Pentigraf : Harapan – Lusi Hanasari

Harapan

Jalanan mulai ramai oleh lalu lalang kendaraan. Kulihat murid  berseragam putih biru berangkat sekolah  menaiki sepeda pancal. Tepat di  pom bensin, orang-orang mengantre mengisi bahan bakar pada kendaraan roda dua mereka untuk melakukan aktivitas. Entah itu bekerja, atau melakukan hal yang lain. Aku menunggu seseorang di depan  Alfamart, terletak di sebelah pom bensin. Beberapa kendaraan roda dua berjajar di depannya. Langit terlihat kelabu. Matahari belum sepenuhnya menampakkan sinar. Genangan air di jalan, akibat sisa hujan semalam masih belum mengering. Aroma sisa hujan,  masih bisa kucium dari tempatku menunggu orang tersebut. Rerumputan masih segar dan basah oleh tetesan embun. Hampir setengah jam orang yang kutunggu belum tampak. Aku melihat ke segala arah.

Suara deru mesin-mesin kendaraan mengisi  jalanan. Jalan yang tak begitu lebar namun tidak terlalu sempit.  Aku duduk di kursi kecil di depan Alfamart. Masih dalam posisi yang sama, aku bergeming. Tiba-tiba firasatku penuh kejanggalan. Aku menepisnya dan tetap berpikir positif. Sebelum  berangkat, aku sudah mengirim pesan kepadanya bahwa aku telah bersiap-siap meluncur di tempat tujuan. Ia menjawab pesanku akan datang sekitar pukul 6 .15 dari rumah. Kuakui, rumahnya agak jauh dari tempatku menunggunya. Karena nasib yang sama, kita menjalin pertemanan dan memberi dukungan satu sama lain. Beberapa kali aku bertandang ke rumahnya. Ibunya selalu menjamu tamu dengan sangat baik saat ada teman yang mengunjungi anaknya. Mereka sangat bahagia. Aku merasa seolah mereka seperti keluargaku sendiri. Begitulah yang  kupikirkan saat pertama kali aku mengenal Yana dan ibunya. Sinar matahari  terasa hangat. Langit yang terlihat kelabu, kini menampakkan warna putih dan biru. Aku masih dalam posisi duduk dan Sesekali  mencuri arah. Aku melihat sepeda motor berwarna biru berhenti  di depan Alfamart kemudian  meliriknya sekilas untuk memastikan apakah ia benar-benar orang yang kutunggu. “Ternyata bukan dia.” Gumamku. Mataku terpusat pada layar ponsel. Beberapa kali aku mengirim  pesan whatsaap kepadanya. Hanya tanda centang yang kulihat. Aku membeli pulsa di Alfamart lalu meneleponnya berkali-kali.

Maaf nomor yang anda hubungi berada di luar area.” Aku tersentak mengapa nomornya  tidak aktif. Aku menghubunginya melalui whatsaap. Hanya berdering, tak ada jawaban. Toko-toko dipinggir jalan yang semula tutup, kini sudah dibuka. Suhu cuaca sudah mulai terasa. Sinar matahari sudah meninggi hingga beberapa saat, terdengar suara adzan berkumandang. Aku mencari mushola terdekat, menunaikan kewajiban sholat. ” Besok kita bertemu di depan Alfamart sebelah pom bensin. Aku sudah memberitahu bosku kalau kau akan datang ke tempatnya untuk bekerja sebagai penjaga toko ATK.” Aku masih memandangi layar ponsel, mencermati kiriman pesannya tempo hari seolah memberi harapan kepadaku untuk bekerja di tempatnya. Aku sangat butuh pekerjaan itu karena banyak tanggungan yang harus kuselesaikan. Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Langit tampak kemerahan. Senja muncul berwarna kuning keemasan, seolah madu lembut dan sangat bening ditumpahkan ke langit. Aku masih menunggunya meski harapan itu mulai redup. Beberapa menit aku beranjak  dari kursi, seketika wajahku berubah ekspresi. Rupanya temanku menepati janji. Seseorang bersamanya. Kami berdiskusi di salah satu rumah makan pinggir jalan. Hatiku senang bukan kepalang karena orang lain yang bersamanya tak lain adalah bosnya.

Lusi Hanasari, seorang gadis pemimpi yang memiliki hobi menulis, membaca dan berkhayal. Berdomisili di kota Lamongan, Jawa Timur. Sampai saat ini masih tergabung dalam komunitas menulis anggota COMPETER (Community Pena Terbang) dan Tirastimes.com. Karya penulis juga tergabung dalam beberapa buku antologi puisi diantaranya manusia lilin, diafragma perjalanan malam, dan jarak (penerbit sabana pustaka, 2016). Ia juga masih aktif menjadi author di redaksi IB.Times.id.

Untuk pemuatan karya sastra (Puisi, Cerpen, Pentigraf, Esai, Pantun, Kritik, Resensi, Peristiwa Budaya, dan tulisan sastra lainnya) silakan dikirim melalui surel:
redaksi.tirastimes@gmail.com

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan