Siapa Penulis Puisi Mbeling: Remy Sylado atau Jeihan?: Catatan Kurniawan Junaedhie

Sore di bulan Maret 2019 itu Jakarta cerah tak berhujan. Pelukis Jeihan dan Penyair Sapardi Djoko Damono tengah asyik masyuk bernostalgia di acara bertajuk “Ngobrol dengan Jeihan” di Musium Macan Jakarta. Ini adalah acara pelengkap pameran lukisan karya Jeihan, sekaligus untuk merayakan ultah Jeihan yang ke-81. Juga dimaksudkan sebagai acara syukuran, karena Jeihan sudah dinyatakan sembuh dari penyakit kanker kelenjar getah bening yang nyaris merenggut nyawanya.

Sapardi adalah teman satu sekolah Jeihan sewaktu di SMA di Solo. Jeihanlah yang dulu membeayai penerbitan buku puisi pertama Sapardi yang terkenal itu: DukaMu Abadi. Selain Sapardi, ada satu lagi sahabat Jeihan yang sedang ditunggu. Itulah Remy Sylado, sahabat Jeihan, sewaktu di Bandung.

Saat pembicaraan yang penuh haru dan gelak tawa itu berlangsung, datanglah Remy. Itulah pertemuan pertama antara kedua sohib lama itu setelah sekian lama tak bertemu, begitu Remy mengakui belakangan.

Tanpa babibu, Remy yang sore itu tampak sedang kurang sehat, langsung menabuh genderang perang. Dia menyoal soal kontroversi yang selama ini beredar di luar, yang menganggap seolah-olah Jeihan sebagai pencetus Puisi Mbeling. Meski masalah itu diakui Remy sudah lama clear, bahwa publik mengakui Remy sebagai pencetus Puisi Mbeling, Remy tetap merasa perlu meluruskan. “Mumpung di depan Jeihan,” katanya belakangan. “Ini penting dijelaskan supaya informasi tidak bias,” katanya.

Menurut Remy, Jeihan telah menyatakan “hal yang tidak benar,” dengan mengklaim dirinya sebagai pencetus Puisi Mbeling, sehingga kata Remy, sastrawan sekaliber Jakob Sumardjo, dan Sapardi Djoko Damono sempat terkecoh dan mempercayainya. Padahal yang benar, dirinyalah yang justru mengajak Jeihan, dan orang bernama Sanento Juliman untuk ikut menulis di rubrik itu.

Saat itu kan Jeihan belum apa-apa. Menulis saja belum bisa. Jadi pelukis pun belum terkenal. Yang membuatnya jadi pelukis terkenal itu wartawan bernama Sondang Napitupulu,” katanya penuh semangat.

Menurut Remy, Gerakan Mbeling yang dicetuskannya pada tahun 1971 di majalah Aktuil Bandung, bukannya tanpa konsep. Gerakan itu selain merupakan reaksi terhadap situasi politik Orde Baru yang salah kaprah dengan slogan-slogan dari pejah gesang nderek bapak ke mikul dhuwur mendem jero, juga merupakan perlawanan pada dunia sastra Indonesia saat itu. Yakni, estetika puisi yang tertawan dalam pikiran-pikiran konvensional yang diungkap secara kabur dan gelap dengan bahasa berbunga-bunga sehingga puisi kehilangan tanggung jawabnya terhadap realitas, dengan demikian merupakan kritik terhadap fenomena onani dalam bersastra dimana para penyair menulis puisi untuk dibaca—karena hanya dipahami—oleh mereka sendiri.

Menurut Remy, sebelum lahir sebagai genre puisi, Gerakan Mbeling sudah dimunculkannya sebagai fenomena teater, saat Remy melalui Dapur Teater 23761 di Bandung mementaskan Genesis II, kemudian berturut-turut Exsodus II, dan Apocalypsis II. Dalam pentas-pentas teater itu Remy mengklaim sudah mengenalkan istilah ‘Mbeling’. Gerakan Mbeling juga diakui sebagai reaksi terhadap WS Rendra yang dengan teaternya berpandangan, perlawanan terhadap budaya mapan harus dilakukan dengan sikap urakan. Dalam Apologia Genesis II Remy menyatakan, kata ‘urakan’ dalam bahasa Jawa berkonotasi negatif: tidak sopan, tidak tahu aturan, dan kurang ajar. Karena itulah Remy, melalui teaternya, mengajukan kata ‘mbeling’ yang punya pengertian, pintar, tahu sopan-santun, dan bertanggung jawab. Konsep itulah yang ditransformasikannya ke dunia puisi ketika pada tahun 1971 bergabung dengan majalah Aktuil yang didirikan Denny Sabri, Toto Rahardjo, dan Sony Soeryatmadja.

