Syair Takdir Cinta
Membingkai kenangan dalam cerita
Pernah terjalin cinta tercipta
Penuh haru menyelimut semesta
Meski berujung tanpa dipinta
Tentang kejadian berujung petaka
Menjerit sakit berbalut luka
Mengapa perkara membawa duka
Sedang hati terlanjur suka
Kisah lampau cinta berpaut
Saling menyapa suara lembut
Berjanji hidup maut menjemput
Seia sekata bersama seikut
Bermula jumpa usia belasan
Langsung hati jatuh tertawan
Mulai merenda erat hubungan
Berjanji cinta abadi berkekalan
Kedua keluarga turut mendukung
Cincin tunangan mesra terhubung
Kepada Allah mengadu berlindung
Terhindar gangguan setan mengurung
Hari bahagia datang menjelang
Ramai tetamu hadir diundang
Memberi restu senyum mengambang
Dalam hati bergayut senang
Lalu hari kembara indah
Telusuri lekuk merenda gairah
Kekasih halal ikatan nikah
Senda gurau ketawa terbekah
Semakin lengkap jalani hakikat
Istri mengandung bakal zuriat
Seakan dunia telah mengikat
Betapa cinta merasuk hebat
Setiap hari bahagia terserlah
Wajah istri berseri cerah
Walau berat semakin payah
Menunggu lahir harapan menongkah
Rasa sayang bertambah berlipat
Perut membuncit tambah memikat
Bertambah manja bersandar lekat
Selalu tersenyum meskipun sarat
Sembilan bulan berlalu sudah
Erang sakit membuat gundah
Bersama ketuban terbuka pecah
Keringat mengalir sertai darah
Bertarung nyawa sekian lama
Suasana mencekam hadir menjelma
Begitu susah keadaan diterima
Menunggu lahir anak pertama
Tangis memekik demikian keras
Lahir zuriat hilanglah cemas
Wajah istri terlihat lepas
Memucat pasi putih pias
Sekuat suara memanggil nama
Hanya diam tanpa irama
Gaung sendu kian menggema
Meninggal dunia membumbung sukma
Takdir cinta berakhir pahit
Tinggallah sendiri duka menggamit
Selamat jalan hilanglah sakit
Padahal jalinan baru dirakit
Belum siap sendiri berpisah
Mata sembab tangis membasah
Bergulir pelan sebak mendesah
Kemana ganti hendak diarah
Takdir cinta berakhir merana
Mengadu nasib entah kemana
Kekasih terkasih tinggalkan buana
Berbatas alam musnah rencana
Kepada siapa melabuh hasrat
Duka mendalam pandangan tersekat
Sekujur badan menolak mendekat
Walau ramai datang memikat
Belum mampu beralih pandang
Pesona cantik terus membayang
Mengusik mimpi datang bertandang
Tergegau diam duduk tercengang
Untunglah anak pengobat rindu
Wajah lugu tatapan beradu
Mengajak sekejap membiru sendu
Dalam kecamuk kenangan syahdu
Kelapapati, 10 R. Awal 1443 H
Untuk pemuatan karya sastra (Puisi, Cerpen, Pentigraf, Esai, Pantun, Kritik, Resensi, Peristiwa Budaya, dan tulisan sastra lainnya) silakan dikirim melalui surel:
redaksi.tirastimes@gmail.com