Jadayat : Pasir, Pun Belaka

PASIR, PUN BELAKA…

Bersua angin, pasir jadi ancaman, dia meliar. Bersua air, dia mendiam dan menetap. Pasir tak setakat membentang, dia juga menggunduk, menyilang diagonal lalu jadi bukit. Orang boleh saja menyebutnya sebagai bukit pasir. Namun, pasir juga melekat vertikal di batang tubuh tarahan bukit. Orang-orang kota menebuk badan bukit, lalu menghasilkan pasir tembak; bahan baku bangunan kota-kota. Pasir di sudut-sudut senyap, pun menjelma jadi bahan baku pembangunan kota-kota yang riuh. Di kota, pasir membentuk pasar. Pasar pasir, atau pasir dipasarkan dalam jumlah masif untuk keperluan sangkar formal manusia bekerja (gedung perkantoran); sangkar duit (gedung bank dan pertokoan); sangkar aksara (kampus dan sekolah); sangkar tahta (istana); sangkar hidup (rumah tangga); sangkar pusanika (bar, diskotek); sangkar pengobatan (rumah sakit dan apotek); bahkan sangkar burung dan berjenis fauna (kebun binatang@zoo); sangkar pergi dan pulang (terminal dan pelabuhan).

Bersua laut, dia membentuk pinggang pulau dan jadi pusat riyadah. Bersua selat nan sempit bergolak, dia membusung (jadi busung pulau); bersua pedagang, segala bentang dan gundukan pasir, berubah sontak jadi uang. Bersua padang gurun, dia menggerun dan mengancam. Di padang gurun, pasir menjadi kerajaan tak bertepi. Tiada tahta sejati. Semua tahta bergerak merujuk musim angin. Tahta di padang gurun adalah fatamorgana. Di sini, pasir tak diperjual-belikan lagi. Di sini pasir jadi pengukir sejarah, sekaligus penukil sejarah dan penutup sejarah para Anbiya. Di padang gurun,
Taurat berkisah tentang hukum Tuhan, Injil berkhabar tentang cahaya, al Quran menghidang meta-teks dengan fahaman filologis tak berhingga. Bersua gunung, pasir membentuk lereng. Lereng dengan leher nan panjang, melingkar, berkelok-kelok bak ular tertidur dalam kelam malam. Bersua pantai, dia menghampar bak permaidani.

Bersua matahari, dia menjelma jadi untaian mutiara kembung, lalu menghilang dalam lidah air melandai dan curam. Bersua bulan, dia jadi manik-manik reflektor cahaya merkuri dari bumi. Lalu, pasir-pasir ini masuk ke wilayah domestik
secara tak sengaja, sebagai bahan kedap api. Di dapur-dapur rumah tradisi, tungku batu, bertikar pasir. Untuk apa? Kedap panas dan menghenti kedegilan api. Dia jadi penjinak alami. Berapa banyak karung dan buntilan pasir dilempar untuk menghambat api di kota-kota, di batas lahar panas dan lahan membara. Berapa rimbun karungan pasir dijejer untuk membendung amuk air yang menganiaya kota-kota modern dari banjir berulang. Di sini, pasir masuk dalam rezim dan selera penjinakan. Dia dijinakkan oleh bentuk wadah. Masuk dalam botol, pasir membentuk botol, masuk dalam karung, dia membentuk karung, kala diwadahi tabung, dia berbentuk tabung, ketika masuk dalam tempayan dia mengikut konfigurasi tempayan.

Lihatlah palung-palung pasir yang dikenai laluan bah atau banjir bandang gergasi. Dia membentuk ragam rupa; meliuk, memadat, mampat, menggumpal, zig zag, meliar dan meggerutu dalam taksiran-taksiran satire alam. Hidangan konfigurasi pasir ini adalah bentuk legislasi alami, yang menunjukkan pasir adalah makhluk yang mengisi ruang ruang liar. Keliaran ini dijinakkan oleh kebudayaan manusia; melalui mitos, lewat puisi, via cerita rakyat, termasuk agama. Agama mendorong penganutnya melapah tanahtanah jauh demi alasan syiar, dakwah, iktibar dan penjabaran ajaran. Semua pelaku dakwah dari beragam agama, melakukan tindakan alami pasir dalam bentuk nan ragam; meliar, hinggap sejenak, lalu meliar, dan menjinak dan meliar kembali.