Dalam kata pengantar edisi perdana puisi mbeling-nya, Remy menulis:
Sajak, seperti seni-seni kiwari yang intim dan pop, patutlah dianggap sebagai seni para remaja atau kaum muda, yang bangkit lantaran ternyata nilai-nilai tua yang diternakkan opa oma yang memanjakan kekolotannya, ternyata tak mencapai nilai-nilai yang cocok dengan perkembangan teknologi yang kian laju meninggalkan kebanggaan-kebanggaan masa silam. Seni kaum tua terlalu dinylimetkan dengan teori-teori yang sudah tidak cocok. Seakan-akan puisi itu barang suci yang turun dari surga. Padahal apa puisi jika bukan sekedar pernyataan apa adanya? Dan buat jadi penyair ternyata tidak susah, gampang sekali. Modalnya cukup hanya dengan selembar kertas cebok dan ballpoint 15 perakan.”

Dengan ‘pernyataan itu’, puisi yang semula dipandang sebagai ‘benda pusaka yang sakral’, berubah menjadi ‘barang biasa saja yang bisa ditulis oleh siapa saja’.

Kehadiran Remy dengan Puisi Mbelingnya di majalah hiburan dan musik Bandung itu harus dicatat menandai lahirnya gairah baru bersastra di kalangan remaja. Sapardi mengakui, Puisi Mbeling telah membuat anak-anak muda pada saat itu memiliki harapan besar tetap menjadi sastrawan meski karyanya ditolak di majalah-majalah sastra seperti Horison.

Agus Sopian, di majalah Pantau, mengakui, Remy adalah salah satu dari Triumvirat yang membesarkan Aktuil, selain orang bernama Denny Sabri, dan Sonny Suriatmaadja. Tiras Aktuil saat itu sempat menembus 126 ribu eksemplar setiap terbit. Angka itu berlangsung selama kurun 1973 – 1974, atau setelah Aktuil Fans Club [AFC] didirikan. Aktuil jadi bacaan wajib anak muda pertengahan ’70-an.

Kembali ke soal Puisi Mbeling itu, adalah Boy Worang, mantan bankir, yang menjadi astradara Dapur Sastra 23761, dan sahabat Remy juga berani menjadi saksi, bahwa Remy Sylado-lah pencetus Puisi Mbeling. Tahun itu Boy yang sudah menjadi karyawan di bank, setiap hari mampir ke rumah Remy dan berboncengan dengan sukter, sehingga tahu siapa-siapa orang yang menjadi teman Remy Sylado di Bandung. “Bagaimana bisa disebut Jeihan yang merintis Puisi Mbeling, karena yang bekerja di Aktuil, di Jalan Lengkong Kecil 41 itu kan Bang Remy,” katanya. “Ya benar, Bang Remy yang mengajak Jeihan, Sanento dan Abdul Hadi untuk ikut menulis di Aktuil,” kata Boy.

Maman Husen Somantri, atau Maman HS, yang saat itu menjadi redaktur dan penata grafis Aktuil, alias orang di balik ide kreatif pemberian bonus stiker, gambar setrikaan, desain grafis dan poster di Aktuil juga siap menjadi saksi, bahwa Remylah pencetus Puisi Mbeling, bukan orang lain.

Lha wong aku yang waktu itu punya rubrik Puisi Mbeling di Aktuil, kok, Jeihan ngaku perintisnya. Bagaimana ceritanya?” kata Remy terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya. Sapardi Djoko Damono yg kebetulan duduk di tengahnya, nyeletuk: “Wah, aku ora melok-melok. Aku tak ikut-ikutan kalau soal ini,” katanya. (KJ)

Catatan:
Tulisan ini pernah dimuat di majalah MAJAS No. 5, Vol. 2, September 2019, dan diangkat kembali untuk mengenang tiga sastrawan/seniman legendaris Indonesia itu.

Jeihan wafat Jumat, 29 November 2019 di Bandung, Sapardi Djoko Damono wafat Minggu, 19 Juli 2020 di BSD, dan Remy Sylado wafat Senin, 12 Desember 2022 di Jakarta. RIP.

Comments (0)
Add Comment