Strategi Berkarya Rida K Liamsi Melalui Sejarah: Catatan Sausan Al Ward (Bagian-1)

“… Orang yang melupakan sejarahnya tidak akan punya masa depan…”Dialog Drama Korea.

Ungkapan tersebut telah menjadi ‘amalan’ bagi Rida K Liamsi. Mengabadikan diri untuk mengenal dan membuatnya begitu cinta kepada sejarah. Kemudian dibuktikan dengan banyak karya dan tindakan nyata dalam mengembangkan sastra budaya. Sehingga, mengantarkan beliau mendapatkan banyak penghargaan baik dalam maupun luar negeri. Melalui pengetahuan sejarah, membawa tokoh bernama asli Ismail Kadir ini makin gemilang di setiap pertambahan usianya.

Sepak terjang sastrawan dari Lingga ini membuat Riau sangat berbangga. Mulai dari pendirian Yayasan Sagang dan memberikan Anugerah Sagang bagi generasi muda berkarya, hingga pernah mengadakan Korea-ASEAN Poets Literature Festival (KAPLF II) di Riau. Selain itu, Rida K Liamsi turut serta menjadi pelopor Hari Puisi Indonesia.
Dengan berbagai kiprah dan talenta, sehingga Lembaga Adat Melayu Riau memberikan gelar Datuk Seri Lela Budaya Rida K Liamsi pada tahun 2017 lalu. Gelar Datuk Seri Lela budaya diartikan sebagai jasa seseorang yang berseri keikhlasannya dalam mengembangkan budaya yang luar biasa.

Sebelumnya tahun 2010, Dewan Kesenian Riau (DKR) memberikan Gelar Seniman Perdana (SP) yaitu penghargaan dua tahunan kepada pada Seniman dan Budayawan Riau yang dinilai tunak dan berprestasi. Masih banyak lagi prestasi Rida K Liamsi yang tidak cukup diulas di sini. Dari prestasi tersebut, tentu didapatkan sebagai buah dari mengenal dan tidak melupakan sejarah.

Keistimewaan Rida K Liamsi

Kegigihan dan keuletan seorang Rida dalam berkarya terlihat dari buku-buku yang memiliki kekhasan yang melekat yaitu berlatar belakang sejarah melayu. Berbagai tulisannya mendominasi catatan Riau dan kerajaan melayu. Inilah keistimewaan penulis senior ini.

Mari melihat beberapa karya yang ditulis seperti kumpulan puisi Ode (1981), Tempuling (2002), Perjalanan Kelekatu (2008), Becoming After Seoul: Korean Asian Poets Literature Festival Riau (2011), Rose (2013), Matahari Cinta Samudra Kata (2016) dan Secangkir Kopi Sekanak (2017). Untuk buku berupa Paradigma Pembangunan Kawasan Bekas Tambang Timah: Perspektif Pengembangan Pulau Singkep (2003), Kumpulan Karya Jurnalistik Rida Award 2009: Teluk Meranti Tertatih (2009), Ombak Sekanak (2013), Prasasti Bukit Seguntang dan Badai Politik di Kemaharajaan Melayu 1160-1946 (2016). Sedangkan novel terdiri dari Bulang Cahaya (2007), Megat (2016), Mahmud Sang Pembangkang (2017), Selak Bidai, Lepak Subang Tun Irang (2019), Luka Sejarah Husin Syah (2020), Hamidah (2021), dan Lanun Alang Tiga (2023). Karya-karya tersebut sangat dekat dengan sejarah melayu. Terkhusus novel, jelas semuanya beraroma sejarah.


Novel-novel Rida K Liamsi berkisar kemaharajaan melayu yang berpusat di Riau Lingga, terdiri dari kawasan pesisir sumatra dan sebagian Malaysia serta Singapura yang kita kenal sekarang. Dari novel beliau, betapa terasa eratnya persaudaraan bahwa kita dan negara tetangga, semua berasal dari keluarga yang sama, mengingat sebelumnya bahwa Johor, Pahang, Singapura masih berada di tangan Riau.

Keistimewaan Datuk Rida berikutnya adalah seperti dalam pepatah, “Sekali merengkuh dayung tiga pulau terlampaui.” Konsisten dalam mempelajari sejarah melayu, berhasil menelurkan banyak novel dari berbagai sisi. Tentu kita penasaran, tahun berikutnya bagian sejarah mana lagi yang akan berbuah karya. Ketika acara bincang sastra proses kreatif menulis novel sejarah pada awal Februari lalu di Kompleks Purna MTQ, Datuk Rida memberikan sedikit bocoran akan ada lagi novel berikutnya.

