Api Cemburu dalam Taksu

Judul : Pinikita
Penulis : Kurnia Effendi dan Jauza Imani
Penerbit: Basabasi, Juli 2021
Tebal : 136 halaman + x

Dalam kesastraan Indonesia modern masyarakat sastra pernah dikejutkan dengan sajak-sajak Sutardji Calzoum Bachri yang dianggap menyimpang dari bentuk penulisan sajak penyair lainnya. Sutardji mengembalikan marwah perpuisian Indonesia kepada mantra dalam bentuk penulisan sastra Indonesia modern. Teeuw (1980: 150) mengemukakan, Sutardji yang menyebut sajaknya mantera, alat bahasa yang lain, yang memungkinkan manusia untuk (mudah-mudahan!) menghubungi atau menguasai dunia yang menguasai dunia di luar kemampuan atau jangkauannya yang normal. Tetapi itu tidak berarti bahwa sajak Sutardji sama sekali lepas dari konvensi atau di luar kemungkian interpretasi secara bahasa.
Dalam perkembangan konsep sajak mantra dapat ditafsirkan secara bebas dan longgar. Setidaknya dapat kita baca dalam himpunan puisi dari mantra Piknikita karya Kurnia Effendi dan Jauza Imani ini. Buku ini berisi sejumlah puisi dengan rujukan mantra yang disiarkan setiap malam sejak April hingga Desember 2020 melalui akun facebook Jauza Imani. Mereka berdua menyebut karyanya sebagai mantra karena disusun mirip doa dan harapan sederhana.
Kita baca sajak “Api Cemburu” Kurnia Effendi:


sengat kecil saja
hangus atap teras
lebih dari panas telengas
melelehkan baja

berkobar dalam warna batu ambar
seluruh rumah terbakar
tak dapat kau memilih

kapan jadi arang dan tak kembali pulih

mari berpisah hingga tak terdengar desah
mari berjarak menunggu hilang semua kerak
mari berpaling dan selurung kenangan disuling
mari membisu seperti sedang taksu

mungkinkah cinta memadamkan api?
padahal cinta itu api
selalu mematangkan
sebutir cemburu dalam kuah rindu.

(Hlm. 28—29).

Dalam setiap sajaknya Kef menambahkan sumber sebagai catatan kaki di bawah puisinya. Wacana ini dapat diartikan untuk memberikan kemudahan bagi pembaca untuk menafsirkan sajaknya. Bisa jadi malah mempersempit ruang imajinasi dan tafsir sebab ada tambahan penjelasan: kasih, sayang, dan cinta harus dijaga dengan rindu. Ia ditempa dengan perpisahan dan jeda tak jumpa. Juga nyalakan sedikit api cemburu untuk mendatangkan keyakinan yang serupa air sejuk untuk selalu memadamkan.
Bukankah api kecemburuan itu bisa membakar dan meruntuhkan tembok kasih sayang? Meskipun begitu Kef menunjukkan senioritasnya sebagai penyair dengan menampilkan diksi-diksi yang menarik: marik berjarak menunggu hilang semua kerak/mari berpaling dan seluruh kenangan disuling//. Bagaimanapun kita tetap berkeyakinan seperti yang dinyatakan Ahmad (1971: 38) bahwa diksi penting untuk menentukan sejauh mana penyair mempunyai daya cipta yang asli dan memberikan kesan atau pengertian kepada pembacanya.
Kef menulis dalam sajaknya “Engkaulah Diksi”:


sabit yang membentuk bulan
siar lunar di langit memar
tidak bagi mataku

engkau syair – sekalipun getir – dalam
senandungku
engkau diksi – meskipun pasi – dalam
puisiku

biarlah ujung sabit terus menoreh
menciptakan berbagai bulan
mengusik pandanganku
dari mana pun aku masih
mampu memilihmu sebagai
syair dan diksi.

(Hlm. 72).

Lantas bagaimana dengan Jauzi Imani mengartikan tentang mantra? Kita baca sajaknya “Mantra”:


menutup hari
mantra menggema
bagi puspa nirwana
yang wangi sejak tadi

saat sabit hingga purnama
pada hitungan yang entah
sepanjang kegugupan bersemayam
dalam embus napasmu

hingga kau terbius
oleh mantramu sendiri.

(Hlm. 96).

Tampaknya mantra hanya sekadar tempelan saja dalam sajak Jauza. Bukannya lebih baik direpresentasikan dan diaktualisasikan bagaimana mantra yang mampu membius itu dalam bentuk pola pengucapan yang baru? Kita dapat mempelajari kekayaan mantra-mantra yang dapat ditelusuri melalui karya yang mengandung motif-motif dari hikayat klasik setelah sistem religi kolektif melayu beralih dari Hindu-Budha ke Islam. Selain itu kekayaan khasanah sastra lama di Lampung bisa menjadi bahan yang menarik untuk direproduksi atau ditransformasi dalam bentuk sajak kekinian
Kesan mantra sebagai sebuah tempelan sebab belum diolah secara lebih mendalam pun terlihat dalam sajaknya “Kencan”:


berdamai dengan gemuruh
bergolak menancap di ubun
terbakar

ah, kau lupa menghapus
percikan mantra
sisa percakapan
sabit semalam.

(Hlm. 100).

Tampaknya Jauza juga harus mulai menghindari menulis sajak yang berkesan sekadar “berindah-indah” saja: aku hanya mengetuk-ngetukkan pena/yang seharusnya mengurai sebait puisi/:titik-titik sketsa menyerupai wajahmu//(hlm. 107).
Bagaimanapun antologi puisi ini ini telah memberikan secara cerdas pemaknaan sastra dan mantra untuk kita resapi bersama. Semoga. (Bambang Widiatmoko, penyair, salah seorang deklarator HPI)

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan