Puisi-puisi Husnu Abadi : Ketika Sampan Itu Akan Berlayar

KETIKA SAMPAN ITU AKAN BERLAYAR

Ketika aku sampai
di ujung pelabuhan
Kutengok sekali lagi ke depan
Akankah sampan Ramadhan
kan berlayar juga

Akupun melambaikan
Namun airmata ini
tak tertahan juga
Biarkanlah sampan itu berlayar
ke tengah lautan
Namun taklah untuk selamanya

Ketika aku sampai
di ujung pelabuhan
Akupun penuh bimbang
Masihkah ada kesempatan
untuk mengulang-ulang
Menjemput sampan itu ketika datang

Akankah di tahun depan
aku kan sampai
menjemputnya di pelabuhan ?

masih adakah kesempatan

Kampus Ramadhan 2018

TAMU YANG TERAKHIR

Ketika engkau datang mendadak tadi malam
Kukira engkau masih saja bercanda seperti biasanya
Engkau selalu mampir dalam perjalanan senja
Sementara aku telah terperangkap dalam kerajaanmu

Engkau mengetuk pintu tujuh kali ketukan
Tidak seperti biasanya
Aku mendengar ada pembicaraan panjang di depan pintu
Namun tidak jelas isinya
Apakah hal itu sebuah perselingkuhan ataupun perayuan
Dan Engkau tidak jadi masuk menjemputku kali ini

Kedah/Pekanbaru, 2013/2016

BUNGA MAWAR DALAM RUMAH

Dalam perjalanan panjang
Aku singgah di sini
Di rumah ini
Rumah yang darinya
Kehidupan ini harus disempurnakan

Ada bunga mawar dalam rumahku
Dan bunga mawar itu penuh duri-duri
Maka biarkanlah ia hidup dan tetap berduri
Karena semakin ia berduri
Bunga itu semakin harum adanya

Perjalananku memang melelahkan
Mendaki bukit ataupun menuruni lembah
Melayari badai ataupun menghirup senja
Namun bunga mawar tetaplah bunga mawar
Yang harum, yang selalu menebar senyum

Rumahku di Bengkulu
Biarlah bunga ini mengabarkan cintanya
Kemanamana
Dan tak pernah redup
Oleh musim hujan ataupun kemarau

Kalaulah kini, rumahku berjarak darimu
Tapi itu tidak pada cintaku
Cintaku tak berjarak
Cintaku takkan retak

Dari Rumahku, Bengkulu
Akupun menyempurnakan pengembaraan
Walaupun aku juga semakin merasa
Semakin berjarak dari kesempurnaan

Maafkan

2018

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan