“Meramu Kata … Menjejak Kisah”
Buku yang berada di tangan kita ini adalah kompilasi karya-karya sastra berupa pantun, syair, puisi, dan cerpen. Buku yang ditulis seorang guru pembelajar, yang tidak ingin melewatkan peristiwa dan kisah sebagai hamparan ide tiada tepi. Peristiwa yang ditangkap kali ini adalah peristiwa Pandemi Covid-19 menjadi tema sentral tulisannya. Beliau adalah Ibu Zaniza, S.Pd, guru Bahasa Indonesia di SMA Cendana Pekanbaru. Salah satu sekolah yang dikenal yang sangat tunak menghidupkan literasi sebagai sebuah cara mencerdaskan warga sekolah.
Sebuah karya akan memiliki nilai keabadian bila dituangkan dalam bentuk tulisan, apalagi dilanjutkan dalam dunia maya. Nilai keabadian akan terus melintasi zaman seiring tercatatnya karya-karya tersebut dalam rekam jejak di bilik-bilik jejaring sosial. Namun bukan berarti sebuah karya dalam bentuk buku akan hilang dikenang zaman. Buku ini akan memiliki nilai keabadian bila dijadikan pengayaan bagi peserta didik ketika ingin meningkatkan pemahaman tentang pantun, syair, puisi, dan cerpen.
Pantun dalam buku ini disusun dengan pola a-b-a-b memiliki 11 tema yang beragam. Isi pantunnya memberikan ciri tersendiri dari setiap sampiran dan isinya. Tema-tema yang diangkat diklasifikasikan dalam pantun pembuka acara, acara, penutup acara, anak-anak, agama, nasihat, muda-mudi, jenaka, teka-teki, berbalas, dan karmina. Salah satu pantunnya yang dapat dijadikan contoh:
Ikan patin enak digulai
Pucuk ubi adalah ulamnya
Dengan bismillah acara dimulai
Kami berpantun membuka acara
Pantun-pantun tersebut dapat dijadikan rujukan bila kita akan bertugas sebagai pewara dalam berbagai kesempatan. Hal ini adalah sebagai upaya menjaga tradisi yang telah menjadi warisan budaya turun temurun orang Melayu.
Pada bagian syair dengan pola a-a-a-a kita akan menelusuri makna dan hikmah setiap harinya dalam bulan Ramadhan. 30 syair sejalan dengan 30 hari jumlah bulan Ramadhan ditulis dengan kesungguhan hati dan tetap menjaga etika dalam menulis syair. Kita sering mendengar dan membaca hikmah hari pertama sampai hari terakhir bulan Ramadhan. Pada syair hari ke-17 yang biasa kita peringati sebagai hari Nuzulul Quran, tergambar pada syair berikut:
Malam Nuzulul Quran mari ramaikan
Dengan memperbanyak segala amalan
Terutama amalan membaca Al-Quran
Dengan mengharap ridho Ar- Rahman
Puisi memang telah berperan menyampaikan pesan dan suara dengan caranya tersendiri. Terasa bebas tidak terikat seperti pantun dan syair. Puisi yang berjumlah 12 ini kalau kita cermati berisikan kisah-kisah pilu dan geram seputar virus corona. Kegeraman itu terlihat dari sepenggal puisi dalam “Negeri Plin Pan”.
Siang diputuskan
Malam berubah
bagai bunglon
bagai baling-baling di atas bukit
Pemangku tertinggi tak lagi bertaring
Tangan kanan menancapkan kukunya
Virus-virus menggerogoti untuk kepentingan pribadi politik
Entah siapa yang didengar
Begitulah puisi dengan kaidah bebas namun dalam bingkai etika dapat membuat lega bagi penulis menyampaikan geram dan endap yang menggumpal.
Pada tiga buah cerpen yang ditulis berisikan dunia sekolah dan dunia keluarga. Dengan judul “Tak Harus Kumiliki”, “Penyesalan”, dan “Malaikat Kecilku”. Penulis memiliki niat yang baik melanjutkan karya yang tersimpan di laptop untuk dibaca khalayak luas. Buku ini hadir sebagai bentuk tanggung jawab dalam mengembangkan literasi dan menjadi role model bagi peserta didiknya. Tahniah.