Tindakan-tindakan ini, adalah sebagai upaya menyapa ruang-ruang jauh dengan kekuatan fisikal, yang diampu visi spiritualitas nan kuat yang mengarah ke masa depan. Orang-orang suci yang menyapa tanah-tanah jauh dan tanah-tanah liar, membuat bumi riang dan ceria. Kedatangan mereka, memberi sapaan kepada bunga-bunga, kepada
pasir, batu, lumut, sampai makhluk melata, makhluk nocturnal, makhluk dalam tanah, sehingga sapaan para auliya ini ikut menggenapkan tentang kisah kehadiran dan perjumpaan.

Kota, kampung, dusun, desa, parak, kebun dan ladang adalah tanah-tanah jinak. Wilayah-wilayah ini saban hari menerima sapaan dan dzikir manusia dalam ragam dan rempak kepercayaan. Namun tanah-tanah jauh yang serba nun yang cenderung ‘meliar’ itu, jauh dari segala sapaan. Kedatangan para auliya, para pengelana suci termasuk
para jauhar yang berhajat menemukan kebenaran sejati, memberi daya hidup kepada pucuk-pucuk daun, kepada helai dan lembar halus perdu, akar, batang, dahan, ranting pepohonan; lalu merimba, menggenap hutan dalam sejuta sahut-sahutan. Kita yang menapaki tanah-tanah baru, disambut bumi dengan segala penghuninya ikut bersorak
dan bergembira; dengarlah lantunan segala bunyi menyambut kedatangan ini dengan segala sisi magical-tremendum. Dan pasir-pasir menjadi butiran tasbih yang memintil hitungan dzikir atau sapaan luhung dari orang-orang yang berkelana; tak hutan, tak laut, tak gunung, tak palung, tak sungai, tak tebing, tak ngarai, semua dideru dalam
langgam tasbih butiran pasir-pasir nan bernandung. Tak sekadar senandung. Di sini segala ujung menjelma jadi nan kandung. Kita dari kandungan yang satu. Sahutsahutan nan riuh di kampung nan kandung, “kampung esensial” (al ayn as-Sabithah).

Segala dari pasir-pasir itu, juga berkisah tentang dunia bawah laut, kawasan pelagic yang mendegub. Ini ruang-ruang liar yang bersuasana maritim; dihuni berjuta makhluk nan menanti kedatangan. Para ‘pencahari jauhar’ dan ‘pengelana nirmala’ kebenaran, dianjur pula memasuki ruang-ruang gelap bawah laut yang dekat dengan kisah al
hikmah al laduniyah
(ilmu laduni) yang dikandung Khidir. Juga ada kisah Nabi Yunus yang ‘meng-hotel’ dalam perut paus, juga meruap dzikir dan kata-kata serba ahsan, serba baik dan indah. Seorang teman yang melakukan perjalanan melintas pasifik beberapa tahun silam dari New York hingga Bali, dia berkisah panjang tentang kedekatan jarak langit dengan permukaan air Pasifik kala malam menyelimuti perjanalan bersendiri di atas Single Yacht. Kala itu, tiada takut. Semua berubah jadi takjub. Dalam kelambu malam, parang spiritual menajam, menegak dan menusuk langit. Jarak langit dan muka air Pasifik hanya sepenggalah. Lalu, bulan purnama mengapung-apung dan mengambang; teringat cerita Emak tentang kisah menjolok bulan.

Di tengah samudera, tiada gelombang bergolak. Yang ada hanya tenang dan alun. Gelombang hanya memecah kala ada pembatas (tebing pantai). Di tengah-tengah samudera, yang ada hanya “perasaan menyamudera” (oceanic feeling); kala itu lah puisi berputik dan meranum. Orang-orang menulis syair-syair suci di tempat-tempat mendebarkan (puncak gunung, dalam hutan atau malah di tengah samudera). Di puncak gunung tak dikenal istilah mountainic feeling, bagi sang pendaki. Mereka yang diserang kegembiraan puncak di pucuk gunung tetaplah mengalami “oceanic feeling”.
Segenang perasaan yang tak berbatas, tak bertepi, tak terkatakan. Yang ada hanya cuap-cuap pendek. Hilang segala kerimbunan narasi. Di sini, segala pasir beranak pinak, segala pasir bernyanyi, segala pasir berbunga, berputik, meranum, dan riang ria amat riang atas kedatangan sejumlah ihwal, tak sekadar sesuatu. Pasir-pasir dan
segala yang ada di sekitarnya, memikul “tugas sesuatu”, namun dia merindu, menjadi bangga ketika bersua dan berdialog dengan makhluk yang memikul “tugas hal-ihwal” bernama manusia. Maka, sapalah tanah-tanah liar; pasir dan segenap kehidupan, akan merekah, mekar, membunga. Demi memperkaya “persaksian” muka bumi.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan