MOZAIK : Alam Pikir Orang Tionghoa

Alam Pikir Orang Tionghoa

Oleh Nyoto

Umumnya kesuksesan organisasi komersial dibangun dari sebuah karakter kuat yang memiliki tujuan yang benar. Karakter kuat yang mantap bisa saja dipengaruhi oleh karakter orang-orang yang berada dalam lingkungan organisasi. Karakter individu bisa dibangun dari model belajar; dimana belajar dipahami sebagai suatu proses perubahan yang diawali sejak dini. Konfusius (551-479 SM) telah mengajarkan  bahwa belajar harus diawali sejak dini. Walaupun bekerja, belajar tidak boleh dilupakan; harus menyisihkan waktu.

Berpola dari pengajaran itu, terdapat fenomena bahwa dimensi belajar tidak saja mesti duduk di kursi sekolah secara formal, melainkan harus mewujudkan praktik pada setiap perilaku manusia pada dunia interaksi sosial. Interaksi sosial itu bisa berupa dunia bisnis, manajemen, kebiasaan-kebiasaan yang diakui sebagai budaya atau tradisi dan sebagainya, yang kesemuanya akan berimplikasi pada nilai-nilai produktivitas manusia, tetapi selalu dimulai daripada adanya suatu pengajaran yang dinilai secara terus-menerus. Nah, nilai-nilai pengajaran itu ada pada nilai Konfusianisme.

Pandangan Konfusius akhirnya dicontoh dan dijadikan filosofi hidup  oleh orang-orang Tionghoa diseluruh dunia. Wisdom of roots-nya Confusius, ujar-ujar kebijakan menjadi pegangan bagi kaum Konfusianisme. Dasar pemikiran kaum Tionghoa dalam karakter berpikirnya sangat sederhana, bahwa orang-orangtua keluarga-keluarga Tionghoa adalah bagaimana menggunakan “cara cepat” meraih kesusksesan seperti apa yang diharapkan dalam hidup. Konon memang nilai-nilai hidup keluarga Tionghoa adalah meraih “hidup nyaman dan makan enak,” yang dapat diterjemahkan seagai suskes dalam menjalankan bisnis dan hasil yang diperoleh dapat dinikmati.

Fenomena yang terjadi secara generik ini ada di kalangan orang-orang Tionghoa yang menyebar di permukaan bumi dan menular kemana-mana termasuk pada kaum perantau (hoajiao, yang tentu saja membawa perilaku, kebiasaan dan paham budaya yang sejak awal telah ditularkan pada filosofi hidup mereka. Perilaku ini kemudian kita temui juga dikalangan keturunan Tionghoa   Indonesia, misalnya ketika mereka mendidik anak-anaknya.

Ada yang istimewa ketika keluarga-keluarga Tionghoa mendidik anak-anak mereka, selain tradisi yang sudah lama terbangun dari nenek moyang mereka. Keluarga Tionghoa lebih teguh memegang tradisi sebagai basis filosofi hidup. Falsafah Tiomghoa bertolak dari semacam humanisme sebagai landasan interaksional yakni menekankan pada persoalan dan perhatian utama pada titik kemanusiaan atau peristiwa-peristiwa kemanusiaan.

 Pada kelompok komunitas yang lebih besar kita temui tradisi-tradisi di atas yang diturunkan kepada anak cucu mereka dan pada masa kekinian tradisi itu selanjutnya diterjemahkan menjadi ruang dan peluang bagi perilaku kaum keturunan Tionghoa yang sebagian besar berkecimpung di dunia bisnis dan perdagangan. Orang-orang Tionghoa tradisional masih berpikir bahwa sekolah tidak perlu tinggi dalam mencapai kesuksesan tinggi. Bagaimana pula hal ini bisa terjadi? Tanpa sekolah formal dapat mencapai kesuksesan besar? Cara belajar orang-orang Tionghoa yang disampaikan oleh Konfusius konon merupakan revolusi intelektual yang cukup radikal. Pada masanya pendidikan menyentuh semua lapisan masyarakat, dari kalangan aristokrat sampai pada rakyat biasa. Revolusi pendidikan Konfusius pula yang telah memungkinkan terjadinya transformasi kekuasaan kultural dari istana kepada kelas para sarjana.

Keterlibatan etnis Tionghoa dengan kecenderungan dalam perdagangan sulit ditandangi bangsa-bangsa lain di dunia. Kelompok ini memiliki keistimewaan  dan keterampilan tersendiri dalam mengelola manajemen perdagangan. Etnis Tionghoa bukan saja dianugerahi bakat mengurusi setiap perdagangan, melainkan juga mahir dalam menjalankan proses, mengembangkan, dan mempertahankan serta menciptakan sesuatu yang baru dari proses, pengembangan, dan eksistensi perniagaan mereka. Hal ini sesuai dengan filosofi hidup orang Tionghoa, ”First generation established business. Second generation makes much money. Thirth generation lose itu.”

Filosofi di atas menggiring pemikiran orang-orang Tiomghoa untuk berpikir bahwa daya tahan yang dapat diterjemahkan sebagai eksistensi sebuah kerajaan bisnis sesungguhnya hanya pada dua generasi pertama. Generasi pertama sebagai pembuka jalan yakni sebagai generasi established dalam membangun kerajaan bisnis. Generasi kedua ditakdirkan untuk mencapai kesusksesan bisnis, yakni menjalankan dan menumbuhkembangkan bisnis yang telah dibangun. Orang-orang Tionghoa percaya bahwa generasi ketiga adalah generasi “malapetaka” yang memiliki kecenderungan sifat menghabiskan penghasilan yang dikumpulkan oleh generasi terdahulu. Sebab itu, pada estafet generasi ketiga, mereka diwajibkan untuk melakukan diversifikasi bisnis agar trend business tidak terputus (runtuh) pada generasi ketiga. Misalnya “making a difference” pada konsep pengembangan bisnis adalah suatu bentuk pemikiran awal yang nantinya akan menjadikan unit bisnis kecil berkembang menjadi unit-unit besar (menggurita).

Falsafah “hidup nyaman, makan enak” tidak selaras dengan kenyataan yang dihadapi etnis Tionghoa di seluruh pelosok dunia. Kita mengenal kota-kota perdagangan kecil yang dibangun oleh etnis Tionghoa “Chinatown”. Chinatown awalnya terbentuk karena adanya komunitas homogen yang melakukan aktivitas khususnya aktivitas perdagangan. Mereka berprinsip dari mereka untuk mereka, karena sifatnya homogen tadi. Namun, seiring pertumbuhan Chinatown, aktivitas pun semakin bertambah, disebabkan adanya interaksi komunitas masyarakat luar etnis Tionghoa.

Timbulnya aktivitas masyarakat majemuk biasanya menyebakan timbulnya konflik, baik secara sempit maupun luas. Perasaan tidak aman dan terancam memberikan motivasi tersendiri bagi orang Tionghoa untuk melibatkan diri dalam perdagangan. Falsafah dan pemikiran Konfusianisme  dijadikan ideologi dasar untuk mengubah kehidupan mereka dan keluarganya. Ideologi yang kuat merupakan kekuatan dalam menghadapi masalah. Orang Tionghoa percaya bahwa hanya dengan bekerja keras dan berani membuka peluang, mereka akan berhasil. Keberhasilan dan kegagalan bergantung kepada sikap, usaha, dan keyakinan.

Charles A. Rarick (2007) dalam Journal Management Studies, meneliti tentang Lima Hubungan Konfusius, dan satu diantara hubungan kebajikan Konfusius itu adalah “kerja keras”. Rarick menegaskan bahwa prinsip kerja keras adalah harga mati untuk mencapai kesuksesan bagi kalangan orang Tionghoa. Bekerja tanpa pamrih, pantang putus asa, dan tekun menjadi bagian penting daripada kerja keras yang dimaksudkannya.

Lalu, pada fase generasi ketiga, kerajaan bisnis mulai berkembang menggurita dan akhirnya berprinsip dalam konteks kapitalisme. Semula hanya berpola satu, tetapi pada fase ketiga pola itu bisa saja memiliki generatif majemuk sehingga polanya berubah menjadi multi generatif dengan multi sumbu. Inilah yang kemudian kita kenal dengan “bisnis yang menggurita”. Jadi, nilai-nilai filosofi Konfusianisme hanya sebagai basis berpikir kaum Tionghoa, tetapi setelah mencapai titik kulminasi bisnis, alam pikir filsafat Barat tidak menutup kemungkinan ikut campur. Kapitalisme!*

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan