Cabut Pencatatan dan Minta Maaf

(Epiardi Anam, Sekum FP2STI (Forum Pecinta dan pelestari Silat Tradisional Indonesia) wilayah Riau, keberatan atas istilah  pengusaha/tukang “pencak silat’ untuk pengusaha nakal. Hal ini menimbulkan kegaduahn di akar rumput para pecinta Silat. Untuk itu kami meminta Pak Bahlil untuk klarifikas, mencabut pernyataannya dan meminta maaf kepada insan pecinta silat)

Pencak silat adalah milik negeri yang mempunyai nilai-nilai luhur.

Lahirnya mencari kawan dan batinnya mencari keridhoan Tuhan, memiliki 4 pilar yang kuat;

(1) Pembinaan Akhlak

(2) Bela diri dan

(3) Seni Budaya

(4) serta setelah era kemerdekaan silatpun dikembangkan ke bidang olah raga

Silat Negeri yang berfilofi dan bersifat menanti. Tidak ingin memulai ‘menikam apalagi menendang’. Mencoba menghidar selangkah ke kiri ataupun ke kanan.

Jangan ‘Engkau‘ keruhkan nilai-nilai luhur ini dan memijak-mijak norma yang ada

Pencak silat milik negeri ini sekarang telah mendunia, ‘warisan Dunia tak benda’ (Ketetapan UNESCO, 29/12/2019)

Jangan ‘Engkau‘ pakai istilah pengusaha/tukang “pencak silat’ untuk pengusaha nakal.

Seperti dilansir detik.com, Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia menyatakan diluncurkan sistem perizinan online terpadu atau Online Single Submission (OSS) Berbasis Risiko oleh Presiden Joko Widodo,  untuk tujuan salah satunya meningkatkan transparansi perizinan.

Bahlil Lahadalia membeberkan bahwa dengan adanya OSS maka para pengusaha nakal, yang diistilahkan Bahlil tukang ‘pencak silat’ atau ‘kungfu’ tidak bisa lagi bermain-main.

“Jadi (OSS) ini memudahkan betul, tidak perlu lagi ketemu-ketemu pejabat terlalu banyak selama dia benar, jangan pengusaha pencak silat. Kalau pengusaha pencak silat, kungfunya banyak pasti harus ketemu karena harus luruskan kungfu-kungfunya itu,” kata Bahlil dalam webinar, Kamis (12/8/2021).

OSS, lanjut dia ada untuk membantu pengusaha-pengusaha dalam mengurus izin berusaha secara baik dengan memangkas birokrasi, biaya, waktu, dan menciptakan transparansi.

“Kalau pengusaha tukang kungfu nggak bisa barang ini. Nah kita kan tukang kungfu juga dulu, jadi kita tahu. Nah yang baik-baik aja ini barang,” sebutnya.

“Pengusaha yang pencak silatnya banyak wajib kita tahan supaya jangan membuat masalah di negara ini,” lanjut Bahlil.

Dia menerangkan bahwa tidak semua pengusaha itu baik. Pengalamannya memimpin di Kementerian Investasi, para pengusaha ini memiliki kreativitas yang tinggi dalam menghadapi regulasi atau aturan yang ada.

“Kami di Kementerian Investasi ini antara regulasi dan intuisi pencak silatnya (pengusaha) sahabat-sahabat lama saya itu harus berimbang, karena kalau tidak, kreativitas pencak silat ini lebih tinggi daripada regulasi kekinian. Jadi kungfunya itu betul-betul kita harus mampu mendeteksi secara dini,” tambah Bahlil. ***

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan