Pengasuh : Bambang Kariyawan Ys
Growth Mindset Kepala Sekolah di Masa Pandemi Covid-19
Dr. Deni Satria. M.Pd
Direktur Yayasan Pendidikan Cendana Riau
Pandemi covid-19 yang sedang mewabah di seluruh dunia dan berdampak ke Indonesia serta propinsi dan kota kabupaten di seluruh Indonesia, sehingga mengubah serta memaksa masyarakat mengubah kebiasaan. Khususnya dunia pendidikan yang selama ini berjalan nyaman, peserta didik telah siap di ruang kelas mendengarkan ceramah guru, buku, media dan perangkat pembelajaran tersedia secara lengkap, dan guru leluasa menggunakan waktu, siswapun mengerjakan semua aktivitas dalam situasi yang terkontrol. Namun, seketika, tiba-tiba semua situasi itu berubah. Hal ini menimbulkan goncangan, dan mengusik rasa nyaman, interaksi antara guru dan peserta didik menjadi sangat terbatas. Guru menjadi kesulitan dalam memonitor penguasaan materi dan perilaku yang ditunjukkan anak dan juga semangat belajar anak.
Belum tuntas mengubah kebiasaan untuk kembali ke pola hidup sehat lahir dan bathin untuk menjaga agar daya tahan tubuh mampu menangkal ancaman virus Covid-19, muncul situasi baru yang memaksa kita untuk mengubah ketakutan menjadi persahabatan, hidup berdampingan dengan virus covid-19 dengan cara mengubah kebiasaan yang disebut dengan new normal. Mencoba hidup biasa di tengah ancaman virus tentu membutuhkan adab, ketenangan dan perilaku bijak. Kondisi ini memaksa kita untuk benar-benar mampu mengatur pola hidup sehat, pola makan, menjaga asupan gizi, menjaga kebersihan makanan dari segala bentuk kotoran dan najis, serta memastikan kita benar-benar mengkonsumsi makanan yang halal, higienis dan bergizi. Kembali ke cara hidup seta seperti yang diteladankan Rasulullah.
Sampai saat ini, tidak ada yang tahu secara pasti sampai kapan kondisi ini akan berlangsung, namun pasti, dunia pendidikan tidak boleh berhenti, karena sesungguhnya, apapun situasinya, manusia tidak berhenti berkembang, malah justru, keadaan yang tidak lazim, sering memicu kemampuan manusia melampaui batas-batas normal, di luar jangkauan logika biasa. Kondisi semacam ini sering merangsang manusia untuk berpikir keras untuk menemukan cara-cara yang tidak biasa.
Para peserta didik untuk sementara ini kehilangan sosok guru yang biasanya hadir di depan kelas. Guru sebagai model karakter memiliki pengaruh yang sangat besar dalam pembentukan karakter anak. Bagi yang terbiasa dengan zona nyaman, kondisi ini menjadi ancaman yang membuat panik. Namun bagi yang terbiasa dengan tantangan, hal ini menjadi arena pembuktian pemahamannya terhadap pendidikan yang sesungguhnya.
Secara psikologi anak-anak yang berada di level Sekolah Dasar, SMP, bahkan SMA sekalipun masih membutuhkan adanya guidence, driven dan bahkan instruction dalam proses pembelajaran. Menyikapi kondisi ini maka sangat dibutuhkan atau sangat diharuskan adanya figur guru walaupun tidak bertemu secara langsung di dalam kelas. Sejalan dengan kondisi pandemi covid-19, perlu dicari solusi model pembelajaran daring seperti apa yang bisa menyentuh jiwa pikiran dan juga semangat kinestetik para siswa agar mereka walaupun dalam pelaksanaan pembelajaran di rumah masih memiliki spirit untuk tetap belajar dan mengembangkan pengetahuan.
Mengacu kepada pemikiran Bloom, pembelajaran harus menyentuh pada tiga ranah yaitu afektif, kognitif dan psikomotorik. Selama ini, dalam pemahaman orang-orang dunia pendidikan pada umumnya, proses pembelajaran berlangsung secara linier dari kognitif, psikomotor, dan afektif. Namun dalam bahasan ini, logika itu dibalik, pembelajaran semestinya mengedepankan aspek afektif daripada kognitif, sekalipun sebetulnya ketiga ranah itu saling berhubungan.
Keutamaan pendidikan sebenarnya ada pada penguatan karakter. Pendidikan karakter lebih dominan pada aspek afektif, untuk itu maka pembelajaran atau proses pendidikan harus diawali dengan pemberian tauladan atau contoh dari para pendidik sehingga anak-anak akan memiliki model dalam bersikap berperilaku dan proses mengembangkan dirinya.
Ketauladanan yang ditunjukkan oleh seorang guru tidak bisa digantikan oleh orang lain termasuk di antaranya oleh orang tua itu sendiri. Mengapa demikian karena anak-anak itu mengenal ayahnya ibunya pada dasarnya yang mereka kenal adalah seorang Ayah atau Ibu yang hadir di rumah dan memberikan kasih sayang sepenuhnya. Jadi walaupun orangtuanya berprofesi sebagai guru, dosen atau bahkan ulama Kyai sekalipun anak-anak tidak bisa mendapatkan figur tauladan guru seperti yang mereka dapatkan di sekolah mereka mengenal ayah ibunya adalah sebagai orang tua bukan sebagai guru.
Berdasarkan filosofi pendidikan sistem Among menurut Ki Hajar Dewantara dengan ikon-ikon pembelajaran modern antara lain; Growth Mindset, Value Mistake, Community of Practice, dan Daring. Dengan berpedoman kepada filosofi tersebut, kepala sekolah akan lebih kreatif dan inovatif dalam memimpin unit sekolah untuk melaksanakan tugas-tugas pembelajaran dan kepemimpinan.
Bagaimana sikap dan tindakan kepala sekolah untuk menghadapi pandemi covid-19 tersebut, antara lain; (1) Sikap Among dari kepala sekolah, yakni guru sebagai pamong pembelajaran daring yang bersikap saling mengasah, saling mengasuh, saling mengasihi, saling mengajari, saling melatih, saling membimbing dan saling mentor. (2) Menjamin kualitas belajar peserta didik di rumah, tugas ini menjamin bahwa pembelajaran berlangsung dengan terukur kualitasnya dan memberikan dukungan kepada guru dalam pelaksanaan mengajar dari rumah. (3) Melaksanakan fungsi manajemen dan kepemimpinan, terkait dengan membuat perencanaan secara terprogram, melaksanakan semua perencanaan yang telah dibuat dan melakukan evaluasi secara berkelanjutan dalam program pembelajaran secara daring di rumah. (4) Monitoring Pembelajaran, melakukan analisis kebutuhan monitoring, menyusun instrumen pemantau pembelajaran, mensosialisasikan instrumen monitoring, melaksanakan monitoring, menganalisas data hasil monitoring, dan menindaklanjuti hasil monitoring. (5) Pembelajaran Daring, suatu keharusan di masa pandemi covid-19 ini, dengan mengindentifikasi masalah pembelajaran daring, menentukan strategi pembelajaran daring, menganalisis gaya belajar peserta didik, menentukan jenis pembelajaran daring sesuai dengan kebutuhan. (6) Supervisi pembelajaran, membuat perencanaan supervisi, melaksanakan supervisi di mulai dengan pra observasi, pengamatan pembelajaran dan pasca observasi, dan melakukan evaluasi pelaksanaan observasi.
Hal di atas adalah tugas-tugas yang harus dilakukan kepala sekolah di masa pandemi covid-19, sebagai acuan untuk memastikan pembelajaran berlangsung dengan baik melalui daring. Suatu yang perlu di tingkatkan adalah monitoring kegiatan pembelajaran daring dilakukan. Untuk memastikan dan lebih menekankan pada pemantauan terhadap proses pelaksanaan. Monitoring ini juga memastikan untuk mengetahui apakah program yang telah dibuat berjalan dengan baik sesuai dengan yang direncanakan, serta adakah hambatan yang terjadi dan bagaimana para pelaksana program itu mengatasi hambatan tersebut. Disinilah kejelian kepala sekolah dalam menjalan tugasnya sebagai pemimpin pembelajar.
Terkait dengan mutu dan layanan serta standar pembelajaran daring, tidaklah boleh menurunkan standar pendidikan. Hal ini tidaklah mudah untuk mempertahankan mutu serta kualitas pembelajaran. Perlunya cara dan strategi dari pembelajaran daring dengan memperhatikan aspek, daya dukung, kemampuan Informasi Teknologi (IT) guru, serta materi-materi pembelajaran yang di kemas dalam bentuk modul, video, serta pembelajaran interaktif menggunakan aplikasi kekinian. Semua ini terkatung dari kompetensi guru dalam merancang sistem pembelajaran dengan model kekinian.
Kompetensi akan menjadi penentu kualitas sekolah ke depan. Terutama sekolah swasta, manajemen mutu adalah suatu keharusan untuk menjawab perubahan. Internal quality harus menjadi fokus sekolah. Karena warga sekolah adalah “The most powerful promotion” atau pilot promotion. Natural selection akan menjadi penentu lifetime, mungkin dalam waktu yang tidak dibayangkan sebelumnya, seiring percepatan informasi.
Kepala sekolah sebagai garda terdepan bersamaan dengan para pendidik, tidak boleh putus asa dengan kondisi saat ini, harus berpacu dengan teknologi dan kreativitas yang tinggi untuk membangunan pendidikan ke depannya. Batas ruang dan waktu tidaklah menjadi hambatan untuk berusaha dalam memajukan pendidikan di Indonesia. Kita mulai dari unit sekolah masing-masing untuk berpacu dem kemajuan pendidikan. Bravo Yayasan Pendidikan Cendana Riau.
Untuk pemuatan karya sastra (Puisi, Cerpen, Pentigraf, Esai, Pantun, Kritik, Resensi, Peristiwa Budaya, dan tulisan sastra lainnya) silakan dikirim melalui surel:
redaksi.tirastimes@gmail.com