MOZAIK : Total Change

 TOTAL CHANGE
Oleh: Dr. Nyoto, SE, SH, S.I.Kom, MH, MM, M.M.Pd, M.I.Kom, Ph.D

Situasi adalah salah satu dimensi yang perlu diperhitungkan dalam menjalankan pengembangan bisnis organisasi. Dimensi situasi sebegitu penting dirasakan dikarenakan pada tataran lebih sederhana situasi dikategorisasikan sebagai variabel yang dinamis. Para peneliti bisnis acapkali memasukkan situasi sebagai variabel yang “terkunci” agar tidak memberi arti terhadap variabel lain. Kondisi ini memungkinkan untuk situasi tertentu, tetapi tentu saja berubah total apabila situasi yang dimaksudkan bergeser dari satu situasi ke situasi lainnya walaupun masih dalam satu bentangan garis kontinum.

Alright, apa yang terpikir oleh pelaku bisnis dalam konteks situasi seperti sekarang ini? Jawabannya tentu saja inovasi segala hal. Ya, inovasi boleh di-interpretasikan sebagai  melakukan perubahan layaknya “Power Rangers” yang berusaha membasmi kejahatan. Inovasi juga bisa disamaartikan dengan making a difference pada konsep pengembangan bisnis sebenarnya merupakan suatu pemikiran awal yang nantinya akan dijadikan sebagai bagaian dari unit bisnis kecil yang nantinya akan membentuk gurita bisnis.

Kali ini saya ingin menukil sedikit tentang konsep binis ala Konfusianisme yang dijalankan oleh para pebisnis etnis Tionghoa (umumnya) yang tanpa disadari juga banyak dilakukan oleh pebisnis wilayah timur belahan bumi. Konsep pemikiran Konfusianisme ini  lahir dari buah minda Konghucu  termasuk bagian dari pemikiran Filsafat Timur yang dipelopori oleh Tiongkok dan India, tetapi justru ramai dilakukan di Jepang.

Konfusianisme membahas Lima Hubungan Sosial yang dituangkan sebagai hubungan kebajikan, dan satu diantaranya adalah kerja keras (Charles A. Rarick, 2007). Salah satu yang mengangkat derajat kesuksesan  pebisnis etnis Tionghoa di dunia  adalah kerja keras. Kita mengenal Jack Ma (Alibaba Group, Yan Jiehe (Chian Pasific Construction Group), Zhang Zhidong (Co-founder Tencent Holdings), Lie Seng Tee (Sampoerna Group), Tjoa Jien Hwie alias Surya Wonowidjoyo (Gudang Garam Group), dan masih banyak lagi tentunya. Kesemua tokoh pebisnis sohor kelas wahid ini mengungkapkan bahwa kerja keras adalah salah satu bagian terpenting kesuksesan mereka. Apa yang dapat kita imajinasikan bila seluruh pengusaha etnis Tionghoa di dunia ini kekayannnya digabungkan? Ukuran apa yang mau kita pakai untuk memberi nominasi total kekayaan itu? Tapi jelasnya kita tidak membahas soal itu lebih jauh. Konentrasi kita adalah making a difference of business concept.

Dalam ajaran Konfusianisme, secara tidak sadar orang-orang Tionghoa sering mewariskan pengalaman berdagang mereka kepada anak cucunya. Sebab itu mereka memperkenalkan sistem, proses, dan kelangsungan (continuity) bisnis kepada anak cucu mereka. Ketika dan dalam suatu waktu tertentu dimana situasi yang tidak memungkinkan ini terjadi, jelas sekali bahwa ketidakmampuan mengendalikan situasi yang liar akibat pandemi covid-19 ini, maka terang benderaglah bahwa pengalaman bisnis akan memberi arti. Artinya, bahwa ketahanan ekonomi yang dimaskudkan dalam konsep mempertahankan kelangsungan hidup bisnis orang-orang Tionghoa dapat dipahami sebagai konsep pergaulan antar mahluk hidup (empiris).

