There’s an English saying that goes, “Enough for evil to thrive when good people do nothing.”
In Islam, calling for good and forbidding evil is one of its fundamental principles. The Quran links the collective glory of the Ummah, making it the best Ummah, to the duty of amar ma’ruf (commanding good) and nahi munkar (forbidding evil).
As stated in the Quran:
– “And let there be among you a group of people who call for good, enjoin what is right, and forbid what is wrong. They are the ones who will be successful.” (Al-Imran: 104)
– “You are the best Ummah that has been brought forth for mankind. You enjoin what is right, forbid what is wrong, and believe in Allah.” (Al-Imran: 110)
A Hadith narrates that once, Allah commanded an angel to destroy a village. However, upon reaching the village, the angel found a pious person devoted to worship and remembrance of Allah. The angel became hesitant and returned to Allah, saying, “There is a righteous person in the village.” Surprisingly, Allah instructed the angel to destroy that person first because, despite being aware of the village’s sins, he did nothing to stop them.
The Importance of Amar Ma’ruf and Nahi Munkar
In today’s world, filled with turmoil and trials, this fundamental Islamic duty needs to be taken seriously. Remaining silent in the face of evil is, in itself, a form of evil. Silence towards those who commit wrongdoings is a form of complicity.
The Challenge of Amar Ma’ruf and Nahi Munkar
The challenge lies in implementing amar ma’ruf and nahi munkar while maintaining noble character and adhering to constitutional boundaries. This means that the approach must be positive and constructive, not negative or destructive. It requires careful consideration to prioritize benefits and avoid greater harm. In the national context, this process must also adhere to the Constitution and the land laws. In other words, the struggle to uphold amar ma’ruf and nahi munkar must be constitutional.
Conclusion
Every individual with even a spark of faith in their heart is obligated to resist injustice and oppression, regardless of who the perpetrator is, including those in positions of authority. A well-known Hadith states:
“Whoever among you sees an evil, let him change it with his hand. If he is unable to do so, then with his tongue. And if he is unable to do so, then with his heart. And that is the weakest of faith.”
Remaining silent in the face of evil and injustice is a sign of a severe crisis of faith. One needs to seek spiritual repair before the heart succumbs to spiritual death.
Jamaica Hills, 14 April 2025
*Director of Jamaica Muslim Center, President of Nusantara Foundation
Ketika Orang Baik Diam: oleh Shamsi Ali Al-Kajangi*
Ada pepatah dalam bahasa Inggris yang berbunyi, “Cukup bagi kejahatan untuk berkembang ketika orang baik tidak berbuat apa-apa.”
Dalam Islam, menyeru kepada kebaikan dan melarang kejahatan adalah salah satu prinsip dasarnya. Al-Qur’an mengaitkan kemuliaan kolektif Ummah, menjadikannya Ummah terbaik, dengan kewajiban amar ma’ruf (menyuruh kepada kebaikan) dan nahi munkar (melarang dari kejahatan).
Sebagaimana dinyatakan dalam Al-Qur’an:
– “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf, dan melarang dari yang mungkar. “Merekalah yang akan beruntung.” (Al-Imran: 104)
– “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk umat manusia.”Kamu menyuruh berbuat yang baik, melarang yang buruk, dan beriman kepada Allah.” (Al-Imran: 110)
Sebuah Hadis menceritakan bahwa suatu ketika, Allah memerintahkan seorang malaikat untuk menghancurkan sebuah desa. Namun, setelah sampai di desa, malaikat itu menemukan seorang yang saleh yang tekun beribadah dan mengingat Allah. Malaikat menjadi ragu dan kembali kepada Allah, berkata, “Ada seorang yang saleh di desa itu. “Dengan mengejutkan, Allah memerintahkan malaikat untuk menghancurkan orang itu terlebih dahulu karena, meskipun mengetahui dosa-dosa desa tersebut, dia tidak melakukan apa-apa untuk menghentikannya.
Pentingnya Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar
Di dunia saat ini, yang dipenuhi dengan gejolak dan cobaan, kewajiban Islam fundamental ini perlu diambil dengan serius.Tetap diam di hadapan kejahatan adalah, pada dirinya sendiri, sebuah bentuk kejahatan. Diam terhadap mereka yang melakukan kesalahan adalah bentuk complicity.
Tantangan Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar
Tantangannya terletak pada penerapan amar ma’ruf dan nahi munkar sambil menjaga akhlak mulia dan mematuhi batasan konstitusi. Ini berarti bahwa pendekatannya harus positif dan konstruktif, bukan negatif atau merusak. Ini memerlukan pertimbangan yang cermat untuk memprioritaskan manfaat dan menghindari kerugian yang lebih besar. Dengan kata lain, perjuangan untuk menegakkan amar ma’ruf dan nahi munkar harus konstitusional.
Kesimpulan
Setiap individu yang memiliki bahkan secercah iman di dalam hati mereka wajib melawan ketidakadilan dan penindasan, terlepas dari siapa pelakunya, termasuk mereka yang berada dalam posisi kekuasaan. Sebuah Hadis yang terkenal menyatakan:
“Siapa di antara kalian melihat keburukan, hendaklah dia mengubahnya dengan tangannya.”Jika dia tidak mampu melakukannya, maka dengan lisannya. Dan jika dia tidak mampu melakukannya, maka dengan hatinya. Dan itu adalah yang paling lemah dari iman.”
Tetap diam di hadapan kejahatan dan ketidakadilan adalah tanda krisis iman yang parah. Seseorang perlu mencari perbaikan spiritual sebelum hati menyerah pada kematian spiritual.
Jamaica Hills, 14 April 2025
*Direktur Pusat Muslim Jamaika, Presiden Yayasan Nusantara