LUKA KARENA STRATA

139
Tulisan Terkait

Loading

Rumah tidak pernah semata-mata tentang bangunan fisiknya. Bukan soal ubin, warna cat, genteng, kusen, melainkan emosi, perjalanan spiritual,dan jiwa-jiwa yang terlibat di dalam bangunan itu. Rumah adalah saksi bisu perjalanan manusia. Satu-dua membentuk kisah yang bahagia, satu-dua menyusun cerita yang menyakitkan serta penuh air mata, dan lebih menarik lagi, satu-dua menjadi kisah yang susah didefinisikan masuk kategori mana.

Dari ide merenovasi rumah mengalir cerita tentang sebuah kisah menggetarkan dalam novel “Hello” karangan Tere Liye yang sebelumnya telah dikenal dengan novel-novel yang telah melekat dengan serial Bumi dan Negeri Para Bedebah.

Keunikan Tokoh

Setiap tokoh dalam novel Tere Liye memberikan daya tempel yang kuat karena karakter tokoh yang dimunculkan memberikan kesan. Sebagaimana tokoh Raib, Seli, dan Ali dalam serial Bumi serta tokoh Babi Hutan (Agam) dalam serial Negeri Para Bedebah.

Dalam Hello tokoh yang dimunculkan Ana, Tigor, Hesty, Rita, Laras, Raden Wijaya, Patrisia, dan beberapa tokoh lain yang tidak bernama. Masing-masing tokoh saling berkelindan dengan dukungan sebab akibat. Dalam kepenulisan prosa, kehadiran tokoh meski memiliki karakteristik yang berbeda dan menjaga saling keterkaitan antar tokoh.

Dalam novel ini, tokoh Ana menjadi tempat bercerita tokoh Hesty akan merenovasi rumah, namun selalu diminta tidak mengubah kenangan yang telah terbangun dari rumah tersebut. Kenangan hubungan istimewa antara Hesty dan Tigor ditentang  oleh Raden Wijaya, ayah Hesty yang memiliki kakak Rita dan Laras serta teman baik Patrisia. Benang merah dan kunci cerita ternyata hubungan tokoh Ana bersambung dengan Tigor.

Tinjauan Sosiologi

Hello dapat ditinjau dari patron klien antara majikan dan buruh yang selalu menimbulkan masalah kala tidak terjadi pemahaman akan saling ketergantungan. Kisah hubungan antara majikan dan bawahan selalu berbias makna bila pendekatan stratifikasi yang dilakukan. Namun bila pendekatan equilibrium dan diferensiasi maka semestinya terjadi kesetaraan mengingat sama akan kepentingan.

Gaya seperti raja memerintah tergambar dari sosok Raden Wijaya (kebetulan nama raja pertama Majapahit) dalam mendidik anak-anaknya. Tuntutan akan capaian status sempurna sebagai balas dendam dari Raden Wijaya memberikan luka tersendiri bagi Hesty. Raden Wijaya memiliki standar yang tinggi akan kriteria bibit, bebet, dan bobot dalam menilai interaksi antar status. Inilah penyebab luka dan konflik yang dialami Hesty dan Tigor yang merupakan anak pembantu dari Raden Wijaya. Perbedaan status yang tidak menghalangi proses pertemanan Hesty dan Tigor menjadi masalah besar bagi Raden Wijaya yang dalam darahnya mengalir keturunan ningrat meski dari istri kedua. Belenggu standar baku dari Raden Wijaya tergambar dalam paragraf berikut:

Di rumah besar dengan pohon palem berbaris itu, segala sesuatunya telah ditentukan dengan standar tertingginya. Ketiga bersaudara itu tidak mengenal sekolah kelas dua, mereka selalu masuk sekolah elite, sekolah terbaik di kota. Nilai-nilai terbaik. Prestasi terbaik. Cita-cita dan pilihan profesi masa depan terbaik, Jalur yang harus mereka tapaki seolah sudah dipahat.

Teori Kambium

Dalam kajian sosiologi terkait kekuasaan dan pengaruh dikenal dengan teori kambium. Kambium dapat dilihat pada lingkaran sebuah pohon yang selesai ditebang. Terbentuk sebuah lingkaran yang semakin ke tengah maka akan semakin kuat. Dalam novel ini dengan setting masa Orde Baru, maka yang semakin mendekati Istana Negara, dalam hal ini Jakarta maka pengaruh itu akan semakin kuat.

Terlihat ketika kedekatan tokoh Raden Wijaya dengan penguasa Istana Negara memberi peluang besar untuk meraih jabatan terbaik. Namun karena kesalahan yang dilakukan Hesty dan Tigor berupa rusaknya dokumen penting Raden Wijaya dengan cipratan tinta, maka harapan untuk mencapai jabatan tersebut hilang. Akibatnya Raden Wijaya dijauhkan dari kekuatan lingkaran kambium dengan dipindahkan ke daerah yang jauh dari pusat kekuasaan.

Epilog

Membaca Hello dan novel karya Tere Liye yang lain, kita diajak menemukan hal sederhana di sekitar kita menjadi ide cerita. Lewat proses penggarapan imajinasi yang tekun, maka selalu hadir karya-karya mencerahkan untuk membangun karakter bangsa melalui karya sastra. Serta dalam novelnya kali ini secara khusus mengajak kita memberantas karakter buruk yang sepertinya saat ini mengalami degradasi dan telah menjadi hal yang biasa, yaitu membeli barang (buku) bajakan. Mari kita dukung dan mulailah dari sekarang.

Bambang Kariyawan Ys., Sastrawan.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan