Mozaik : Si Rocok Adu Kerbau?

Si Rocok Adu Kerbau?

Pada suatu diskusi, saya beberapa kali mengungkapkan bahwa orang-orang Minangkabau memiliki kedekatan dengan orang-orang Tionghoa dari perspektif sosiologi. Tinjauan sosiologi yang dimaksudkan yaitu aspek budaya, misalnya dari cara berkesenian, bangunan yang didirikan, karakter migrasi, teknik berdagang, dan beberapa hal lainnya. Secara antropologi juga demikian, misalnya pola hidup, teknik bercocok tanam dan lainnya.

Orang Minangkabau yang hidup di Sumatra Barat awalnya banyak dituturkan lewat Tambo. Tentu saja penulisan Tambo terkadang disusupi keinginan dari pendapat si penulis sendiri. Disebutkan dalam kisah Tambo bahwa  nenek moyang orang Minang berasal dari puncak Gunung Merapi, di Sumatra Barat sebagaimana terungkap dalam mamang adat, yang berbunyi:

Dari mano titiak palito

Dari tangluang nan barapi

Dari mano asa nenek moyang kito

Dari puncak Gunuang Marapi

(Tun Sri Lanang, 1621, Yamin, 1951, Sejarah Melayu)

Bila merujuk pada tutur kisah,  nenek moyang orang Minangkabau jelas berasal dari dataran tinggi. Kisah Tambo lebih kepada kisah asal muasal nenek moyang suatu suku. Nah, ini tentu berbeda dengan yang ingin saya kisahkan dalam kolom ini, terbatas pada aspek sosial budaya.  Dalam catatan sejarah, Adityawarman diterima luas sebagai orang pertama yang berkuasa sebagai raja di dataran Minangkabau, yaitu berdasarkan manuskrip arca Amoghapasa (1347). Ia dipercaya memerintah di Malayapura dari tahun 1347 hingga wafatnya pada tahun 1375. Ada banyak kisah tentang Adityawarman yang dapat disusuri berdasarkan peninggalan barang sejarah (arca bertulis, misalnya). Di Sungailansek dikenal cerita Si Rocok yang kemudian diketahui sebagai sosok Adityawarman. Jika menyusuri Batanghari dari Jambi ke hulu setelah mencapai Kota Tanjung, sungai lebar ini menuju Minangkabau yang oleh Belanda disebut Batanghari districten dengan kota-kotanya Padanglaweh, Sitiung, Sungailansek, Sungaidareh dan lainnya (Rusli Amran, 1981).

Ketika sejarah mencatat raja pertama Minangkabau adalah Adityawarman, siapakah dia? Orang Hindukah? Orang Hindu-Jawa atau orang asli setempat yang beragama Budha? Ada polemik yang masih dipertanyakan, bahwa Adityawarman bila dia dianggap Raja Minangkabau pertama siapa yang menciptakannya? Apakah daerah itu sudah terbentuk kerajaan? Ataukah dia datang dari luar daerah Minangkabau? Ada banyak ulasan yang bisa dipaparkan dalam kolom ini bila kita ingin menjawab sejumlah pertanyaan di atas. Namun, saya hanya ingin menggarisbawahi pertanyaan apakah Adityawarman berasal dari luar Pagaruyung?

Lebih tertarik lagi saya mengungkit soal sebutan “Minangkabau”. Dalam beberapa catatan sejarah atas peninggalan sejarah Adityawarman tidak dituliskan secara jelas sebutan “Minangkabau”. Lalu pertanyaannya; Kapan sebutan Minangkabau dipopulerkan?

Merujuk pada artikel yang ditulis oleh Rusdi Chapian, disebutkan asal kata Minangkabau bermula dari adanya adu kerbau antara orang-orang Pagaruyung dengan kerbau orang Jawa asal Kerajaan Majapahit. Ketika Kerajaan Majapahit melakukan ekspedisi pasukan ke tanah Pagaruyung, dalam suatu peristiwa mereka diajak adu kerbau untuk menentukan siapa pemenangnya. Singkat cerita, kerbau orang-orang Pagaruyung menang maka muncullah kata “menang” dan “kerbau”. Sangkin senangnya orang-orang Pagaruyung kemudian berteriak-teriak keliling kampung mengatakan “manang kabau” “manang kabau” “manang kabau” den..dan selanjutnya bergeserlah ucapan itu menjadi “Minangkabau”. Artikel Rusdi Chapin ini didasari dan lebih tepat disandingkan dengan tuturan yang populer di kalangan masyarakat Minangkabau. Jika kita merujuk kepada kurun kekuasaan Majapahit di tangan Patih Gajah Mada (1313-1364) dan kurun kuasa Adityawarman (1347-1374) sangat masuk akal.  Apakah yang adu kerbau itu Si Rocok?

