Pucuk Kata : Puisi 1. Virus Corona, 2. Antara Mutlak dan Nisbi, Cerpen : Menongkah di Atas Bancah

Puisi Karya Febri Hariadi

Biodata :
Febri Hariadi adalah siswa kelas XI SMAN Plus Provinsi Riau

VIRUS CORONA

Vulkanis racunmu merusak kehidupan
Iba terus mencuat karenamu
Remuk melihat kekacauanmu
Ukir sejarah kehancuran
Sampai mana engkau jelajahi?

Cantik kehidupan alam mulai sirna
Ombak tak kasat mata mulai menyebar
Rangkaian denyut kegaduhan lesap olehmu
Obat pulih enggan menopang
Negeri hampa seakan hilang arah
Akankah ini akhir antero manusia?

Pekanbaru, 2020

Puisi Karya Sri Najiha

Biodata
Sri Najiha adalah siswi SMAN Plus Provinsi Riau

Antara Mutlak dan Nisbi


menyunting kabut yang gelap bagai
sinaran mentari yang tertuai
bagai samar dan pasti
cahaya memberi jalan hati

C E R P E N 

Menongkah di Atas Bancah
Ulfa Sari Ramadianti
  
     Indragiri Hilir memang kaya akan hasil lautnya. Di kabupaten inilah aku dapat menjumpai berbagai menu seafood yang sangat aku minati. Aku sangat menyukai udang galah dan kerang. Namun, aku tak ‘kan bisa berhenti jika menikmati kupang ala ibu. Atau bahkan kepiting yang disambal. Ah, aku tak bisa mengelakkan segala nikmat dibawah air coklat berlumpur itu.

   Namaku Aira, seorang gadis yang sempurna fisiknya. Aku sangat pembersih dan perasa. Apapun yang janggal disekitarku, akan membuatku merasa jengkel. Mungkin teman-temanku sering menyebutku sebagai orang yang suka ceplas-ceplos. Ibuku bekerja disebuah instansi pemerintahan dan kerap kali pulang pergi ke banyak kecamatan di Indragiri Hilir.

     Suatu hari, ibu kedatangan tamu dirumah; Pak Jalil namanya. Beliau datang bersama seorang anak yang mungkin seumuran denganku. Aku diminta ibu untuk bermain dengan Nedah, anak pak Jalil selama orangtua kami berbincang mengenai pekerjaan mereka. Pandangan pertamaku kepada nedah adalah dekil dan bau matahari. Bagaimana mungkin aku bisa tahan bermain bersamanya. Sehingga aku mengadu kepada ibu. 

Ibu.. Boleh kesini sebentar? Aku menarik tangan ibu.

Kenapa, nak? Sebentar lagi ya Jawab ibu.

Sebentar aja, bu. Ini penting Akhirnya ibu mengalah dan mengikutiku disertai izin oleh temannya.

    Kami disuguhkan hidangan laut asli melayu di rumah Pak Jalil. Liurku tak bisa diajak kompromi ketika ku lihat sebuah ikan patin yang dijadikan asam pedas tersuguh didepanku.

Makanlah ye, sedap ni. Ni namenye asam pedas tempoyak. Pastilah tau kan? Mak awak kan orang Melayu” Istri Pak Jalil menjamu kami dengan senyumnya. 

Tempoyak, Bu? aku memandang ke salah satu menu melayu-seafood favoritku namun dengan bau yang agak menyengat.

Aira tak suke makan ini, Kak. Waktu kecil pernah dimuntahkan die jawab ibu sambil melirik kearahku yang bingung. 

Tempoyak ni durian, Ra. Tapi lah difermentasikan, Nedah menanggapi pertanyaanku yang belum dijawab oleh ibunya. Ya, disitu ada Nedah.  Ternyata baru kusadari bahwa Nedah adalah suku laut. Wajar saja jika tubuh dan aromanya seperti itu. 

Dikasih ragi juga? Seperti buat tapai?

Tidak, Ra. Cukup diperam ke wadah. Tutup atas wadah tu dengan plastik dan ikat plastiknya. Lah, Tunggulah sampai beberapa hari

Oh, gitu. Lebih sederhana pulak, ye

Iyelah. Makanan khas awak tu sedap dibuat, sedap dihentam 

        Tawa mengiringi makan siang waktu itu bersama keluarga Pak Jalil yang sangat totok dengan Bahasa Melayunya. Tak terasa, pembukaan hariku dibekawan dipenuhi dengan rasa senang yang bergejolak. Aku tak sabar menanti kejutan-kejutan yang tersimpan di desa kecil ini. Dan aksen pertamaku kepada Nedah hilang.

      Angin laut yang berhembus di beranda rumah Pak Jalil sangat memanjakan kami. Rasanya aku tak ingin beranjak. Walau hanya beranda dari papan beralaskan tikar pandan, tak mengurangi nikmatnya cuaca cerah siang hari itu. 

Aira! Nedah memanggilku saat aku sedang memejamkan mata menikmati sejuknya hari itu.
 
Besok kau kuajak nengok orang Suku Laut mencari kerang. Nak tak? tanya Nedah kepadaku. 

Mau mau! Daripada besok, gimana kalau sekarang aja? jawabku spontan. 

Ee.. kini mane ade orang cari kerang

Kenapa?

Sekarang ni air lagi pasang. Mereka mencari kerang pas air surut

Kalau air surut berarti berlumpur, kan? Gimana carinya?

Kau tunggulah besok, ye! 

    Aku hanya dapat menganggukkan kepalaku tanda mengerti dengan senyum Nedah yang penuh misteri. Terlepas dari aksen burukku kepadanya pertama kali, kami sangat bersemangat untuk bertukar cerita.  

     Malam harinya mataku susah untuk terpejam. Di kepalaku ini hanya terlintas fikiran bagaimana cara orang Suku Laut mencari kerang di waktu air surut. Bagaimana mereka melangkah di atas lumpur. Tak kubayangkan betapa sulitnya mereka untuk mendapatkan kerang.

     Surut dari pasang besar di Kuala Indragiri pagi itu berkelebat cepat. Di seberang jalan tempatku berdiri, ibu-ibu sudah turun ke sungai untuk mencuci. Penduduk di Bekawan mulai sibuk dengan kebiasaannya sehari hari. 

***
        Setelah sarapan, kami duduk di beranda rumah. Kembali bercerita kecil dengan tawa yang tak jarang terdengar. Penduduk hilir mudik berjalan di atas jerambah. Tiba-tiba Nedah melambaikan tangannya sambil memanggil seseorang. 

Nawi Nawi. Nak kemane ngkau? Tanya Nedah.

Nak ke ujung, jawab Nawi yang saat itu membawa keranjangnya.

Ke sini sebentar, ada saudaraku datang dari Tembilahan, ajak Nedah. 

        Nawi mendatangi kami dan duduk bersama kami. Setelah melalui perkenalan singkat, baru kuketahui jika ia adalah teman Nedah di sekolah dan anak dari seorang nelayan Suku Laut. Sama seperti Nedah, hitam dan bau matahari.

Kau tak ikut bapakmu mencari kerang? tanya Nedah kepada Nawi.

Tidak. Badanku kurang sehat, jawabnya.

Nak ngajak kami ke pantai? Kami nak nengok orang mencari kerang Wi 

Iyelah, orang lah siap-siap hendak melaut tu

         Kamipun berjalan menyusuri jerambah menuju pantai. Sesampainya di pantai, kulihat pantai yang indah seketika menjadi bentangan lumpur. Aku melihat banyak orang meluncur di atas lumpur. Rasa penasaranpun menyelinap ke dalam sanubariku. 

Nawi, apa mereka bermain Sky? Sebab cara mereka sama dengan cara orang bermain sky

Oh, itu namanya sky lumpur jawab Nawi sambil tersenyum.

Wah hebat ya. Ada sky di air, di salju. Ternyata di lumpur pun juga ada, gumamku sambil berdecak kagum.

Nah, macam tu lah cara suku kami mencari kerang di atas lumpur sambung Nedah.

Bisa kalian jelaskan kepadaku bagaimana orang-orang mencari kerang? pintaku.

Baiklah, tapi kita duduk d iujung sana sambil memerhatikan mereka Nawi menunjuk ke tempat yang teduh di bawah pohon kelapa yang sedang berbuah ranum.

Baik jawabku. Kami duduk di sebuah batu-batuan yang terdapat di tempat yang cukup teduh. 

Sekarang, aku terangkan cara Suku Laut mencari kerang ujar Nawi dengan lantang. 

Apabila air lah surut, kami sekeluarga turun ke pantai untuk mencari kerang dengan berkelompok-kelompok

Berkelompok-kelompok? Maksudnya? tanyaku.

Iya, kami saling berbagi tempat. Ada yang di sini, di sana dan di situ hingga ujung sana. Jadi, tak di satu tempat aje. Semua yang ada di rumah pun ikut melaut

Itu yang disebut Nawi sky lumpur tadi namanya adalah papan tongkah, Ra Seru Nedah yang diikuti oleh gumamanku sambil memerhatikan ke orang-orang yang dengan mudahnya melajukan papannya di atas lumpur.

Nah, dengan papan tongkah tu lah, kami meluncur macam main selancar, sambung Nawi.

Kami pindah dari satu tempat ke tempat lain sambil berdendang lagu khas suku kami yang isinya syair-syair. Di punggung kami, tergantung tengkalang untuk memungut kerang

Apa itu telentang ? tanyaku lagi.

Bukan telentang tapi tengkalang. Itu keranjang dari daun nipah yang dibuat sendiri untuk menampung kerang. Ha, lah penuh tengkalang tu, kami letak ke perahu. Begitulah seterusnya

Sebentar dulu, Wi, celetukku. Bagaimana cara menjalankan papan tongkah itu di atas lumpur ?

Kurang lebihlah dengan cara orang bermain sky. Dua tangan dan sebelah kaki yang nak naik ke tongkah itu bertopang di papan tongkah. Macam orang yang bersiap untuk lomba larilah bentuknye. Lepas tu, sebelah kaki lagi berganti-ganti berkayuh di atas lumpur

Tapi ingat, kalau kurang waspade, kita bise jatuh. Badan kita akan terbenam di dalam bancah, sambung Nedah.

Nah, apalagi itu Bancah?

Bancah itu sama dengan lumpur

Nah, begitulah caranya orang suku laut menongkah, Ra jawab Nawi

Oh, begitu, aku mulai mengerti dengan semua penjelasan panjang dari Nawi dan Nedah yang berkolaborasi. 

Lah dulu ye, Ra, Dah. Aku nak bantu bapak aku. Nampaknye  bapak lah siap menongkah ujar Nawi.

Iya, Wi. Terima kasih ya, Wi atas ilmunya tuturku.

Nawipun meninggalkan kami dengan hembusan angin yang menerpa ubun-ubun. Senyumku mengembang. Aku puas dengan liburanku. 

Kalau begini aku jadi malu sendiri, Nedah, aku tersenyum dalam keindahan panorama unik di hadapanku.

Kenapa begitu, Ra? Nedah mengerutkan keningnya. 

Aku sudah berprasangka buruk kepadamu. Pertama kali aku melihatmu, aku sungguh tidak menyukaimu. Tapi aku sangat menyesal, ya ternyata karenamulah aku bisa makan makanan kesukaanku. Maaf ya Nedah, aku sudah seperti itu 

Sudahlah, itu hal yang biasa dan paling biasa kami terima sebagai orang suku laut yang berkulit hitam dan sehari-hari hanya bermain bersama matahari 

Sayang sekali, Dah. Tugas ibu di sini dah selesai. Jadi, besok kami kembali ke Tembilahan jawabku. Raut kecewa Nedah terpancar dengan jelasnya. 

Janganlah sedih gitu. Insya Allah aku ke sini lagi nanti. Mungkin nanti, waktu aku jadi bupati Inhil ataupun jadi istri bupati Inhil,” tawa Nedah mengikuti angan-anganku.

Bekawan memberiku bingkisan yang tak ternilai harganya. Aku terperanjat menyadari atas kesalahanku untuk membuat hipotesis yang tidak berguna. Nedah memang hitam legam dengan bau masam, namun karenanyalah aku dapat menikmati menu laut yang bergizi tinggi. ***

Biodata Penulis :
Ulfa Sari Ramadianti adalah siswi SMAN Plus Provinsi Riau

Untuk pemuatan karya sastra (Puisi, Cerpen, Esai, Pantun, Kritik, Resensi, Peristiwa Budaya, dan tulisan sastra lainnya) silakan dikirim melalui surel:
redaksi.tirastimes@gmail.com

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan