Pentigraf : Bulan Dan Rajuk Pungguk – M. Rizal Ical

Bulan Dan Rajuk Pungguk

Bulan dan Malam merindu dendam. Sejak siang hilang, malam mulai temaram. Bulan berhias, mungkin sedang menunggu saat benderang untuk menyapa semesta buana. Bulan tak hirau apalagi menghadirkan risau pada malam-malam galau. Sepanjang malam, syahdu menghanyutkan, bercengkerama sang ratu malam, berpijar dengan senyum menguntum ranum. Dia tidak menjemput mimpi apalagi cebisan kenangan lalu, malam dan bulan adalah suasana indah takdir sang pencipta.

Rayuan pungguk bergema meracau. Gema sampai di sebalik awan. Mengharap sedikit saja perhatian atau cinta balasan sebab rindu sudah lama menggumpal di dada. Setiap malam tanpa lupa pungguk sibuk menunggu bulan menjelma. Harapan selalu disandarkan. Engkau laksana bulan tinggi di atas kayangan, hatiku sudah kau tawan, hidupku tak karuan*. Pungguk terus memuja dan merayu. Gairah memuncak setiap kali tatapan berbalas kerlingan cahaya. Pungguk sadar, sebenarnya mengharap bulan jatuh ke dalam pelukan, sama saja seperti menunggu sungai tanpa muara. Penantian panjang tanpa kepastian jawaban. Mengapa kejam sekali perlakuan bulan? Kecewa pungguk mulai tampak. Kernyit kening menandakan perasaan yang campur aduk. Pungguk merajuk.

Bulan paham, cinta pungguk begitu tulus. Bukan karena perbedaan derajat atau status. Tapi rasa cinta tak mungkin dipaksa. Ia hadir dan datang dengan sendiri. Saat ini Malam sudah mendekap bulan, mereka asik bercinta dalam kemaruk asmara. Pungguk merajuk berlagu tanpa irama.

*Lirik lagu Engkau Laksana Bulan Ciptaan, Tan Sri P. Ramlee”

Rumah Cinta, 13 Oktober 2020

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan