Abad ke-18, Disertasi Doktor Falsafah. Kuala Lumpur: Jabatan Sejarah Universiti Malaya.
IOH Letter from Penang to Calcutta, 10-1-1788/SSR, 3,f.80 dalam Reinout Vos.
Ke, Xu. 2006. Contemporary Maritime Piracy in Southeast Asia. Doctor Dissertation Singapore: National University of Singapore.
Kempe, M. 2010. Even In the Remotest Corners of The World”: Globalized Piracy and International Law. 1500-1900. Journal of Global History. Vol. 5, No. 3. hlm. 356
Reid. A. 1980. The Structure of Cities in Southeast Asia, Fifteent to Seventeent Centuries of Southeast Asian Studies. Vol. 11, No. 2 (Sep., 1980), hal. 235-250
Utomo, I. N. dan Sholihah, F. 2019. Dari Hilir ke Hulu: Perkembangan Sejarah Maritim Indonesia dan Selingkar Permasalahannya. Dalam Seminar Nasional dan Temu Alumni HMPS 2019, FIS UNY Yogyakarta

Sumber dari internet:
Benjamin, R. A. 2022. “Pirate Utopia” dan Republik Bajak Laut di Karibia. Diakses pada 28 Februari 2024. https://tirto.id/pirate-utopia-dan-republik-bajak-laut-di-karibia-gohh#google_vignette
Priyatmoko, H. Sastra Sebagai Sumber Sejarah. Diakses pada 1 februari 2024. https://www.republika.co.id/berita/o1t4io1/sastra-sebagai-sumber-sejarah

 

 

Comments (0)
Add Comment