Pentigraf : Duri Di Tengah Senja – Oleh R. Amalia*

DURI DI TENGAH SENJA

Oleh R. Amalia*

Langit berubah warna merah dan angin berlayar tak kenal arah, Kholiah berjalan mencari anaknya. Sudah seharian anak laki-lakinya pergi bermain dan sekarang hampir senja, anak laki-lakinya itu belum juga pulang. Katanya tadi pamitan melihat orang menangkap ikan di tambak depan kampung. Tak biasanya hal ini terjadi mengingat sehari-hari anak laki-lakinya sudah ada di rumah jika Kholiah akan pulang tepat jam 4 sore hari. Wanita yang lahir di Desa Kalanganyar itu sehari-harinya bekerja menawarkan jasa cabut duri ikan bandeng. Ia akan membukanya mulai jam 7 pagi hingga 4 sore. Kholiah tidak sendirian, dia menawarkan jasa cabut durinya bersama suami. Bagi keduanya itu sudah menjadi pilihan. Apalagi hal itu merupakan usaha turun temurun. Dari usaha itulah ia pun bisa menghidupi keluarga.

Lagi-lagi Kholiah kepikiran. Ke mana perginya anak bocah 10 tahun itu. Ia pun bertanya pada anak perempuannya yang pertama. Mungkin anak perempuannya tahu keberadaan adik laki-lakinya. Ternyata sama saja, ia juga tidak tahu. Ia hanya bilang hal yang sama pada Kholiah kalau adiknya itu izin untuk melihat orang menangkap ikan di tambak depan yang tak jauh dari  rumah mereka. Kemudian Kholiah pun bertanya pada tetangga sebelah. Kholiah pun melihat anak tetangga sebelah sudah berada di rumah. Raut wajah Kholiah pun semakin layu. Udara hangat menjadi dingin seketika karena Kholiah yang bertambah sendu. “Kamu di mana, Nak?” Kholiah mulai memanggil anaknya. Ia berteriak ke sana kemari hingga penduduk desa melihat ke arahnya. “Ada apa Mbak?” Tanya wanita berbaju gamis bunga-bunga pada Kholiah. Ia pun menceritakan perihal anaknya yang tak kunjung pulang ke rumah meski hari sudah semakin surup. “Mbak nyari anaknya ya? Aku tadi lihat dia bermain bersama Febri. Kholiah cemas bukankah nama itu adalah nama dari anak tetangga yang menderita gangguan mental. Dada Kholiah bergemuruh. Jangan-jangan anak laki-lakinya dibawa lari atau entahlah. Pikiran Kholiah semakin tak karuan.

Kholiah pun kembali ke rumah dan memberitahu suami dan anak perempuannya. Kholiah mengatakan dengan nafas yang tersengal-sengal bahwa anaknya bermain dengan Febri yang disebut-sebut mengalami gangguan mental. Kholiah dan suami pun memastikan kebenarannya kepada orang tua Febri. Orang tua Febri membenarkan bahwa anaknya itu juga tak kunjung pulang. Kini Kholiah dan suami percaya bahwa anaknya bersama dengan Febri, tetapi ke mana keduanya? Tetangga yang lain pun ikut membantu mencari. Betapa terkejutnya Kholiah disaksikan banyak orang, dia melihat anak laki-lakinya dengan Febri sedang mencabuti duri ikan. Begitu asyik hingga terlupakan waktu pulang. “Kamu tidak apa-apa kan, Nak?” Kholiah memeluk anak laki-lakinya dengan erat, sedangkan anak laki-lakinya bercerita bahwa ia melihat Febri di dekat tambak. Anak laki-laki Kholiah takut kalau kalau Febri akan melompat ke dalam tambak. Ia pun mengajak Febri pulang, tetapi Febri menolak. Akhirnya, anak laki-laki Kholiah mengajak Febri mencabuti duri ikan bandeng yang ia dapatkan dari orang. Kholiah tak menyangka bila anak laki-lakinya ternyata juga bisa mencabut duri. Ia juga tak mengira bahwa anaknya mau bermain dengan Febri. Kholiah pun melempar senyum dan berkata, “Sudah dewasa kamu, Nak.”

*Alumnus Sastra Indonesia-Unesa. Pengajar di SDIT Insan Kamil Sidoarjo. Pengurus di Dewan Kesenian Sidoarjo-Komite Sastra.

R. Amalia lahir di Surabaya, 2 Februari 1988. Pemilik nama asli Rizka Amalia ini aktif di kegiatan sastra dan terdaftar sebagai pengurus Dewan Kesenian Sidoarjo-Komite Sastra (2017-2022). Alumnus Sastra Indonesia Unesa. Kini berdomisili di Sidoarjo dan menjadi pengajar di SDIT Insan Kamil Sidoarjo. Karya antologinya, di antaranya: Gugat (Ikatan Alumni Unesa, 2011), Bulan Gunjai (Komunitas Rabo Sore, 2011), Melawan Kabut Asap (Negeri Kertas, 2015), Kerinduan Hujan (Negeri Kertas, 2016), dan Memo Antikekerasan Terhadap Anak (Komunitas Memo Penyair, 2016).

Penulis buku puisi Anugerah dari Langit (Penerbit Mejatamu, 2017) dan Pesan Rahasia (Penerbit Mejatamu, 2017). Karyanya dimuat di media cetak dan daring, di antaranya: Jawa Pos, Republika, Harian Surya, Surabaya Post, Medan Post, Banjarmasin Post, Bangka Pos, Duta Masyarakat, Go Cakrawala, Media Cakara Bangsa, New Sabah Times (Malaysia), Majalah PaMa (Malaysia), Utusan Borneo (Malaysia), Radar Mojokerto, dan Radar Banyuwangi. Buku baru yang akan terbit Januari 2021 adalah buku kumpulan cerpen berjudul Wajah yang Berbeda. Ia bisa dihubungi di email: amaliaonwrites@gmail.com. Facebook: Rizka Amalia

Untuk pemuatan karya sastra (Puisi, Cerpen, Pentigraf, Esai, Pantun, Kritik, Resensi, Peristiwa Budaya, dan tulisan sastra lainnya) silakan dikirim melalui surel:
redaksi.tirastimes@gmail.com

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan

2 Komentar
  1. Juwita Sanan mengatakan

    Maaf, jumlah kata 478 kata, terlalu banyak untuk aturan pentigraf yang maksimal 210 kata. Tiap paragraf maksimal hanya 1 kalimat langsung, mohon dikoreksi kembali terutama di paragraf ke-2.

  2. MH ABADI mengatakan

    sederhana dan segar ….