Syair Rapsodi Cinta
Embun menguap tinggalkan jejak
Ketika cinta gelora memuncak
Jemari menulis dendang semarak
Cinta terlukis semakin gejolak
Rupa umpama bidadari kahyangan
Sejuk memandang hati tertawan
Molek tanpa gores polesan
Diri terbelenggu rasa penasaran
Sudilah sekadar singgah sekejap
Biarkan mata saling bertatap
Teringin merayu memuji ucap
Sungguh terbuai menganggung harap
sekiranya malam gelap gulita
Pesona adinda bagai pelita
Membuat dunia menjadi nyata
Terpaku dalam siluet jelita
Malam bagai permaidani indah
Bersama sinar rembulan terserlah
Membuat mimpi menjadi gairah
Serasa hidup menjauh gelisah
Semakin larut hati terpaut
Kerlip bintang membaur turut
Terbang jiwa menghimpit selimut
Terdampar hasrat mengikut hanyut
Pagi laksana embun menitik
Bening menerpa jatuh terpercik
Lenggok gemulai begitu cantik
Tertawan hati hanyut tertarik
Bawalah kanda menguap angkasa
Jiwa hendak menyatu perkasa
Sekuat badan sedaya kuasa
Melabuh segenap luahan rasa
Walau sekejap embun bertahta
Dapat mengungkap rayuan kata
Memberi kabar jelaskan cerita
Bersamamu hati bertabur cinta
Ketika mentari mulai merangkak
Gugup berkata saat terserempak
Berdebar mengguruh turun serentak
Denyut jantung kencang berdetak
Semakin siang ingatan terkenang
Mengurai cinta berbisik sayang
Bercumbu rindu membelai pandang
Enggan berlalu waktu berdentang
Panas bedengkang tetap tersenyum
Bibir merah masak meranum
Nafas tertahan manis terkulum
Aroma tercium sangatlah harum
Rayu merayu setulus hati
Bukan maksud meraih simpati
Berharap mahligai kelak menanti
Berjanji setia sehidup semati
Menjelang petang menuju senja
Teringin pula hendak bermanja
Duduk bersenda sambil memuja
Menjauhkan adinda bermuram durja
Selesai syair terasa tenteram
Sambil menunggu kedatangan malam
Remas jemari saling mengenggam
Semoga sempat melepas geram
Kelapapati, 14 Rejab 1442 H