Spencer pernah menyatakan bahwa asas egoisme atau asas mendahulukan kepentingan diri sendiri di atas kepentingan yang lain, mutlak bagi kepentingan mahluk hidup untuk dapat bertahan dalam alam yang kejam (Koentjaraningrat, 2009). Ini memberi makna bahwa sesungguhnya kelompok pebisnis Tionghoa memiliki kecendrungan individualis, eksklusif, dan ego yang tinggi. Namun, sikap dan sifat egoisme dalam teori sosial itu pula yang memungminkan  “the survival of the fittest”.

Orang-orang Tionghoa memiliki prinsip dalam menjalankan roda bisnis; bahwa nilai kerja keras atau tindakan lebih dikedepankan ketimbang nilai-nilai petimbangan. Dalam konteks situasi seperti hari ini, maka pola itu sah-sah saja dilakukan, bukan? Nah, sebab itu orang Tionghoa lebih mendahulukan perilaku (action) daripada mendahulukan konsep intelektual. Artinya, porsi kerja keras lebih besar daripada porsi berpikir-pikir baru melakukan tindakan. Ini tentu saja diperkuat oleh teori-teori alam pikir filsafat orang Tionghoa.

Fenomena ilmu manajemen menggambarkan bahwa perilaku bisnis orang Tionghoa tidak takut bersaing. Justru mereka menginginkan adanya komunitas yang ramai agar terbentuk networking.Networking akan membentuk pangsa pasar dan pangsa pasar menimbulkan potensi bisnis. Artinya, di situ akan ada pangsa pasar baru yang bisa digarap oleh karena adanya magnitudo permintaan atas keperluan hidup manusia. Sama halnya dengan dimensi situasi yang disebutkan di atas, bahwa situasi juga membentuk ceruk pasar bila diperluas akan membentuk pangsa pasar terhadap sejumlah barang keperluan yang disesuaikan dengan kebutuhan hidup manusia.

Saya mencontohkan hal yang sangat sederhana, bahwa perilaku manusia menggunakan masker akhir-akhir ini disebabkan adanya wabah covid-19 sejenis virus yang mudah tertular melalui pernafasan (udara). Salah satu cara untuk mengatasinya adalah dengan menggunakan masker agar virus tidak langsung terhirup oleh manusia. Perilaku ini sama halnya ketika awal-awal diberlakukannya Undang-Undang Lalu Lintas tentang kelengkapan mengemudi/berkendaraan roda dua yang mewajibkan penggunaan helm, maka di situ ada banyak orang yang merasa risih (tidak terbiasa) mengabaikan penggunakan helm. Sekarang, justru sebaliknya; rasanya tidak nyaman bila tidak menggunakan helm. Handphone sebagai diawal pupularitasnya ada juga mengganggu sebagian orang dikarenakan aktivitas genggam-menggenggam terganggu, namun sekarang justru tanpa alat bantu itu kita merasa kehilangan sesuatu. Tentu saja saya lebih setuju kalau masker nantinya juga aka melengkapi kebutuhan hidup manusia sebagai akibat desakan situasi.

Lalu apa yang bisa  dijadikan tangkapan peluang bisnis situasional ini? Nah, organisasi bisnis tidak bicara lagi sekadar hanya inovation, net working, quality, price, promotion, cost, customer behavior, etc yang dianggap konvesional, tetapi lebih kepada Total Change (perubahan total) terhadap total kehidupan umat manusia. Terjadinya Total Change diakibatkan adanya wabah Covid-19, sehingga Total Change melahirkan a changing paradigm of business oriented. Organisasi bisnis mau tidak mau harus mengubah diri mereka akibat situasi yang memaksa sehingga bila tidak melakukan delta perubahan, mereka akan selesai. Hal termudah yang saat ini didengungkan adalah efisiensi. Tetapi seperti yang pernah saya tulis dikolom ini, bahwa tawaran tidak boleh solusi tetapi solutif. Efisensi yang bagaimana? Setidaknya harus ada definisi operasional yang jelas yang can be done.*

Untuk pemuatan karya sastra (Puisi, Cerpen, Esai Kritik Resensi, Peristiwa Budaya dan tulisan sastra lainnya) silakan dikirim melalui surel: redaksi.tirastimes@gmail.com

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan