Tulisan tuan tentang ketiadaan
Kenang sahabat senda gurauan
Tapak langkah jalan seiringan
Mengusik ingat pelupuk pandangan
Bergurau dalam canda merisau
Sebaris gores batin terpingkau
Meninggal dunia jejak melangkau
Barzakh menyambut tangis meracau
Tiada adalah keadaan melingkar
Sebagai siklus hidup berputar
Terkejut pikir mendengar kabar
Seakan sulit terima benar
Seraya tidur sepanjang malam
Dengkur diam lena tenteram
Terbuka gawai pesan bergumam
Sungguh tiada rindu berperam
Kembara lagit meretas buana
Tidak kembali jauh kelana
Tuhan kuasa rancang rencana
Terguncang rasa sedih gulana
Hamba terduduk menggenang pelupuk
Sedih mendalam kalbu menusuk
Sahabat tersayang bukan merajuk
Tetapi bertemu pencipta makhluk
Kabar bagai semburat kilat
Datang sekejap pergi kelabat
Jiwa hilang sahabat menyakat
Umpama parit terhalang tebat
Sejumlah peristiwa pernah tersalin
Hubungan erat rangkai terjalin
Semakin menguntai mesra berpilin
Saling jelas seterang lilin
Sesama Melayu ranah menggugah
Sumbang pikir senyap melapah
Seperti aur menyanggar tanah
Supaya tebing berpantang patah
Menghias keadaan berdua datang
Kadang kaki kerap bertandang
Bandarserai lambai panggilan undang
Setandan pikir berbuah matang
Sangatlah sabar dalam mendengar
Banding terbalik sesosok sangar
Pandai menyela bertutur ujar
Tiada maksud hendak mengajar
Gagasan segar muncul seketika
Pandai memilih pilihan kata
Pandai menulis lakon cerita
Semangat membara terlihat nyata
Kaya kaidah etika bergaul
Sopan santun lembaga dipikul
Tampak benar pribadi unggul
Meski sempit waktu berkumpul
Sebutan berdua kembang Melayu
Dengan semangat berpantang layu
Takkan terlihat wajah bersayu
Apalagi lembut gemulai kemayu
Ramai disebut bualan orang
Hadir bukan barang sembarang
Nama menjadi perbincangan orang
Meski berbeda jalan bersimpang
Andaikan Riau setiang tubuh
Kedua lengan bersatu penuh
Sangat sulit tebas menutuh
Sembarang pisau tanpa disepuh
Banyak perkara selalu setara
Hanya sedikit berbeda selera
Tetapi matan menyatu gelora
Pikiran bersambung tanpa antara
Subuh ketika ketiadaan datang
Terlepas nyawa tanah berkalang
Rinding badan roma meremang
Lemas berhadap nyata terpampang
Terbang tinggi melambai sayup
Menderai tangis membasah kuyup
Berpisah ruang berpasrah sanggup
Teriring do’a sebaik penutup
Menyatulah dalam kilau cahaya
Melintas takdir sebuah niscaya
Menjawab tanya sedaya upaya
Karena begitulah hakikat sahaya
Kelapapati, 03 R. Akhir 1443 H