Puisi Husnu Abadi Tentang Hagia Sophia

PUISI HUSNU ABADI TENTANG HAGIA SOPHIA


Husnu Abadi

MENETES AIR MATAKU DI SELAT BOSPHORUS
/buat Dr. Syamsul Balda

Menetes air mataku di selat ini
Setengah abad yang lalu
Ketika aku anak-anak
Mengaji juz Amma di sebuah surau
Guru ngaji itu berkisah
Tentang seorang anak muda
Seorang sultan muda
Yang membaca sebuah hadist suci
Bahwa suatu masa barat akan hormat pada negeri timur

Menetes air mataku di selat ini
Berdiri di samping tembok benteng berlapis tiga
Setelah para sultan gagal berkali-kali
Untuk menyapa benteng Konstantinnopel
Namun
Akhirnya sampai juga
Sultan muda itu berjalan tawadhuk di jantung kota
Dengan strategi dan doa
Dengan taktik dan ikhtiar
Dengan persenjataan dan shalat malam

Menetes air mataku di selat ini
Mengingat engkau penuh seluruh
sang Sultan muda
Al Fatih namanya
Tahun 1453, kejadiannya
Kuremas makammu sebagai penanda kerinduan
Kerinduan akan masa silam
Sekaligus kerinduan akan lahirnya
Al Fatih di abad ini

Menetes air mataku di selat ini

Selat Bosphorus
April 2019-2020

Husnu Abadi

MUSEUM HAGIA SOPHIA
/buat peserta Quantum

Dulunya engkau adalah gereja yang agung
Dari sebuah kerajaan yang agung
Dari peradaban yang juga agung
Tempat ribuan doa dinyanyikan
Tempat ribuan kepala disucikan

Dulunya engkau berubah menjadi mesjid
Mesjid yang juga agung
Dipimpin oleh imam yang agung
Di bawah sultan yang agung dan rendah hati
Nyanyian berganti dengan shalawat
Kidung berganti dengan qiraah nan mempesona
Isinya puji-pujian dan doa keselamatan
Isinya kaligrafi dan hiasan kalimat suci

Akhirnya engkaupun berubah menjadi museum
Sampai kini
Sebuah museum yang juga agung
Agar umat manusia tanpa kecuali
Dapat menyaksikan dua peradaban dalam satu bangunan
Dapat juga bersatu dan berjabatan tangan
Dapat juga tersenyum dan saling mengucapkan salam
Tak henti-hentinya
Berziarah dan berziarah
Dari semua penjuru angin
Sambil membawa kerinduan
Akan kisah-kisah masa silam
Kisah yang kelam
Ataupun kisah yang gemilang

Dulunya engkau adalah sebuah gereja yang agung
Dulunya engkau berubah menjadi mesjid yang agung
Akhirnya engkau menjadi museum yang juga agung

Istambul Musim Panas
April 2019

Husnu Abadi

HAGIA SOPHIA PADA JUMAT 24 JULI 2020

Aku ingin menjadi saksi sejarah pada hari ini
Setelah puluhan tahun menunggu
Ketika situs ini menjadi tempat manusia bertemu muka
Dari seluruh penjuru dunia
Melihat jejak-jejak masa silam yang panjang
Antara perebutan wibawa dan peradaban
Yang sudah saatnya didamaikan

Aku ingin menjadi saksi sejarah hari ini
Kisah yang berliku-liku dari Hagia Sophia
Aku ingat tahun-tahun penting yang harus kucatat
537 tahun berdirinya gereja
menghadap pelabuhan Golden Horn
dan selat Bosphorus yang jelita
1453 tahun direbutnya oleh Al Fatih
Sultan Muda yang sederhana
dan penuh wibawa
1934 tahun berubahnya menjadi museum
ketika UNESCO menetapkannya sebagaai warisan dunia
dan ketika Mustafa Kemal, bapak bangsa, tengah berkuasa
2020 tahun kembalinya jejak-jejak Al Fatih
ketika pengadilan membatalkan keputusan 1934

Sejak lepas subuh gelombang manusia merayap
Menggelar ratusan sajadah panjang
Bagaikan kisah perjalanan pengembara
Yang berupaya mencari oase
Oase perdamaian

Sebuah karangan hunga yang ingin kusampaikan
Pada sang kepala negara, masih saja kubawa
Aku tak tahu pasti akankah bunga itu akan sampai pada nya

Aku ingin menjadi saksi sejarah pada Jumat ini
Ketika aku bisa bersujud di halamanmu
Berdesak-desakan dengan mereka yang juga
telah lama menyimpan kerinduan

Maka akupun berseru
Hagia Sophia
Hagia Sophia
Aku datang memenuhi rayuanmu

Akankah kau dengar, Hagia Sophia ?

Pekanbaru
Juli 2021

Biodata HUSNU ABADI
Adalah salah seorang deklarator Hari Puisi Indonesia, yang menyatakan HPI adalah 26 Juli. Pada 2015, menerima penghargaan Yayasan Sagang (ANUGERAH SAGANG) kategori Seniman/Budayawan Pilihan Sagang. Sebelumnya, 2014, menerima Z. Asikin Kusuma atmadja Award dari Perhimpunan Penulis Buku Hukum Indonesia (ketua Prof. Dr. Erman Raja gukguk S.H.), di Pascasarjana UI Jln. Salemba, Jakarta. Pada 2007, menerima penghargaan Seniman Budayawan Pilihan Lingkaran Seni Drama DuaTerbilang (LDT) Universitas Islam Riau. Lautan Zikir (UIR Press 2004), merupakan kumpulan puisi tunggalnya yang ketiga setelah Lautan Kabut ( UIR Press, 1998) dan Lautan Melaka (UIR Press, 2002), Lautan Rinduku, Taj Mahal (2020), sedangkan Di Bawah Matahari, 1981 dan Matahari Malam Matahari Siang, 1982, ditulisnya bersama Fakhrunnas MA Jabbar. Buku eseisastra: Ketika Riau, Aku Tak Mungkin Melupakanmu (UIR Press, 2004), serta Leksikon Sastra Riau(UIR Press-BKKI Riau, 2009) bersama M. Badri. Kini masih menjabat Ketua BKKI (Badan Kerjasama Kesenian Indonesia) Provinsi Riau
Dilahirkan di Majenang, 1950, dan sejak 1985 menjadi pensyarah pada Fakultas Hukum UIR dengan jabatan akademis terakhir Associated Professor bidang Hukum Tata Negara. Alamat: Jln. Kelapa Gading 20, Kel. Tangkerang Labuai, Pekanbaru-Riau. (E-mail :mhdhusnu@law.uir.ac.id dan HP 0812 753 7054).

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan