Strategi Berkarya Rida K Liamsi Melalui Sejarah: Catatan Sausan Al Ward (Bagian-2)

Membantah Penyalah Tafsiran Pihak Barat Terhadap Lanun

Pihak barat melabel semua peristiwa merompak di laut atau muara-muara sungai sebagai kegiatan melanun. Pada hakikatnya mereka mempertahankan hak dan tanah air yang dikuasai penjajah. (Ibrahim dkk, 2016).
Membaca novel 355 halaman ini, membawa pembaca untuk menepis anggapan dunia Barat akan kelamnya sisi kegiatan lanun. Dalam novel Lanun Alang Tiga tergambar, bagaimana bangsa Iranun bersama melayu berjuang melawan penjajah. Inilah novel sejarah yang memberikan pemahaman bahwa lanun bukan aktivitas merompak laut saja. Terlihat pada bab tiga halaman 48:

“…Iranun itu arti kata asalnya adalah kasih sayang. Bangsa yang selalu rukun, bukan bangsa yang menyukai perang dan tindakan kriminal. Tapi ada alasan politis lain yang memaksa mereka menjadi lanun. Melanun dan merompak untuk mempertahankan harkat dan martabat bangsa mereka…”

Dalam novel Lanun Alang Tiga, pembaca secara tidak langsung diarahkan untuk mengubah persepsi tentang lanun yang sering disebut bajak laut di bumi melayu sebagai penjahat. Pada hal, mereka adalah bagian pejuang membela tanah air. Para lanun melakukan perlawanan dalam bentuk membangun solidaritas sesama Melayu Mindanao, Melayu Pattani, Melayu Johor, Melayu Terengganu, Melayu Kepulauan Riau, dan Melayu Melaka bergabung satu menjadi kekuatan bersama untuk menghadapi penjajahan Belanda, Inggris, Spanyol dan Portugis. Tidak hanya perlawanan tetapi terjadi hubungan pernikahan yang menyatukan melayu di kawasan ini. Melihat karakter bangsa lanun dalam novel ini pembaca menyadari para lanun adalah bagian melayu yang bekerja sama dengan kerajaan untuk mengusir penjajahan.

Dalam cuplikan puisi Rida pada awal novel sudah mengabarkan peran lanun. Tidak hanya wilayah tempat tinggalnya sebagai pusat perdagangan dan aktivitas bajak laut, tetapi juga menjadi kawasan pelarian politik. Lanun banyak membantu para bangsawan yang mengalami konflik pada pemerintahannya.

 

Alkisah termasyurlah nama para Raja Lanun
Bahtera, penjajab, dan penalang perang, menghitam laut
Dari Palembang sampai Siantan
Dari Tambelan sampai ke Bukit Batu
Riuh rendah sekotah kisah
Segara sakti, rantau bertuah
Dari Galang sampai ke Berhala

 

Dalam cuplikan puisi itu tersebut Siantan. Peran Siantan sangat besar saat itu. Pulau yang terletak di Kabupaten Anambas ini, pada masanya memang menjadi pusat lanun dan tempat pelarian politik. Banyak bangsawan dari berbagai kesultanan yang datang karena konflik di tempatnya masing-masing seperti perebutan kekuasaan yang membuat salah satu pihak harus menyingkir. Sebut saja kesultanan Siak, kesultanan Palembang dan bangsawan Bugis dari Luwu yang hijrah ke Siantan. Di Siantan inilah penguasa yang tersingkir menyusun kekuatan untuk merebut kekuasaan. Keberadaan orang laut menjadi energi utama untuk menguasai lautan serta perompakan. Pada masa itu perompakan bermotif ekonomi untuk mencari kekayaan. Selain itu, strategi yang dilakukan adalah membangun ikatan perkawinan yang dikenal ampuh untuk menyatukan hubungan penguasa yang datang dengan penduduk Siantan (Dedi, 2022).

 

Pergeseran Tradisi Zaman

Rida K liamsi kreatif dalam membangun penokohan keturunan lanun pada zaman modern. Karakter lanun memiliki ketegasan dan berprinsip untuk menjaga keturunannya digambarkan dalam novel. Namun, perubahan zaman, penulis menggambarkan bahwa generasi muda lanun tidak sama lagi dengan masa dulu dan berlawanan dengan fakta sejarah. Seperti cuplikan pertentangan orang tua, Ami Mat dan anaknya Julia pada halaman 337 dan 338:

“…Jangan putus zuriat orang Melayu Timur ini. Karena nak Nadin itu keturunan orang Iranun, berarti dia juga keturunan Melayu Timur. Keturunan Panglima Sulong. Keturunan Tok Lukus…”
“…Yang memutuskan Julia menikah dengan siapa tu Ami dan Umi. Bukan Julia. Julia itu anak. Ami tak setuju dengan Awi.”

Jika zaman dahulu menikah adalah titah dari orang tua, suka atau tidak jika itu sudah menjadi keputusan. Apalagi terkait dengan politik kerajaan. Pernikahan harus ditaati seperti kisah Hamidah. Bagi seorang anak tentu harus menurut kepada orang tua.
Berbeda dengan tokoh novel Lanun Alang Tiga, meskipun tokohnya masih keturunan Lanun, titah dari orang tua tidak lagi bisa dipaksakan. Persetujuan orang tua tidak mutlak diikuti untuk keputusan sebuah pernikahan. Anak-anak sekarang lebih berani bertindak.

…Umur Julia sudah 23 tahun, sudah dewasa. Julia berhak mengatur jalan hidup Julia. Juga Jodoh Julia.”

Julia dan Awi tidak mendapatkan restu atas hubungan mereka, sedangkan Ami Mat menginginkan anak gadisnya menikah dengan sesama keturunan Iranun yaitu Nadin. Namun, pada novel, sepasang kekasih tersebut tetap mengambil keputusan untuk menikah dengan cara mereka dan dilaksanakan sekadarnya di Kantor Urusan Agama. Kedua tokoh ini menggambarkan perbedaan sikap pemuda dan pemudi pada sejarah masa lalu dan masa kini.

Memperkenalkan Potensi Daerah dan Pesan Pelestarian Sejarah

Pada Bab 14 dan 15 menariknya para tokoh dari novel ini melakukan travelling sejarah. Dari Desa Kuala Patah Arang di Indragiri menuju Alang Tiga, Singkep, dan Lingga. Mengunjungi beberapa pulau menelusuri jejak lanun Tempasok dan keturunannya.

Hal ini untuk mengenalkan kepada pembaca bahwa Alang Tiga adalah sebuah pulau yang berada di Kecamatan Singkep Barat, Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau. Secara tidak langsung, penulis memperkenal kawasan ini baik sejarah maupun potensi yang dimiliki. Apakah nama alang tiga terkait dengan posisi pulau tersebut, seperti diceritakan pada halaman 264:

Mereka memang mencoba membuka google map, mencari letak Alang Tiga Itu. Ketemu, di perbatasan antara Pulau Singkep di Kabupaten Lingga yang masuk Provinsi Kepulauan Riau, dengan Kuala Indragiri yang masuk Provinsi Riau, dan Tanjung Jabung yang masuk Provinsi Jambi. Jadi, tiga pulau kecil itu memang seperti pulau karang di tengah lautan. Berada di tiga perbatasan provinsi. Tapi, dalam administrasi pemerintahan, Alang Tiga masuk wilayah Kecamatan Singkep Barat, dengan ibukotanya di Posek, Kabupaten Lingga.

Alang Tiga pada novel menceritakan pulau ini sebagai pusat kediaman raja lanun yang bernama Tok Lukus atau Raja Tembing. Hal ini terdapat pada bab 12. Dalam novel ini diceritakan perjalanan Tengku Yahya dibantu oleh Tok Lukus.
Pada bab akhir, kembali menceritakan kunjungan para tokoh penting dari dua negara ke Alang Tiga. Ada pesan tersirat dari novel ini bahwa perlu pengembangan kawasan wisata di Alang Tiga untuk dijadikan resort-resort ternama dan mendunia. Karena memiliki potensi keindahan laut yang menarik. Pesan berikutnya adalah pelestarian bukti sejarah benteng Perang Reteh. Para tokoh dengan pihak terkait melakukan pemugaran terhadap jejak sejarah. Hal ini mengajarkan pembaca untuk tetap melestarikan setiap warisan sejarah.

 

Rekomendasi

Dari keseluruhan bahasan tersebut, karya-karya Rida K Liamsi memang tidak terlepas dari profesinya sebagai jurnalis dan pengalamannya dalam mempelajari sejarah. Rida telah mengkhususkan dirinya untuk bertalenta dalam sejarah. Novel-novel terdahulu telah banyak menjadi bahan penelitian untuk sosiologi sastra, ditemukan antara hubungan antara biografi pengarang dengan karya sastra (Sudirman, dkk, 2023).