Historiografi Indonesia modern baru dimulai sekitar tahun 1957, yaitu waktu diselenggarakannya Seminar Sejarah Nasional Indonesia Pertama di Yogyakarta. Tahun itu dianggap sebagai titik tolak kesadaran sejarah baru (Kuntowijoyo, 2003). Sejak itu pula mulai banyak pemilahan terhadap periodesasi dan kategorisasi terhadap tahapan kejadian sejarah nasional Indonesia. Terkhusus sejarah nasional Indonesia kontemporer.

Ada satu peristiwa penting yang memunginkan munculnya sebutan Minangkabau yang berasal dari fase kejadian lain diluar peristiwa adu kerbau. Kita tahu pada tahun 1405-1433 selama lebih kurang 28 tahun Laksamana Cheng Ho melakukan perjalanan muhibah ke Nusantara. Dalam perjalanannya dia melakukan banyak persinggahan-persinggahan diantaranya di Aceh meninggalkan Lonceng Cakradonya dipersembahkan kepada Sultan Samudra Pasai di Aceh (1414).Tidak diketemukan catatan pasti terhadap titik persinggahan Cheng Ho di Samudra Barat. Namun dari karakteristik Cheng Ho, bahwa sekali berlayar membawa puluhan kapal dan ratusan manusia. Memungkinkan juga dia meninggalkan anak buahnya yang sesungguhnya adalah para prajurit Dinasti Ming di tempat-tempat dimana mereka berkehendak menetap. Maka, memungkinkan juga ketika dia belalayar memasuki Samudra Hindia bagian barat, di pantai Padang atau sekitarnya termasuk  pulau Siberut, Mentawai, Kepulauan Nias menjadi ajang persinggahan. Dalam konteks bahasa Tionghoa, kelompok orang-orang Ming yang datang  disebut “Minglangkao”.

Nah, apakah historis etimologis kata Minangkabau berasal dari kata Minglangkau? Jika merujuk pada periodesasi perjalanan Cheng Ho dan periodesasi adu kerbau, ada kedekatan keduanya. Di atas telah dijabarkan bahwa secara sosiologis ada kedekatan perilaku etnis Minangkabau dengan etnis Tionghoa, diantaranya dari aspek musik, secara umum alat musik Minangkabau seperti saluang dimainkan sama percis. Talempong sebagai alat musik pukul berbahan tembaga kuningan juga sama dengan beberapa alat musik orang-orang Tionghoa. Dari aspek budaya pernikahan; orang Minangkabau memakai pakaian   berdominan warna merah, kuning dan hitam. Pengantin perempuan dirias dengan menggunakan rumbai  penutup wajah. Hal ini juga sama dilakukan etnis Tionghoa dalam beberapa adat pernikahan. Rumah orang-orang Minang umumnya rumah panggung yang memiliki garus lengkung pada garis atap tertinggi. Rumah-rumah orang Tionghoa juga demikian halnya. Ada  satu hal lain yang unik adalah karakter merantau yang dimiliki orang-orang Minang sebagai pola migrasi suku Minangkabau. Disebutkan bahwa orang-orang Minangkabau akibat tekanan alam dan sumber daya ekonomi yang terbatas (ekstriksik), dan didasari kehendak merantau mencari kehidupan baru (intrinsik), mereka melakukan migrasi ke luar daerah (Muchtar Naim, 1984). Terhadap orang-orang Tionghoa, karakter ini sama adanya. Nenek moyang orang Tionghoa tertekan situasi politik dan ekonomi  (ekstrisik) akibatnya mendorong mereka untuk mencapai tempat-tempat baru guna membangun kehidupan ekonomi yang lebih baik (intrinsik).

Dari komparasi sederhana di atas dengan pendekatan sosiologis-historis, dimulai dari Tambo dan tutur lalu beranjak dari Si Rocok adu kerbau ternyata masih dimungkinkan menghasilkan suatu postulat tentang asal sebutan Minangkabau. Ranah pembuktian ilmiah tentu diserahkan pada orang-orang yang expert untuk hal itu.*

Penulis Adalah Dosen dan Cendekiawan
Bergelar :
Dr. NYOTO, SE, SH, S.I.Kom, MH, MM, M.M.Pd, M.I.Kom, Ph.D

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan

2 Komentar
  1. Wahid mengatakan

    Saya cendrung pada yang pertama ” adu kerbau “

  2. Mardimin Moerad mengatakan

    Sebuah pencerahan dan layak utk di telaah lebih lanjut.