Tidak mudah mempelajari sejarah dan mengulik kisah yang jauh berlalu. Apalagi sejarah tidak memiliki jejak rekam teknologi seperti hari ini. Namun, Rida K Liamsi menunjukkan keseriusan itu dan konsisten.

Gigih menulis novel sejarah meskipun memerlukan waktu panjang. Novel Megat, Rida mengaku menulisnya selama lima tahun lengkap dengan riset yang berlapis, tidak hanya riset dari literatur, juga termasuk riset lapangan yang mengharuskannya berkunjung ke berbagai lokasi sejarah. Adakah semangat, kesabaran dan komitmen menulis seperti itu bisa kita lakukan? Kekuatan apa yang dimiliki sastrawan ini sehingga memiliki keuletan tersebut?

Berlatar Waktu Kekinian, Cara Mengenalkan Sejarah

Ketika membaca novel Lanun Alang Tiga, mengantarkan pembaca pada jejak-jejak sejarah di bumi Riau. Novel Lanun Alang tiga disebut pelengkap tetralogi novel sebelumnya yaitu Bulang Cahaya (2007), Megat (2016), Hamidah (2021). Meskipun Datuk Rida menyebut tetralogi sunsang dalam pengantarnya pada novel Hamidah. Megat terbit setelah Bulang Cahaya. Sama-sama berkisah tentang seluk-beluk kerajaan Riau-Lingga, tetapi dalam perbedaan masa. Bulang Cahaya berlatar waktu sekitar tahun 1722-1812, sedangkan Megat dari masa-masa lebih awal dari tahun 1528-1699 (Hamidah, 2021).

Namun hal itu tidaklah meretakkan peran novel sejarah berkisah. Keduanya punya cara berbeda dalam cerita melalui tokoh yang disajikan. Novel Megat mengambil tokoh kekinian, sebaliknya novel Bulang Cahaya melalui tokoh-tokoh sejarah.

Memang ada kemiripan masing-masing dari tetralogi novel tersebut. Megat dan Lanun Alang Tiga keduanya mengambil tokoh masa sekarang yang dihubungkan dengan sejarah. Sedangkan novel Bulang Cahaya dan Hamidah dengan model penulisan novel sejarah pada umumnya yang mengambil peristiwa sejarah dengan tokoh-tokoh masa itu.

Jika pada novel Megat, tokoh utama bernama Megat Ismail, seorang jurnalis yang juga menulis novel disandingkan dengan Tengku Adinda, seorang mahasiswa yang bertemu dalam forum sastra. Sedangkan dalam Lanun Alang Tiga, kreatifitas penulis dalam novel dikemas dengan catatan perjalanan seorang wartawan dari surat kabar Suara Borneo, Kinabalu, Sabah, Malaysia yang bernama Encik Nadin. Nadin adalah wartawan yang ditugaskan untuk meliput jejak sejarah dan orang-orang Lanun di Riau khususnya di Indragiri Hilir untuk diterbitkan di harian surat kabar. Dalam penelusurannya bertemu dengan gadis keturunan lanun bernama Julia. Sejarah yang berulang tapi tidak kesampaian, Nadin juga jatuh cinta dalam jejak perjalanannnya.

Menarik membaca novel Lanun Alang Tiga yang berbahan baku sejarah. Model penulisan secara populer untuk menarik perhatian pembaca generasi muda melalui cerita sekaligus memahami sejarah.

Novel ini menggambarkan bagaimana jejak-jejak sejarah perjalanan suku Iranun yang disebut bangsa lanun dari abad ke-15 melalui dialog para tokoh yang menguasai sejarah. Menghadirkan kisah dan konflik, mulai dari perebutan kekuasaan, pernikahan politik dan dihiasi konflik tokoh itu sendiri. Dengan mengambil bagian perjuangan Sultan Yahya dari Kerajaan Siak untuk merebut kekuasaan yang diambil oleh Sayid Ali, cucu Raja Alam yang bekerja sama dengan Belanda. Akibat perebutan kekuasaan antar saudara tersebut, Sultan Yahya harus menyingkir ke Daik, Kabupaten Lingga kepulauan Riau. Dalam novel ini mengenalkan kisah cinta Tok Lukus, Raja Lanun dengan putri Sultan Yahya, Tengku Maimunah.

Novel Alang Tiga didasarkan pada fakta sejarah yang diceritakan melalui tokoh masa kini, kemudian disertai dengan adanya catatan ringkasan yang digunakan untuk mengikuti alur cerita novel sesuai profesi tokoh seorang jurnalis. Sehingga, memberikan kemudahan bagi pembaca memahami sejarah.

 

Comments (0)
Add Comment