Menelaah karya yang telah ditulis, hal ini menjadi panutan bagi generasi muda sekarang bahwa mengenal sejarah memberikan prestasi pada masa depan agar terbilang. Bagi para penulis muda bisa mengikuti strategi kepenulisan Rida dengan mengambil bahan baku sejarah. Sangat luas bagian ini untuk ditulis dalam berbagai karya.
Pemuda hari ini pemimpin masa depan, untuk menjadi masa depan lebih baik harus mengenal sejarah. Tidak menelan mentah-mentah informasi sejarah dari pihak asing yang bisa saja salah pentafsiran. Seperti lanun yang disebut-sebut sebagai bajak laut yang kejam, tetapi dalam cerita mengajak pembaca mengubah persepsi tersebut, bahwa mereka memang lanun, tetapi mampu membangun persaudaraan sesama kerajaan. Tindakan mereka adalah sebagai alasan kebutuhan ekonomi dan memilih kapal-kapal penjajah.

Novel Lanun Alang Tiga harus diperkenalkan lebih luas. Novel ini beserta kawan-kawannya berpotensi menjadi bacaan untuk bangsa Indonesia dan negara tetangga, sehingga membawa kepada rasa persaudaraan, karena dulunya semuanya serumpun yang memiliki kesamaan sejarah. Latar tempat pada novel mengambil lokasi dua negara yaitu Malaysia dan Indonesia, hal ini akan membangun kekerabatan antar negara karena memiliki sejarah yang sama. Tidak tertutup kemungkinan jika tetralogi novel Rida dibedah dengan menghadirkan narasumber dari beberapa negara.

Rujukan

Ahmad, I., Ahmad, F., & Syarif. (2016). Pelanunan Di Selat Melaka Sekitar Abad Ke-19: Pensalahtafsiran Pihak Barat. Jurnal Sultan Alauddin Sulaiman Shah, 50-64.
Arman, D. (2022). Siantan : Daerah pelarian Politik dan Pusat Bajak Laut Abad XVIII. Jurnal Sastra Kebudayaan, 49-56.
Herlia, E., Isjoni, & Asril. (n.d.). Mengenal Rida K Liamsi Sebagai Tokoh Sastrawan Melayu Riau. Pekanbaru: Universitas Riau.
Liamsi, R. K. (2021). Hamidah. Tanjung Pinang: Milaz Grafika.
Liamsi, R. K. (2023). Lanun Alang Tiga. Kabupaten Lingga: Dinas Kebudayaan Kabupaten Lingga.
Riau, T. P. (1996). Sejarah Riau. Pekanbaru: Universitas Riau.
Shomary, S., Tinambunan, J., & Sudirman, N. A. (2023). Hubungan Antara Biografi Pengarang dengan Sosiologi Karya Sastra. Jurnal Sastra Indonesia, 148-157.
Yusoff, M. H., Ali, R. M., & Deng, P. A. (2020). Hipoteks sebagai idea penggaluran naratif dalam novel berunsur sejarah . PENDETA Journal of Malay Language, Education and Literature, (97-107.

Pekanbaru, 10 Februari 2024

Bionarasi

Sausan Al Ward, nama pena dari Sri Wardani. Berdomisili di Pekanbaru dapat dihubungi pada nomor HP/WA 082384660660. Hobi membaca, menulis dan travelling. Juara I Duta cerpen FLP Wilayah Riau (2022) dan Juara III Duta Puisi FLP Riau (2022). Juara I lomba cerpen Penerbit Kertas Sentuh (2021). Terbaik II Apresiasi Cerpen Riau Sastra Festival 2023. Juara II Lomba Cerpen Penerbit Prospec Media (2021). Juara III lomba Cerpen tingkat Nasional Penerbit Media Lintas Pustaka (2023). Juara III Lomba Dongeng Tianisa Bookstore (2021). Juara Harapan I Lomba Cerpen The Journalist Publishing (2021). Peringkat 5 Lomba Cerpen Tinta Misteri (2021). Peringkat 5 Lomba Puisi Tema Sejarah Jejak Publisher (2022). 15 besar penulis terpilih penulisan esai Inkubator Literasi Pustaka Nasional Tk Provinsi Riau (2023). Pernah menjadi MC Pemerintahan dan presenter TV lokal, juara II lomba Pembawa Acara Balai Bahasa antar instansi Provinsi Riau yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Provinsi Riau (2014).

Comments (0)
Add Comment