Sastrawan dan Ketua WPI Riau Bezuk Sastrawan Senior Bundo Free Hearty,m: Berbincang soal WPI, Banpem dan Sastra Kini

JAKARTA-TIRASTIMES: Sastrawan asal Tanah Melayu, Dr. (Can) Ir. Fakhrunnas MA Jabbar, M.I.Kom dan Ketua WPI (Wanita Penulis Indonesia) Wilayah Riau, Hj. Tutin Apriyani, S.E membezuk sastrawan senior, Dr. Free Hearty (75 tahun) yang akrab dipanggil dengan Bundo Free, di kediamannya di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Selasa (1/9). Bundo Free sepekan lalu dioperasi usus buntu. Pertemuan itu berlangsung di kamar, Bundo yang sudah bisa duduk di tempat tidur.

“Sebetulnya operasi usus buntu itu biasanya soal kecil. Tapi karena usia Bundo sudah 75 tahun, urusan operasi ini jadi masalah besar. Soalnya sebelum operasi, dokter bilang harus menghadirkan semua anak-anak dan menandatangani perjanjian,” cerita Bundo Free dengan tetap bersemangat.

“Alhamdulillah, kami senang Bundo dalam keadaan baik. Semoga cepat pulih seperti sediakala,” sambut Fakhrunnas dan Tutin yang akrab dipanggil Nenny.

Fakhrunnas dan Nenny sehari sebelumnya menghadiri acara Launching Buku Antologi Puisi Indonesia – Spanyol Antologi
Hacia Todo terbitan Yayasan Hari Puisi (YHP) di Aula Perpustakaan Nasional, Jakarta. Buku ini bukan titik akhir melainkan awal dari perjalanan panjang untuk membuat puisi Indonesia dikenal lebih luas di manca negara. Rencananya setelah ini akan ada lagi Antologi Puisi Indonesia- Italia, Indonesia- Prancis dan lain-lain.

Peluncuran buku dihadiri sejumlah perwakilan diplomatik negara-negara berbahasa Spanyol, antara lain Duta Besar Ekuador Luis Guillermo Arellano Jibaja, Wakil Duta Besar Spanyol Fernando Burgos Sainz, Konsul dan Atase Kedutaan Besar Meksiko Ricardo Bicerril, serta perwakilan Kedutaan Besar Kolombia Nicolas Montoya. Hadir pula kalangan pemerintah seperti Kepala Badan Bahasa, Hafidz Maksum, para sastrawan, penyair dan penulis di antaranya Dr. Nasir Tamara yang juga wartawan senior.

Tak terasa perbincangan dengan Bundo Free hampir tiga jam memperbincangkan banyak hal di antaranya perkembangan organisasi WPI, Sastra Indonesia dan Bantuan Pemerintah (Banpem) bagi Sastrawan yang sudah berkarya 25, 40 tahun 50 tahun.

“Bundo memang pernah didatangi pihak Badan Bahasa yang menanyakan arsip karya Bundo di masa lalu. Maklum Bundo sudah menulis seni dan sastra lebih 50 tahun. Tapi Bundo bukan seorang arsiparis yang baik. Pernah anak Bundo mencari karya itu lewat AI. Ada ditemukan puisi dan cerpen Bundo awal-awal menulis dulu, tapi itu tak bisa dijadikan dasar oleh mereka. Mereka tetap meminta klipping tulisan. Ya, Bundo sudah tak punya. Jadi tak apalah, Bundo tak dapat Banpem itu,” ujar Bundo dengan tetap bersemangat.

Bundo sempat menanyakan perkembangan WPI Riau yang langsung dijawab oleh ketuanya, Tutin Apriyani.

“Perkembangan WPI Riau sangat dinamis, Bundo. Kami sedang menyempurnakan kepengurusan karena ada di antaranya tidak aktif. Insyaallah dalam pelantikan nanti akan ada Talk Show dan Peluncuran buku anggota WPI dan Buku sastrawan yang diterbitkan atas kerjasama dengan WPI,” kata Tutin.
Dalam waktu dekat , Tutin akan menerbitkan buku Catatan Lepas seorang Pramugari dan Fakhrunnas menerbitkan buku Puisi Airmata Melayu Jatuh di Pelimbahan.

“Insyaallah, Bundo akan datang. Doakan Bundo tetap sehat,” sambut Bundo Free gembira.

Menjelang kedua penulis asal Tanah Melayu Riau itu pamit, Bundo mengungkapkan kebahagiaannya sudah dikunjungi.

“Bertemu begini saja hati Bundo senang. Bundo berterimakasih ya Nenny, Fakhrunnas,” ucapnya. Pertemuan itu pun berakhir sore itu. (Nen/NS/BK)

Comments (0)
Add Comment