Syair Pekanbaru Senyap
( Catatan Cinta Prof Yusmar Yusuf)
Dengan bismillah syair berdengung
Susun urai sambung menyambung
Selalu datang ilham mengusung
Bahasa Tuan menjangkau gunung
Bagai sabda kilau mutiara
Kalimat berturai rebak mengudara
Melintasi sungai kembara samudra
Bersemayam lekap muara asmara
Tuan bicara menohok telak
Membuka dengar telinga pekak
Sikap angguh bersalut lagak
Tentang cakap tak sesuai gerak
Terpegun diri menarik nafas
Geliga pikir teramat cerdas
Lampau wacana melebihi batas
Pertanda sosok pribadi cerdas
Kota Pekanbaru berumur panjang
Tertulis sejarah mengemas kenang
Dahulu kala sudah terbilang
Negeri Melayu bedelau cemerlang
Tuan memandang kepala tegak
Simpul pesan kesan teragak
Senyap kota jauh semarak
Sekadar hiruk pekik teriak
Pernah ramai mengusir sunyi
Giat berlangsung tabuhan bunyi
Majlis kenduri langgam bernyanyi
Gegap gempita membawa yunyi
Agak senyap bermakna lambat
Terkini suruk sedikit terhambat
Buat secebis sisa semangat
Entah karena terhempas sekarat
Mengharap jadi pusat tamadun
Negeri junjung tradisi berpantun
Zapin bertengkah gerak disusun
Hanya kelana khayalan lamun
Umpama rumah tanpa halaman
Ruang luahan sempit pikiran
Tata laksana tidak beraturan
Pola susun sangkut kepentingan
Setakat melepas batuk di tangga
Lupa cara meramu bangga
Jalan bersolek terukur hingga
Sebatas semah pelepas dahaga
Hanya sedikit kawasan pinggir
Sungai Siak tepian pesisir
Lebih kurang tempat pelesir
Terhenti katup bibir mencibir
Taman kota kian semrawut
Asap kendaraan membuat semput
Jalan utama sempit menyiput
Nuansa nyaman asal menyebut
Lalu lintas teramat kacau
Perangai pengendara membuat risau
Melawan arus konoh berselirau
Slogan BERTUAH sekadar himbau
Budaya tertib berganti seranah
Wajah garang raut amarah
Semua tumpah berucap sampah
Makin terdengan berbalut serapah
Tuan bertanya soalan mengkotakah
Mengajak renung bersandar hikmah
Barulah sekadar menumpang singgah
Tabiat perangai berharga murah
Merasa benar serba udik
Kalau berbual merasa cerdik
Tanda pribadi kurang terdidik
Sesama insan gemar menghardik
Kaum urban bertenggang rasa
Bukan merasa paling berkuasa
Mengolah ‘kelainan” menjadi biasa
Tatatan hidup menuju selesa
Sejenak menerawang kota berderap
Bukan sekadar bising berucap
Timbang akal budaya mengkilap
Barulah lenyap sebutan senyap
Ruang hijau ukuran mengkota
Semua rapi letak tertata
Indah bedelau pandangan mata
Terserlah kemilau tinggi estetika
Senyap hanya bahasa sindiran
Gerak berubah suatu kepastian
Jangan berpuas lepas kepentingan
Kemudian berserak langgar aturan
Syair mengalun tanda peduli
Duduk semeja tanpa kecuali
Saling perbaiki sama menggali
Mengangkat marwah seri kembali
Pekanbaru sayang kota bertuah
Petah bercakap paham kaidah
Pemimpin bijak memberi petuah
Kaki tangan bergerak lincah
Senyap jangan berujung lenyap
Asal bergema kemudian lesap
Hangat membakar membumbung asap
Seketika sakit terkena selenyap
Demikian syair mengungkai maksud
Terhindar kolot berpikir jumud
Pekanbaru hebat segera terwujud
Asalkan pemimpin bangkit tajarrud
Kelapapati, 18 Zulhijjah 1442 H