Retak Mencari Belah: Cerpen Bambang Kariyawan Ys.

Aku penjunjung setia. Pengawal istana yang tak pernah membantah sedikitpun. Titah sultan adalah mutlak. Tak ada posisi tawar walau sekedar memberi saran. Kepatuhan adalah harga mati. Banyak kisah yang ingin kuceritakan dari kesetiaanku pada sultan, sang penguasa istana. Aku bukanlah seorang pencerita yang baik, karena sebagai pengawal aku dituntut untuk siap bersama putaran waktu. Namun bagaimanapun sejarah meski disampaikan agar menjadi pengingat dan pelajaran bagi generasi ke generasi.
“Pengawal! Bersiap kita ke Guntung!” Perintah panglima untuk aku dan teman-teman seperjuangan dalam barisan pengawal dengan serempak menjawab kesiapsiagaan.
Inilah cerita yang ingin aku tuturkan tentang Perang Guntung dari sisi lain aku sebagai pengawal dan saksi sejarah. Cerita ini takkan pernah tertulis dalam lembaran-lembaran almanak kesultanan. Aku sadar sesadarnya posisiku sebagai pengawal, takkan dianggap penting sebagai saksi sejarah. Tapi sudahlah, cerita ini aku yakin, kelak akan mendapatkan tempat dan kesaksiannya dalam sebuah perjalanan sejarah.
Titah itu harus segara aku lakukan. Aku bersama pengawal yang lain akan patuh pada yang memberi perintah. Sepertinya dalam perjalanan sejarah kekuasaan di kesultanan manapun perebutan tahta sepertinya hal yang biasa. Perebutan itu tentunya terjadi antar anggota keluarga. Halnya dengan kesultanan Siak tempat aku mengabdi. Perebutan tahta pengganti Raja Kecik antara Tengku Buwang Asmara dan Raja Alam sepertinya episode yang menarik untuk kuceritakan.
“Entahlah, sepertinya kekuasaan tak mengenal saudara, yang dikenalnya hanyalah singgasana.”
Aku masih ingat betapa murkanya Raja Kecik kala mengetahui pertengkaran antara kedua anaknya. Aku masih merekam kalimatnya,“barang siapa yang hidup, itulah anak kita.”
Apakah kalimat itu memang muncul dari Raja Kecik sebagai Sultan atau karena latar belakang apa. Sepertinya Raja Kecik sudah sangat pengalaman dengan kudeta. Bukankah Raja Kecik naik tahta juga karena kudeta?
Aku pengawal setia Tengku Buwang Asmara. Kesetiaanku sebagai pengawal tak perlu diragukan. Bagiku beserta pengawal yang lain, menjaga sultan dan istana adalah kewajiban. Meski aku tahu hal seperti apa yang diperjuangkan Raja Alam. Aku hanya ingin bercerita sedikit saja tentang episode yang turut mewarnai perjalananku sebagai pengawal Kesultanan Siak yaitu Perang Guntung. Aku tidak akan menceritakan bertikaian Tengku Buwang Asmara dan Raja Alam karena terlalu lelah mengikuti kalah menang bergantian yang dialami sesama saudara kesultanan itu. Kalau dalam Perang Guntung ini, aku menganggapnya inilah sebenar sejarah. Ada perjuangan yang semestinya diperjuangkan.
“Pengawal! Bagaimana kondisi kapal Harimau Buas?” Panglima selalu memilih kapal terbaik untuk menuju medan tempur.
Kapal Harimau Buas itu selalu menjadi kebanggaanku sebagai pengawal. Aku bak menjadi ksatria kala berada di atas kapal itu. Terkadang bergantian kapal kerajaan yang tak kalah gagahnya kala berada di dalamnya, Kapal Kota Berjalan, Jembalang Guntung, dan Medan Sabar.
“Kita akan ke Guntung, membela marwah negeri dan Sultan,” Panglima menyemangati aku dan pengawal yang lain.
Aku selalu siaga untuk urusan ini. Pagi itu masih kucatat dengan rapi dalam bilik ingatanku tertanggal 6 November 1759 armada pasukan perang Kesultanan Siak berlayar dengan 40 buah penjajap besar, satu kits dan calup berangkat menuju Pulau Guntung. Aku teringat ini adalah keberangkatan kedua setelah keberangkatan pertama masih gagal menembus benteng pertahanan keangkuhan Belanda. Terlalu berlapis benteng-benteng itu. Loji-loji yang dibangun adalah simbol-simbol penghinaan. Loji-loji menjadi pembatas sebuah kebebasan. Kebebasan untuk memiliki bahwa tanah Siak ini milik orang Siak, bukan milik pendatang.
