Cerpen Rayya Minhatul Mawla

PILIH KASIH


Aku Kana dan aku adalah siswa biasa kelas 8 di sekolah SMP Mindi. Di dalam sekolah kami semuanya terlihat sangat tenang, dan sekolah berprestasi. Sekolah Mindi pun adalah sekolah yang berakreditasi A. Siswa-siswanya pun adalah siswa yang berprestasi dalam banyak hal, ya seperti saya. Saat aku memasuki kelas 7, dalam pikiranku sekolah SMP Mindi adalah sekolah yang terbaik, nilai-nilaiku bagus dan aku mempunyai banyak teman. Tetapi saat aku memasuki kelas 8, bagiku semuanya kacau.

Saat itu hari sebelum masuk kelas 8, temenku bernama Vio tiba-tiba bilang

“Hahah aku tidak sabar masuk kelas 8!”

“Iya aku juga”

Raut wajahku langsung tersenyum memikirkannya juga. Tetapi entah kenapa firasatku ada sesuatu yang tidak beres saat aku akan memasuki kelas 8, tapi aku tidak memikirkannya.

Pada besoknya hari pertama kelas 8, saat aku memasuki kelas semuanya terlihat tegang dan aku tidak tau apa yang terjadi. Teman dekatku pun tegang entah kenapa. Aku menanya kepadanya

“Hei Vio, kenapa semuanya terdiam?”

Vio menjawab “Dia, ada di kelas kita”

Yang dimaksud Vio adalah, Luna. Siswa  yang disayangi semua guru dan anak wakil kepala sekolah. Tetapi yang membuat lebih buruk adalah, dia siswa yang sangat manja dan bermuka dua. Dia bisa membuat semua guru percaya dirinya.

Bisa dibilang bahwa sekolah SMP Mindi dari sudut mata orang yang tidak sekolah di sini, berpikir bahwa sekolah ini sekolah unggul dan bagus. Tetapi bagi mereka yang bersekolah di sini, sangat lah menyakitkan.

Saat bel masuk kelas sudah bunyi, semua sudah datang kecuali Luna. Saat guru masuk, guru bertanya, “Siapa satu lagi yang belum masuk kelas?”

Tak ada murid yang menjawab. Setelah itu seseorang langsung mendobrak pintu kelas masuk tanpa mengetok terlebih dahulu, dan bilang, “HALOOO SEMUAA!”

Orang itu adalah si Luna. Semua siswa pada terkejut melihat dia. Luna langsung duduk di tempat yang kosong dan tidak memberi maaf kepada guru. Guru pun bertanya kenapa telat. Tetapi Luna hanya terdiam dan sibuk dengan dirinya. Gurunya pun langsung melanjutkan pembelajarannya. Aku pun terdiam karena  kenapa tidak di marahin. Tetapi aku tidak terlalu terkejut karena apa yang bisa kita harapkan dari dia. Awal-awal aku tidak terlalu memikirkan dia dan fokus terhadap pembelajaran.

Tetapi hari demi hari, kelakukan Luna sangat membuat diriku tidak nyaman. Kadang-kadang mendorong ku dan bilang tidak sengaja, menyontek jawabanku tetapi saat ku lapor ke guru, gurunya tidak mempercayai diriku. Saat ujian tengah semeter 1, aku menjawab soal ujian tersebut dengan teliti dan sudah memastikan semua jawaban benar, dan ya, saat diperiksa semua jawabanku benar dan selainnya ada yang salah satu atau 2 ataupun lebih. Aku melihat Luna dan dia mendapatkan salah 5 tetapi aku tidak peduli. Waktu pengambilan rapor, saat aku ingin lihat rangkingku, aku adalah rangking 3.

“Loh?!, kok rangking 3?, padalah kan aku nilai seratus terus dan mendapat nilai bagus terus”.

Aku sih bersyukur, tetapi ini sangat aneh, saat ku lihat rangking orang-orang, aku melihat Vio mendapat rangking 2 dan Luna rangking 1. Aku terkejut karena aku yang selalu bersama Vio melihat dia mendapat nilai tidak bagus dan Luna juga.  Aku masih memikirkan bagaimana dia mendapat rangking 2 dan 1. Aku terduduk diam di bangku depan kelas, aku sadar bahwa sudah waktunya untuk pulang. Saat aku jalan melewati lorong sebelah ruang guru, aku melihat guruku berbicara dengan Vio dan Luna, aku langsung sembunyi dan mendengar mereka.

“Makasih banyak buk, karena ibuk kami mendapat rangking 1 dan 2!” Kata Vio dan Luna

“Haha itu adalah pekerjaan yang mudah bagi ibu untuk membuat si Kana menjadi rangking 3.”

Saat aku mendengar itu, aku merasa kecewa dengan sekolah ini. Apalagi Vio adalah temen satu-satuku dan terdekat, tetapi malah menghianatiku. Aku langsung berlari ke parkiran sepeda dan menaikinya dan pergi pulang ke rumah dengan kepala pusing. Saat hampir sampai dirumahku, aku menemui Vio. Aku diam saja dan tidak melihatnya lagi

“Hei Kana!,” Kata Vio.

Aku terdiam dan hanya menggangguk dan langsung pulang rumah. Vio terbingung dan tidak peduli dengan diriku. Saat di dalam rumah, ibuku menanyakan, “Kana? Ada apa kenapa wajah mu murung?” kata ibu ku.

Aku hanya terduduk diam dan tidak menjawab, “Kenapa nak? Ayo ceritain sini”

Ibu ku tidak pernah mengetahui tentang semua masalah diriku di sekolah, karena aku hanya menpendamnya sendiri. Dan setelah ibuku bertanya, aku langsung memberitahu semua yang terjadi di sekolahku.

“I-ibu tidak percaya dengan sekolah kamu ini. Sudah ibu bayar mahal-mahal, malah membuat anak ibuk seperti ini?!”

“Ibu sangat minta maaf memasukkin kamu ke sekolah ini, tetapi kenapa tidak kamu bilang dari awal?”

Dan aku hanya menjawab, “Karena aku takut ibu tidak percaya dengan omonganku”.

Aku menjadi takut memberitahu kepada siapa pun tentang masalahku. Karena takut tidak dipercaya. Ibuku langsung memeluk diriku dan bilang

“Besok ibu pindahkah kamu kesekolah yang beda daerah ya nak dan ibu carikan sekolah yang bagus”

Aku langsung tersenyum lebar dan berterima kasih kepada ibuku. Besoknya Vio datang ke rumahku dan bilang

“Loh kamu pindah??, kenapa kamu tinggalkan aku, kan aku temen terdekat kamu” dengan raut marah.

“Aku sudah muak dengan tingkah lakumu, sekarang jangan ganggu hidupku lagi.” Aku langsung meninggalkan Vio dan langsung  pergi dengan ayah ibuku. Setelah sampai dikota lain, ibuku langsung mendaftarkan ke sekolah yang aku impikan dari dulu yaitu sekolah SMP Budur. Setelah semua itu, aku bersekolah bahagia dan mendapat guru dan teman yang baik.

Duri, 16 november 2021


Rayya Minhatul Mawla, Lahir pada tanggal 08 April 2009 di Duri, Riau. Hobi menggambar, bermain, Prestasi Juara 2 lomba PBB Juara 1 lomba ngaji  Juara 2 lomba berenang Masuk 10 lomba hafiz  , Tinggal di Jalan Jati 7 gg pulai no 75, Umur 12 tahun, Siswa SMP Cendana Duri Mandau, Kelas 7, Mempunyai 1 abang dan 1 kakak, Cita-cita menjadi enginer

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan