Puisi-puisi Fakhrunnas MA Jabbar

Wanita Melakukan Pemotretan Dengan Kostum Peri

Setangkai Mawar Yang Tumbuh
Di Ladang Mimpi

siapa tahu, ladang mimpi ini menyimpan ribuan cerita
di jalan panjang terbentang di antara kita
jalan tak bertuju
ribuan burung biru menangkap angin di udara
musim berubah tanpa kehendak kita

tiba-tiba, setangkai ros molek di pusaran lading mimpi
di kegelapan malam tanpa cahaya bulan
segala alam bernyanyi
segala dedaunan berguncang
segala hati berbunyi

siapa tahu, ladang mimpi ini menyimpan ribuan cerita
di jalan panjang di antara kita
jejalan tertutup tanpa tanda
hanya ada kau dan aku di kegelapan malam
kita menghitung waktu mundur perlahan
sedang mawar itu mengembang
sekarang tumbuh di hatiku

pekanbaru, 2003


Jembatan Selat Melaka


Di Hari Kemerdekaan Tahun Tiba
akhirnya jembatan megah itu kulintasi sendiri
di tapal batas pada hari kemerdekaan tahun tiba kukibar merah-putih pagi-pagi
kudengar proklamasi kembali
deru mobii dan lalu lalang sesiapa tak kuhirau lagi
kutatap semenanjung melaka dan pantai rupat yang samar sungguh tak beda lagi : kerlip lampu dan suar berlompatan dari kondominium, gedung pencakar langit dan cerobong asap langit menumpahkan ozon di kota-kota
hampir tak kulihat hijau rimba dan desa-desa penuh KUD dan dana IDT segalanya menyuarakan silam
segalanya berubah bagai mimpi para pesulap
di rupat kini, betapa sulit cari lahan buat pabrik kecap
sebab tak ada lagi orang berjanji atas nama kesejahteraan
segala tanah di sini jadi gedung bertingkat, rimba beton, besi angker dan julang antena
sayur pun didatangkan dari melaka pakai bmw dan mercy jalan sore-sore ke melaka sekadar cari minuman aqua truk-truk angkutan minyak sawit berbalik arah kini
rupat amat perlu buat bahan baku kosmetika
anak dara akit dan sakai pakai lipstik produk negeri sendiri bernyanyi-nyanyi ria di atas sedan bak terbuka
setelah seabad lupa liriknya
“sorak-sorak bergembira … bergembira semua sudah bebas negeri kita .. indonesia merdeka”
orang-orang melaka bertamu pagi pulang petang persaudaraan melayu jadi hapalan anak-anak belia mereka berbincang tak lagi di warung runcit yang sepi
tapi di kafe ‘planet rupat’ mencicipi hamburger dan pizza dari ubi manggalo
orang-orang sakai malu bertelanjang dada
tulang rusuk mereka tersaput kismis dan mentega tanah-tanah ulayat dan rimba di mandau telah kembali ke pangkuan merek

tak ada jalan tanah melintasi pemukiman
baju kulit kayu dan keranjang rotan bergelayutan di rumah
sejarah mencatat segala resam
mereka tak takut lagi depresiasi mata uang
sebab deposito mereka tersimpan dalam dolar amerika dan berbunga-bunga
di jembatan selat melaka ini di hari kemerdekaan tahun tiba kudengar debar jiwa mereka
pb. 9706

Rimba Beton


aku pun tersuruk di rimba-rimba beton terpuruk pada malam tak tahu bulan di mana cahaya lampu berlompatan dari kamar hotel desing mesin berhamburan dari ruang pabrik
ratap tangis pun berjatuhan dari rumah-rumah susun
sedang aku terkantuk sendirian saat jam kantor berkepanjangan mematahkan detik jam lalu-lalang bagai arus tak diam lewat lidah dan kelu tenggorokan terjejas di sela rimba-rimba beton
sungguh
aku kian terkepung di hiruk-pikuk beton
di negeri yang terasa kian asing
di malam tanpa bulan


singapura, 9306

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan