Tawa dan Tangis Saat Awal Bekerja sebagai Pramugari

Tawa dan Tangis Saat Awal Bekerja sebagai Pramugari

Oleh Tutin Apriyani

AKU masih ingat pertama kali menginjakkan kaki di kabin pesawat sebagai seorang pramugari. Seragamku masih baru, senyumku masih sempurna. Ada rasa bangga bercampur gemetar—aku akan terbang, melintasi awan, dan melayani ratusan penumpang yang tak kukenal. Tapi tak pernah kubayangkan, di balik gemerlap profesi ini, ada banyak peristiwa mencemaskan yang menguji kekuatan hatiku.

Salah satu momen yang tak akan pernah kulupakan adalah ketika pesawat kami mengalami turbulensi parah di atas Samudra Hindia. Perjalanan dari Jakarta transit di Singapura menuju ke Frankfurt (Jerman). Malam itu, langit tampak bersih. Tidak ada tanda-tanda badai. Kami baru saja selesai menyajikan makan malam ketika tiba-tiba pesawat terguncang keras. Lampu tanda sabuk pengaman menyala, dan instruksi darurat terdengar dari kokpit. Aku langsung menuju jump seat, mengikat sabukku dengan tangan gemetar. Suara gaduh dan teriakan panik memenuhi kabin.

Aku mencoba menahan diri. Aku harus bersikap tenang. Aku adalah orang yang di penumpang saat mereka membutuhkan perhatian. Aku harus kelihatan lebih kuat untuk menciptakan rasa aman mereka. Tapi jujur, malam itu aku merasa sangat takut. Ketika pesawat terguncang beberapa detik, aku berpikir: apakah ini sebuah akhir?

Pernah juga suatu ketika aku harus mendarat darurat di Bangkok karena landasan tidak bisa dipakai u
karena sesuatu hal. Akibatnya pesawat harus memutar-mutar sehingga bahan bakar tidak mencukupi. Waktu itu pesawat harus mendarat dilaut. Secara mendadak semua kru dibriefing untuk menghadapi pendaratan darurat di laut. Hal tersebut sering terjadi untuk persiapan landing darurat.

Alhamdulillah akhirnya kami bisa mendarat darurat dengan bahan bakar yang sudah jritis. Tapi tempat pendaratan sudah siaga tim pemadam kebakaran mengantusipasi timbul hal-hal yang tidak terduga.

Di samping turbulensi ada peristiwa lain lagi. Penerbangan dari Jakarta ke Sydney yaitu momen ketika aku harus menghadapi penumpang yang agresif. Seorang pria paruh baya, mabuk berat, mulai berteriak-teriak dan menghina pramugari lain. Aku datang mendekat, mencoba menenangkan, tapi ia malah marah dan bersikap kasar . Dalam hitungan detik, kami harus mengikuti prosedur: panggil supervisor kabin untuk mengamankan penumpang tersebut dan melaporkan ke pilot.

Hal- hal seperti itu yang kadang membuat jantungku berdebar lebih kencang dari biasanya. Bukan hanya karena takut, tapi karena marah—marah bahwa kami sering dipandang sebelah mata. Banyak orang mengira pekerjaan kami hanya menyajikan makanan dan minuman. Mereka tak tahu, kami juga harus siap menjadi mediator, psikolog, bahkan pelindung ketika situasi berubah menjadi tak terkendali.

Setelah insiden itu, aku duduk dan merenung di mana kadang airmataku tumpah tanpa terasa. Bukan karena sakit secara fisik, tapi karena rasa tak berdaya. Aku lelah, aku takut, tapi keesokan harinya aku harus kerja lagi dan tersenyum lagi dengan ceria.

Kecemasan lain datang secara perlahan dan diam- diam, setelah sampai di tempat tujuan. Penerbangan dari Jakarta transit di Honolulu dengan tujuan Los Angeles. Para awak kabin harus menginap di hotel bagus dan hiruk pikuknya kota yang tak pernah tidur. Tapi di balik keindahan itu, ada rasa hampa. Apabila tidur sendirian di kamar hotel, menatap langit malam dan bertanya-tanya, “Apa yang sedang terjadi di rumah?”

Aku melewatkan hari -hari spesial bersama keluarga seperti ulang tahun ibuku, kelulusan kuliah adik bungsuku, dan bahkan tidak bisa menghadiri pemakaman nenekku tak bisa merayakan hari-hari besar seperti Lebaran. Pekerjaan pramugari mencuri waktu-waktu penting dalam hidupku. Aku sering tidak berada di tengah keluarga.

Meski setiap hari aku memakai make up dan menyisir rambutku rapi, ada suatu saat di mana ketika aku merasa sedih di dalam hati. Tapi aku harus tetap tampil prima, dan tersenyum di tengah penumpang.

Foto kiri: Tutin (kiri) bersama teman pramugari lain dan foto kanan ilustrasi pramugari bertugas.

Namun yang paling mencemaskan dari semuanya adalah perasaan bahwa aku harus selalu “kuat”. Tidak ada ruang untuk terlihat lemah. Bahkan ketika aku sakit, aku belajar untuk menyembunyikannya. Suatu ketika aku jatuh sakit dalam tugas penerbangan ke Eropa stop over di Abudhabi. Karena sakit aku ditinggal sendiri di hotel. Semua kru harus terbang ke Amsterdam. Semua kulakukan sendiri pergi ke dokter dan lain sebagainya. Semua kujalani dengan rasa syukur kepada Sang Pencipta yang telah memberikan begitu banyak hikmahnya kepadaku.

Sungguh, aku tidak menyesal menjadi pramugari. Aku mencintai langit, mencintai senyum penumpang yang merasa nyaman karena bantuanku. Tapi aku ingin orang tahu bahwa di balik semua ini, ada perjuangan yang tidak terlihat. Ada malam-malam penuh kecemasan, ada situasi yang menegangkan, dan ada rasa takut yang tetap melekat.

Kini, setelah beberapa tahun terbang, aku mulai belajar menerima rasa cemas sebagai bagian dari perjalanan ini. Bukan musuh, tapi sebagai teman seperjalanan. Setiap ketakutan mengajarkanku sesuatu—tentang tanggung jawab, ketangguhan, dan nilai dari sebuah keberanian yang tak bisa diucapkan, awalnya tuntutan kerja dan menjadi pribadi yang tegar dan tangguh.

Aku dan langit mungkin belum sepenuhnya berdamai. Tapi setiap kali pesawat lepas landas, aku tahu aku harus berdamai dengan segala situasi. Karena aku sudah memilih jalan ini dengan sadar. Dan meski langit tak selalu tenang, aku akan tetap terbang—karena di sinilah kehidupan dan pekerjaanku.

Aku bangga menjadi pramugari yang menjadikan kehidupanku berwarna. Profesi ini
membutuhkan kekuatan mental, ketangguhan fisik, dan ketulusan hati.*

Hj. Tutin Apriyani, SE adalah pramugari maskapai pemerintah 1980-1993. Pernah melayani rombongan VVIP Presiden Soeharto. Kini menjadi Ketua WPI (Wanita Penulis Indonesia) Riau periode 2025-2030

Comments (0)
Add Comment