Aku tak paham-paham bolak-balik setia, membangkang, kembali setia, dan kembali membangkang. Itu yang dialami Kesultanan Siak dengan Belanda. Berseberangan pula dengan Raja Alam yang bolak-balik kerjasama dengan Belanda untuk mendapatkan tahta di Kesultanan Siak ini. Sedemikian maniskah kursi tahta singgasana sultan, sehingga yang kita sebut teman atau lawan, jadi tak terbedakan? Entahlah, aku hanya pengawal.
“Belanda licik, kita harus lebih licik.” Kalimat yang selalu diulang-ulang kepadaku.
“Selalu ada kepentingan di dalam jalinan hubungan itu. Kadang baik, kadang buruk. Tak ada pertemanan sejati, yang ada kepentingan abadi.” Istilah yang sulit kucerna sebagai pengawal. Bahasa tingkat tinggi.
“Retak mencari belah hubungan Siak dengan Belanda kala ini.” Istilah apalagi itu. Tapi aku yakin maknanya terkait situasi yang sedang tidak baik-baik saja.
Aku terkesima dengan siasat yang kali ini membuatku jadi lebih memahami akan penting kelicikan dalam perang.
“Licik meski dilawan dengan licik.” Kalimat itu kembali diulang-ulang hingga terngiang di telingaku. Entahlah itu bukan urasanku. Aku sebagai pengawal setia akan mendukung segala cara yang telah diputuskan para pembesar kerajaan.
“Siasat hadiah Sultan. Strategi yang telah dibincangkan dengan sangat detil,” ungkap panglima padaku. Tanpa kuminta penjelasan maksud siasat itu, Panglima telah menjelaskan dengan panjang lebar sebagai sebuah berita yang harus aku ketahui.
Kala itu banyak hadiah yang dipersiapkan. Aku bersama pengawal yang lain Menyusun beragam hadiah sebagai siasat ini. Dua tong arak, lima karung beras, empat karung kacang dan dua bal kain Jawa. Aroma yang berbeda dari setiap hadiah yang akan diberikan, terkhusus aroma kain Jawa mengingatkanku pada cerita-cerita heroik yang pernah diceritakan Panglima pada kami untuk menjaga semangat perang kami.
Aku merasakan sensasi yang luar biasa dalam perang itu. Gairah ingin memenangkan dan membela marwah.
“Pengawal siapkan kelengkapan hadiah dengan rapi,” perintah Panglima.
Aku menjadi bagian dari siasat itu. Ada sensasi yang mengeluarkan adrenalinku. Ketegangan dalam sandiwara yang mesti kuperankan. Aku berperan sebagai pembawa tudung saji berlapis kain sutera.
Aku saksikan barang persembahan itu diletakkan di dalam peti dan sebagian di dalam dulang berkaki dan ditutup dengan tudung saji yang berlapis kain sutera berwarna warni. Peti-peti dipikul juga ditutup dengan kain sutera berwarna indah lalu dibawa oleh pengawal sepertiku. Peti-peti tersebut di dalamnya bukanlah hadiah seperti yang dijanjikan, tetapi berisikan senjata berupa keris-keris dan sondang.
Pada waktu yang sunyi, erangan itu membelah langit Siak. Kala Panglima Sayyid Umar mengucapkan selawat tiga kali, lalu dipeluknya pinggang Tuan Vandrig Hansen. Ditikamkannya perut Tuan Vandrig Hansen dengan keris bersejarah yang dikenal dengan keris Jambuan sehingga mati. Setelah itu Tengku Buwang Asmara mengambil keris dan menggelegarkan alam sekitar Guntung dengan sumpah saktinya.
“Barang bila aku mengamuk Melaka kelak, baharulah aku membuka hulu kerisku ini.” Kalimat yang teramat dikenal dalam Hikayat Siak. Aku bahkan sempat mengulang-ulang kalimat sakti itu. Kalimat yang dibalut dengan gumpalan janji sekaligus ambisi.
Aku benar-benar menyaksikan darah menetes di bumi Siak ini. Cipratannya mengenai anggota tubuhku. Aku dan pengawal beserta panglima-panglima Siak sebenar mengamuk dan menghabisi puluhan nyawa.
Aku merenung, inikah makna perang? Saling meneteskan darah adalah kelumrahan yang tidak perlu dipermasalahkan.
“Mengapa baru kau tanyakan sekarang? Bukankah sejak awal menjadi pengawal istana, cipratan darah saudara dan musuh adalah sebuah hidangan rutin kala perang?” Suara batin mengingatkanku.
“Namun darah kali ini terasa lain.” Sisi batinku yang lain mengajak dialog dalam diri.
“Lain seperti apa?” Batin yang berbeda mempertanyakan keganjilan atas dilema yang dihadapi.
“Biar sejarah yang menjawabnya.”
“Entahlah.”

30 Juli 2023

Keterangan: Cerpen Pilihan Festival Sungai Jantan Tahun 2023.

Comments (0)
Add Comment