Pentigraf : Sebuah Rahasia – Oleh M. Rizal Ical

Sebuah Rahasia

Setiap kali aku memberikan saran kepada Zein untuk menjauhi Ratih, tak pernah dipedulikannya. Zein selalu beralasan bahwa semua orang memiliki kekurangan. Aku katakan bahwa Ratih tidak cocok sebagai istri yang baik. Zein bersikukuh bahwa dia akan membimbing Ratih. Segala upaya sudah aku lakukan agar Zein tidak menikah dengan Ratih. Semuanya berakhir sia-sia. Tidak berhasil. Sepertinya aku menemukan jalan buntu. Zein tetap dengan pendiriannya untuk menikahi Ratih bahkan tanggal pernikahan sudah ditetapkan.

Apa daya, akhirnya Zein menikah juga dengan Ratih. Aku hadir menyaksikan hari bahagia mereka. Apapun alasan ketidaksukaanku, sebagai sahabat aku harus ambil peduli pada hari pernikahnnya. Tampak sumringah sekali kedua mempelai. Ratih yang sangat cantik bersanding dengan Zein yang tampan menawan. Hatiku tak tentu arah melihat mereka. Kecamuk perasaan mendera. Mereka terlihat  bahagia sekali. Tak henti menyunggingkan senyum kepada para tamu undangan yang datang. Sesekali sahabat dekat mengajak mereka berfoto selfie, dadaku memanas.

Karena sudah petang, istriku mengajak aku untuk berfoto dengan kedua mempelai sambil mohon pamit pulang. Aku bersalaman dengan Zein. Mengucapkan selamat berbahagia sampai ke anak cucu. Aku sempat sekilas memandang kepada Ratih. Ratih tersenyum tipis. Dia berusaha menyembunyikan sebuah rahasia di balik senyum. Aku paham mengapa Ratih berlaku demikian? Aku pernah mengajaknya untuk menjadi istri kedua. Dia menolak. Sejak itu aku selalu menyebarkan fitnah tentang Ratih.

Rumah Cinta, 09 Desember 2020

Untuk pemuatan karya sastra (Puisi, Cerpen, Pentigraf, Esai, Pantun, Kritik, Resensi, Peristiwa Budaya, dan tulisan sastra lainnya) silakan dikirim melalui surel:
redaksi.tirastimes@gmail.com

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan