Mozaik : Dari Meurah Silu Sampai Tipu Aceh

Dari Meurah Silu Sampai Tipu Aceh

Aceh yang terletak di ujung barat Pulau Sumatra memiliki cerita sendiri yang menarik. Tetapi tidak ada yang tahu dengan pasti asal nama Aceh. Tengky Syeh Muhammad Nurdin, yang pada waktu hidupnya  banyak membantu Prof. Snouck dan Prof. Hoesain, baik dalam mencari bahan-bahan atau dalam menyalin hikayt-hikayat Aceh dari huruf Arab ke Latin berkata bahwa nama Aceh  berasal daro kata Aca, yang artinya saudara perempuan. Konon kata-kata Aceh itu berasal dari  “Ba’si-aceh-aceh”, semacam pohon beringin yang besar nan rindang, yang konon sudah tidak ada lagi sekarang (K.H. Aboebakar Atjeh, 1980; Tentang Nama Aceh).

Kerajaan Islam pertama di nusantara ada di sini, Samudra Pasai namanya yang terletak di Perlak didirikan sekitar 840 M. Beberapa jurnal penelitian tentang masuknya Islam ke Nusantara bahkan menulisaknnya sekitar bad ke-7 yaitu dengan merujuk pada teori Arab, teori Cina, teori Persia, teori India, dan teori Turki.  Jika meneroka asal muasal Kesultanan Deli, ada peran Kerajaan Aceh terbentuknya Kesultanan Deli. Sosok Tuanku Seri Paduka Gocah Pahlawan  yang bergelar Laksamana Kuda Bintan itu tidak lain adalah Laksamana Malem Dagang yang memimpin armada Aceh melawan Portugis 1629 dan menaklukkan Pahang (1617), Kedah (1620), dan Nias (1624).

Adapun sejarah Melayu dan Hikayat Raja-raja Pasai berkisah sebagai berikut: Di situ disebutkan  bahwa rombongan nahkoda  Ismail dan Fakir Muhammad mula-mula mengislamkan Fansuri (Barus sekarang), kemudian Lamiri (Lamuri, Ramni, masih masuk Aceh ), lalu ke Haru dan dari sana barulah di Islamkan Raja Samudra Pasai bernama Meurah Silo (Merah Silu) menjadi Sultan Malikulsaleh (Lukman Sinar, 1991). Letak kerajaan Samudera Pasai ini lebih kurang 15 km di sebelah timur  Lhokseumawe,  Nanggroe  Aceh,  dan tumbuh  diperkirakan  antara 1270  dan  1275  atau  pada  pertengahan  abad  XIII.  Sultan  pertamanya Malikul Shaleh wafat 696 H/1297 M (Achmad Syafrizal, 2015).

Sepenggal tulisan Muhammad Said (1981) dalam buku Aceh Sepanjang Abad disebutkan bahwa J.L.Moens memperbincangkan panjang lebar tentang peran Aceh sebagai tempat berkembangnya kerajaan-kerajaan di Sumatra Timur sebagai negeri penghasil wewangian dan rempah-rempah. Dengan tidak ragu dia menyebutkan bahwa Tashi yang disebutkan dalam riwayat Tang (masuk teori Cina), Tashi sesungguhnya adalah Kerajaan Aceh. Bagi penulis, penyebutan Tashi yang ditetapkan Moens sebagainAceh masih meragukan karena pada literature lain menyebut Tashi sebagai Ratu Shima dari Kerajaan Holing (Sayid Qadarullah Fatimi, 1963, Islam Cames to Malaysia). Selanjutnya Raymond LeRoy Archer jika masuknya Islam ke Sumatra lebih tepat dilakukan oleh pedagang  Arab bukan kaum mubaligh. Di awal abad ke 8 kaum pedagang Arab sudah banyak menetap di Tiongkok dlam jumlah besar. Maka berkemungkinan mereka juga berdagang disepanjang semenanjung pantai pesisir Sumatra.

Kisah menarik lainnya adalah kisah tentang penobatan Sultan  sebagaimana yang dikisahkan dalam Hikayat Raja-raja Pasai, menceritakan bahwa Sultan dinobatkan dengan memakai pakaian kerajaan anugrah dari Mekah. Ini berarti penobatan dilaukan secara Arab bukan ala India. Sebagai penguat bahwa saat penobatan Sultan juga diangkat dua orang-orang besar, seorang bernama Tun Sri Kaya dan seorang lagi Tun Baba Kaya. Tun Sri Kaya diberi gelar Said Ali Khiatuddin dan Tun Baba Kaya diberi gelar Said Asmayuddin. Ini juga mengesankan keduanya adalah orang Arab atau seyidaknya keturunan Arab.

Masih dikisahkan dalam Hikayat Raja-raja Pasai, disebutkan bahwa Meurah Silo berjalan membawa anjingnya Si Pasai, ketika tiba di suatu tanah dataran tinggi anjingnya menyalak-nyalak. Terlihat oleh Meurah Silo ternyata yang disalak anjingnya adalah seekor semur besar sebesar kucing. Meurah Silo menangkap semut itu lalu memakannya. Dari sini timbul ilhamnya untuk menamakan kerajan yang baru dibangunnya bernama Samudra, artinya semut amat besar. Terhadap sebutan ini belum diketemukan bantahan apakah hanya sekadar tutur atau kebenaran sejarah. Namun arti lain Samudra adalah lautan (Mohammad Said, 1981).

Tetapi disisi lain ada kisah tentang Aceh yang banyak ditulis oleh seorang Balanda bernama Christian Snouck Hurgronje. Ia seorang sarjana budaya oriental dan ahli bahasa yang namanya telah disinggung di atas. Ia pernah kuliah teologi di Leiden dan pernah dikirim belajar ke Mesir mendalami agama Islam. Ia dikabarkan telah memeluk agam Islam di Arab dan diberi nama Abdul Ghafar. Jadi jangan heran bila Snouck Hurgronje begitu paham agama Islam. Iapun bekerja sebagai penasehat urusan pribumi pada pemerintahan Kolonial Hindia Belanda dan suatu ketika ia pernah datang di tanah rencong Aceh. Kepintarannya menguasai agama Islan dipergunakan Belanda untuk membujuk pejuang Aceh agar takluk. Pendekatan kekerasan senjata tidak mampu menaklukkan Aceh, lalu Kolonial Belanda berpikir sebaiknya menggunakan pendekatan agama. Senjata Belanda ada pada Snouck Horgrounje yang dipakainya sebagai penipu. Hurgronje inilah yang mampu menipu rakyat Aceh sehingga pejuang-pejuang Aceh terpecah konsentrasinya.

Dari beberapa tulisan sejarah baik buku, jurnal atau riset sejarah; ada banyak yang dituliskan kisah-kisah heroik perjuangan rakyat Aceh melawan Belanda. Mulai Cik di Tiro sampai Cut Nyak Dien. Ada kisah juga serangan Belanda ke Pidie dan tampilnya Syeh Saman di Tiro. Lalu masih ada kisah Kolonel Belanda Van Kerchem luka berat akibat serangan pejuang Aceh. Dalam buku H.C. Zentgraaff (1983)  berjudul Aceh, ia juga mengulas banyak kisah perjuangan Aceh melawan Belanda. Buku itu berisikan cuplikan  kejadian dalam peperangan Aceh setelah Belanda masuk di wilayah paling barat Pulau Sumatra. Zentgraaff menuliskannya secara baik dan banyak mendeskripsikan antropologi sosial yang ditemuinya berdasarkan dokumen Belanda dan beberapa literature berbahasa Arab.  Penggambarannya tentang rakyat Aceh sungguh menarik dan layak untuk disimak. Demikianlah sepenggal kisah yang saya mulai dari Sultan Samudra Pasai Meurah Silu dan hebatnya seorang Snouck Hurgronje yang mampu menipu orang Aceh dengan pendekatan agamanya.*

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan

1 Komentar
  1. Rizal mengatakan

    Salam Sukses bapak nyoto.
    Salam hangat dari Rizal serambikopi