Fenomena Tahun Politik di Media Sosial dalam Perspektif Etika dan Logika Komunikasi: Opini Nafi’ah al-Ma’rab

181
Tulisan Terkait

Loading

Tahun politik di dunia media sosial makin memanas pasca munculnya tiga nama kandidat capres pada Pemilu 2024 mendatang. Nama-nama Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, dan Prabowo Subianto menjadi isu pembahasan yang menarik di akun-akun media hingga personal pengguna medsos. Narasi-narasi saling menjatuhkan mulai muncul.

Dalam perbincangan satir kaum sosmed mulai bilang, ‘dibuka lowongan buzzer timses pemilu’. Lebih ekstrimnya sebuah berita di situs Republika (23/5) memberitakan adanya konsultan pemenangan pemilu yang menawarkan paket sebar hoaks kepada kandidat. Hal ini diungkapkan langsung oleh Ketua KPU RI Hasyim Asy’ari. Konon paket hoaks ini biayanya lebih mahal ketimbang paket konsultasi biasa. Ya, ini merupakan peluang bisnis musiman oleh aktor-aktor intelektual yang kadang malah tidak tersentuh hukum.

Narasi Politik dalam Perspektif Ontologi

Secara ontologi narasi politik menyatakan apa yang disampaikan secara konkret dalam mencapai tujuan politik. Pernyataan ‘apa’ dapat bersifat kualitatif maupun kuantitatif. Kajian ontologi yang kritis akan membawa pelaku politik mampu melahirkan narasi-narasi yang bijak, bukan hanya untuk tujuan politiknya pribadi, tetapi juga dalam konteks berkompetisi demokratis.

Kandidat presiden dari koalisi perubahan Anies Baswedan dalam sebuah pidatonya sempat mengatakan, konstelasi perpolitikan di era tahun politik antar kandidat perlu dibangun dengan mengedepankan narasi-narasi gagasan yang efektif sehingga pertarungan pemilu dapat melahirkan ide-ide besar untuk membangun Indonesia lima tahun akan datang.

Memang narasi politik menjadi bagian penting dalam proses berkompetisi. Namun, sayangnya dunia sosmed hari ini mulai diramaikan dengan narasi-narasi negatif antar pendukung calon. Dalam perspektif etika berkomunikasi, sudah saatnya narasi-narasi negatif ini dihentikan.

Kadrun Vs cebong, keturunan Cina Vs keturunan Arab, Komunis Vs Islam radikal, dan narasi-narasi negatif lainnya yang saya sendiri tidak sanggup mengatakannya. Narasi negatif menumpulkan logika berpikir kritis masyarakat, memperkeruh suasana, dan bahkan menciptakan iklim politik yang semakin buruk pasca pemilu. Pembangunan yang produktif dapat dibangun melalui adu gagasan, kompetisi memunculkan ide dalam membangun Indonesia yang lebih baik. Persaingan ide dan gagasan adalah iklim demokrasi dan pembangunan yang sehat. Sekaligus menjadi ciri dari masyarakat yang kritis dan berpengetahuan.

Perspektif Epistemologi dan Aksiologi Narasi Politik

Dalam perspektif epistemologi narasi politik, kita akan mendapatkan satu subyek penting untuk dibincangkan yakni bagaimana sebuah narasi politik itu dibuat, dihasilkan, disebarkan, dipahami. Bagaimana dan bagaimana, nalar dan pikiran kritis kita perlu tumbuh. Sebagai pelaku politik yang berkompetisi, etika mengajarkan pada pribadi kita untuk bisa menghasilkan dan menyebarkan narasi politik yang sehat kepada masyarakat. Sudah capek rasanya mendengarkan sesama kandidat membuat narasi yang menjatuhkan, mendengar aduan-aduan pelaporan masyarakat karena terdampak hoax informasi narasi politik. Semua itu kembali pada satu pertanyaan, bagaimana?

Demikian juga untuk kita yang hanya pendukung kandidat. Bagaimana kita mendapatkan informasi narasi politik yang valid akan membuat kita lebih berpikir obyektif pada setiap calon. Kita menghindari kampanye hitam dengan cara berpikir kritis terhadap setiap informasi yang diterima. Saat ini memang sedang perang narasi, maka pengetahuan kitalah yang dapat menentukan resistensi kita terhadap narasi negatif.

Tujuan politik memang meraih kekuasaan hingga mempertahankannya, tetapi hal yang membuat politik itu rusak adalah etika para pelakunya sendiri. Memproduksi narasi negative untuk menjatuhkan lawan. Memang mungkin secara pragmatis bisa menang, tetapi secara tidak sadar kita telah menumbuhkan benih-benih perpecahan di masyarakat. Dampaknya bukan pada saat pemilu, bahkan sepanjang kehidupan demokratis ini masih berkembang.

Pada akhirnya kita akan berpikir tentang aksiologi dari sebuah narasi politik. Apa manfaatnya? Apakah hanya untuk kebutuhan meraih kekuasaan sesaat? Jika begitu, betapa pendeknya pemikiran kita tentang politik itu sendiri. Maka, kita memang benar-benar politisi, jauh dari kata dengan makna yang lebih besar, yakni negarawan.

(Nafi’ah al-Ma’rab adalah nama pena dari Sugiarti. Bergiat di organisasi Forum Lingkar Pena dan sedang menempuh studi Magister Ilmu Komunikasi).

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan