Bismillah,
Dalam sejarah dan tamadun Riau, nama Tenas Effendy menempati posisi penting. Beliau tercatat sebagai sastrawan, peneliti, dan budayawan yang mendedikasikan hidupnya untuk mendokumentasikan serta mengembangkan khazanah tamadun Melayu. Pak Tenas merupakan tokoh teladan. Ketokohan dan keteladannya bukan cuma ditentukan oleh produktivitasnya dalam menulis. Namun, keteladannya tersebut juga dibuktikan oleh kemampuannya menempatkan tradisi sebagai sumber pengetahuan, pedoman etika, dan landasan pembentukan identitas masyarakat Melayu. Melalui beragam aktivitas dan kreativitas seperti penelitian, penulisan, dan pengabdian adat, Tenas Effendy memperlihatkan bahwa kebudayaan bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan sumber nilai yang terus diperlukan untuk menghadapi zaman yang senantiasa berubah.
Tenas Effendy, bernama lengkap Tengku Nasaruddin Said Effendy, lahir pada 9 November 1936 di Tanjung Malim, Kuala Panduk, Pelalawan, Riau. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga yang dekat dengan tradisi kerajaan dan kehidupan masyarakat Melayu. Ayahnya, Tengku Said Umar Muhammad Al-Jufri, pernah menjadi sekretaris Sultan Pelalawan, Said Hasyim, sekaligus tekun mencatat sejarah, silsilah, dan adat istiadat kerajaan. Ibunya, Tengku Syarifah Azamah, dikenal gemar membaca dan mendendangkan syair. Lingkungan keluarga tersebut memperkenalkan Tenas sejak dini kepada tradisi lisan, sejarah, dan kesusastraan Melayu (Wahyuni, 2018:7-11). Jadi, tidak heran jika Tenas Effendy sangat dekat dengan tamadun Melayu. Boleh dikatakan tamadun Melayu sudah merasuk mendarah daging dalam tubuh dan pemikirannya.
Pendidikan formal Tenas ditempuh melalui Sekolah Rakyat dan pendidikan agama. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar pada 1950, ia melanjutkan pendidikan keguruan di Sekolah Guru Bawah (SGB) di Bengkalis dan Sekolah Guru Atas (SGA) di Padang, Sumatra Barat. Pendidikan tersebut menjadi bagian penting dalam pembentukan intelektualnya. Namun, pengetahuan Tenas tidak hanya tumbuh melalui bangku sekolah. Ia memperluas wawasan dengan mengamati kehidupan masyarakat, mendengarkan penuturan orang tua, serta mempelajari upacara adat, kesenian, dan kebiasaan orang Melayu. Perpaduan pendidikan formal dan pembelajaran langsung dari masyarakat membentuk pendekatan kebudayaannya yang dekat dengan sumber tradisi (Wahyuni, 2018:14-21). Lingkungan masyarakat dan sekitarnya menjadi guru dalam membentuk karakter. Alam terkembang jadikan guru.
Sebagai penulis, Tenas menghasilkan karya yang mencakup sastra, sejarah, kesenian, adat istiadat, dan dokumentasi kebudayaan. Di antara karya pentingnya ialah Tak Melayu Hilang di Bumi (1980), Lintasan Sejarah Kerajaan Siak (1981), Ragam Pantun Melayu (1985), dan Nyanyian Budak dalam Kehidupan Orang Melayu (1986). Karya-karya tersebut menunjukkan keluasan perhatiannya terhadap berbagai sisi kehidupan Melayu. Ia tidak hanya merekam bentuk kesenian dan tradisi, tetapi juga berusaha menjelaskan makna sosial dan nilai yang terkandung di dalamnya. Menurut Wahyuni (2018:49-50), produktivitasnya menghasilkan lebih dari seratus buku bertema kebudayaan Melayu.
Selanjutnya, karya Beliau yang paling berpengaruh ialah Tunjuk Ajar Melayu: Butir-Butir Budaya Melayu Riau (2004). Buku ini menghimpun petuah, ungkapan, pantun, syair, dan nilai kehidupan yang diwariskan masyarakat Melayu. Bagi Tenas, tunjuk ajar bukan sekadar rangkaian kata bijak, melainkan pedoman etis yang mengarahkan manusia dalam bertindak dan berhubungan dengan sesama. Nilai agama, amanah, kejujuran, tanggung jawab, kesantunan, dan kepedulian terhadap lingkungan memperoleh tempat penting dalam pemikirannya. Karena itu, karya tersebut relevan bagi pendidikan karakter, penguatan identitas budaya, dan pengembangan pengetahuan lokal. Menurut Tenas, tunjuk ajar adalah segala jenis petuah, amanah, petunjuk, nasihat, pengajaran, teladan yang bermanfaat bagi kehidupan manusia (1994:5).
Pemikiran Tenas bertolak dari kesadaran bahwa kebudayaan akan kehilangan daya hidup apabila hanya dipamerkan sebagai simbol. Tradisi perlu dipahami, diamalkan, dan diwariskan secara kritis kepada generasi berikutnya. Pendokumentasian sastra lisan yang dilakukannya juga menjadi usaha penting untuk mencegah hilangnya pengetahuan yang selama ini diwariskan melalui penuturan. Dalam konteks ini, Tenas dapat dipandang sebagai intelektual kebudayaan yang mempertemukan penelitian, pelestarian, dan pendidikan nilai. Ia menempatkan masyarakat bukan sekadar objek kajian, melainkan pemilik pengetahuan yang harus dihormati. Masyarakat dan aktivitasnya merupakah pusat subjek dalam sistem suatu tamadun.
Bangsa Melayu memiliki sistem kelembagaan yang buat dan bernas. Hal ini juga dibuktikan melalui eksistensi Tenas Effendy dalam lembaga adat. Kedudukan Tenas semakin kuat melalui kiprahnya dalam lembaga adat. Ia pernah menjabat Ketua Umum Lembaga Adat Melayu Riau periode 2000-2005, menjadi Pembina Lembaga Adat Petalangan, serta terlibat dalam pembinaan adat Pelalawan. Peran tersebut memperlihatkan bahwa pengabdiannya tidak terbatas pada kegiatan menulis. Ia turut memperkuat kelembagaan adat dan menjadikan pengetahuan kebudayaan sebagai dasar pembinaan masyarakat. Penghormatan terhadap dirinya tumbuh dari pertemuan antara keluasan ilmu, ketekunan penelitian, dan kesediaannya mengabdikan diri bagi masyarakat Melayu.
Pengakuan terhadap sumbangannya terlihat melalui sejumlah penghargaan. Beragam penghargaan yang pernah diterimanya antara lain Anugerah Sagang Kategori Budayawan Terbaik pada 1997, gelar adat Sri Budaya Junjungan Negeri di Bengkalis pada 2004, gelar Doktor Persuratan dari Universiti Kebangsaan Malaysia pada 2005, serta Anugerah Akademi Jakarta pada 2006. Penghargaan tersebut menunjukkan bahwa pemikirannya memperoleh pengakuan melampaui lingkungan asalnya dan memiliki arti bagi perkembangan kebudayaan Melayu yang lebih luas (Wahyuni, 2018:50-55).
Tenas Effendy wafat pada 28 Februari 2015 di Pekanbaru. Kepergiannya merupakan kehilangan besar bagi Riau dan dunia Melayu. Namun, warisan pemikirannya tetap hidup melalui buku, dokumentasi tradisi, dan nilai-nilai yang diwariskannya. Kebesarannya tidak semata-mata terletak pada jumlah karya atau penghargaan, tetapi pada konsistensinya menjadikan kebudayaan sebagai tanggung jawab intelektual sekaligus pengabdian sosial. Tenas menunjukkan bahwa budayawan sejati bukan hanya berbicara tentang muruah, melainkan bekerja menjaga agar muruah tetap berakar dalam kehidupan masyarakat. Selama tunjuk ajar Melayu dipelajari dan diamalkan, sumbangannya akan terus menjadi bagian penting dari perjalanan tamadun Melayu.
Alhamdulillah.
Bengkalis, Ahad, 14 Jumadil Awal 1448 H / 25 Oktober 2026.
Daftar Pustaka
Effendy, Tenas. 2004. Tunjuk Ajar Melayu: Butir-Butir Budaya Melayu Riau. Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu.
_____. 1994. Tunjuk Ajar Melayu: Butir-Butir Budaya Melayu Riau. Pekanbaru: Dewan Kesenian Riau.
Wahyuni, Dessy. 2018. Tenas Effendy, Penggawa Melayu. Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.